Pekerja pelabuhan menerobos banjir rob di dalam Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/5/2022). | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

10 Jun 2022, 03:45 WIB

Bencana, Utang, dan Pertumbuhan Ekonomi

Dampak kesehatan dan ekonomi dari pandemi Covid-19 masih melanda dunia.

ASWIN RIVAI; Dosen dan Kepala Pusat Studi Ekonomi Keuangan Dan Perbankan UPN Veteran Jakarta

Dampak kesehatan dan ekonomi dari pandemi Covid-19 masih melanda dunia. Jika mengatasi pandemi seperti berperang, merujuk pernyataan Krugman, apa implikasi ‘’perang’’ ini terhadap utang dan pertumbuhan di negara berkembang?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diperiksa utang dan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang sebelum, selama, dan setelah timbulnya tiga jenis bencana yaitu bencana alam, konflik, dan tekanan utang luar negeri.

Pandemi Covid-19 memiliki banyak ciri yang sama dengan bencana alam besar dalam cara mendasar yang relevan untuk memahami bagaimana utang publik dan pertumbuhan ekonomi berkembang di sekitar peristiwa ini.

Baik pandemi maupun bencana alam merupakan kejadian langka dan tak terduga, setidaknya pada waktunya. Keduanya, tidak secara langsung disebabkan kebijakan ekonomi dan mengakibatkan kontraksi ekonomi karena terganggunya kehidupan sehari-hari masyarakat.

 
Pandemi Covid-19 memiliki banyak ciri yang sama dengan bencana alam besar dalam cara mendasar yang relevan untuk memahami bagaimana utang publik dan pertumbuhan ekonomi berkembang di sekitar peristiwa ini.
 
 

Namun, ada perbedaan di antara keduanya. Bencana alam umumnya bersifat lokal, pandemi bersifat global. Selain itu, jenis bencana alam tertentu seperti gempa bumi, berumur pendek, sementara durasi pandemi masih belum pasti.

Namun, perbedaan ini tak menghilangkan kemampuan kita menganalisis pertumbuhan dan dinamika utang.

Pandemi dan bencana alam, memiliki efek merugikan pertumbuhan selama tahap darurat, menekan penawaran dan permintaan, dan membutuhkan sumber daya besar untuk mengurangi konsekuensi negatif bagi kegiatan ekonomi selama dan segera setelah krisis.

Di negara berkembang, utang publik cenderung meningkat untuk mendukung pemulihan ekonomi selama dan setelah bencana alam besar. Tiga tahun setelah bencana alam besar, pertumbuhan utang publik lebih tinggi daripada di negara yang tak mengalami bencana.

 
Di negara berkembang, utang publik cenderung meningkat untuk mendukung pemulihan ekonomi selama dan setelah bencana alam besar. 
 
 

Perkiraan Bank Dunia, rata-rata utang publik tumbuh 2,3 hingga 3,6 persen lebih tinggi selama tiga tahun setelah bencana dibandingkan ekonomi yang tidak terpengaruh.

Pertumbuhan PDB riil runtuh pada tahun bencana alam sekitar 1,3 persen relatif terhadap ekonomi yang tak terpengaruh. Namun, selama tiga tahun pascabencana, pertumbuhan ekonomi sekitar satu persen lebih tinggi di negara yang pulih dari bencana daripada di negara lain.

Temuan ini memberikan keteraturan empiris penting, utang publik naik setelah bencana dan kemungkinan meningkat setelah pandemi ini untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Temuan ini, berdasarkan data masa lalu, mendukung alasan untuk meningkatkan utang publik selama pandemi dan konsisten dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi saat pandemi mereda.

Konflik bersenjata

Ada beberapa cara konflik merugikan ekonomi yaitu menghancurkan modal fisik dan manusia, mengganggu dinamika sosial, negara mengalihkan dana publik dari kegiatan meningkatkan output dan penghematan, yang  mengarah pada kemerosotan ekonomi.

 
Hasil penelitian menemukan, evolusi utang dan pertumbuhan berbeda di sekitar konflik bersenjata. 
 
 

Hasil penelitian menemukan, evolusi utang dan pertumbuhan berbeda di sekitar konflik bersenjata. Utang publik cenderung naik bahkan sebelum konflik bersenjata dan terus meningkat setelah dimulai. Pertumbuhan ekonomi tidak meningkat setelah konflik.

Ini menunjukkan, pengeluaran pemerintah selama konflik mungkin tak digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kesulitan utang

Negara berkembang berutang tinggi tumbuh lebih rendah sebelum timbulnya episode kesulitan utang. Ini merupakan episode dengan restrukturisasi utang luar negeri.

Restrukturisasi utang adalah proses suatu negara yang kesulitan keuangan dan masalah likuiditas membiayai kembali kewajiban utang luar negerinya untuk mendapatkan lebih banyak fleksibilitas jangka pendek dan membuat beban utangnya lebih mudah dikelola.

 
Negara berkembang berutang tinggi tumbuh lebih rendah sebelum timbulnya episode kesulitan utang. Ini merupakan episode dengan restrukturisasi utang luar negeri.
 
 

Hasil penelitian menunjukkan, restrukturisasi mahal dalam hal pertumbuhan output. Selain itu, pertumbuhan utang luar negeri satu dan dua tahun setelah restrukturisasi lebih rendah daripada negara yang tak melakukan restrukturisasi sebesar 14 hingga 26 persen.

Ditemukan jalur berbeda dari rasio utang terhadap PDB, tergantung sifat bencana. Perang menyebabkan rasio utang meningkat paling tinggi. Rasio meningkat lebih moderat untuk bencana alam karena pertumbuhan output meningkat setelah bencana.

Meskipun rasio utang cenderung lebih tinggi di  negara yang memasuki episode restrukturisasi sebelum episode dimulai, rasio itu turun tajam setelahnya karena negara merestrukturisasi utang luar negerinya atau kekurangan akses ke utang luar negeri baru.

Mengingat kesamaan bencana alam dan pandemi Covid-19, kita harap pertumbuhan ekonomi meningkat saat pandemi berkurang. Namun, sebagian besar negara berkembang akan dibebani peningkatan utang jangka panjang relatif terhadap produk domestik bruto .

Semoga, memerangi dampak ekonomi dari Covid-19 serupa dengan rekonstruksi setelah bencana alam daripada berperang. Namun, jika peningkatan beban utang menyebabkan tekanan utang, situasinya lebih menantang, seperti yang kita lihat dalam ekonomi konflik.


×