Warga menerobos banjir yang menggenangi jalan di Kenali Asam Bawah, Jambi, Selasa (24/5/2022). Sejumlah rumah di beberapa kecamatan di kota itu terendam banjir hingga setinggi paha orang dewasa setelah diguyur hujan lebat selama lebih dari 3 jam. | ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Nasional

27 May 2022, 03:45 WIB

Jokowi Klaim Berhasil Tekan Bencana Alam

PBB minta dunia melakukan langkah cepat untuk atasi risiko bencana.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengeklaim, Indonesia telah berhasil menurunkan kebakaran hutan dan lahan. Indonesia, kata dia, berhasil menurunkan bencana kebakaran hutan dari 2,6 juta hektare menjadi 358 ribu hektare di 2021.

Jokowi menyampaikan hal ini dalam acara pembukaan the 7th Global Platform for Disaster Risk Reduction 2022 di Bali, Rabu (25/5). “Dengan berbagai upaya, kebakaran hutan dan lahan bisa ditekan seminim mungkin. Dan tahun 2021, Indonesia telah berhasil merestorasi lahan gambut seluas 3,4 juta hektare, menjaga dan meretavilitasi hutan mangrove yang luasnya lebih dari 20 persen total area mangrove dunia sekitar 3,3 juta hektare,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, kebakaran hutan dan lahan ini menjadi ancaman bagi Indonesia. Bahkan Indonesia pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan yang terbesar pada 1997-1998 dan menghanguskan lebih dari 10 juta hektare lahan.

Selain kebakaran hutan dan lahan, Indonesia juga menghadapi berbagai potensi dan risiko bencana lainnya. Pada 2022 per 23 Mei, Jokowi menyebut telah terjadi bencana sebanyak 1.613 dan rata-rata dalam sebulan terjadi 500 kali gempa skala kecil maupun besar.

Gempa besar disertai tsunami terakhir yang terbesar terjadi di Palu pada 2018 dan menyebabkan 2.113 orang meninggal. Indonesia juga mempunyai 139 gunung api aktif yang juga mengancam masyarakat. Sepanjang 2015 hingga 2021, tercatat terjadi 121 letusan gunung berapi di Indonesia.

Tak hanya itu, pandemi Covid-19 yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini juga merupakan bencana terbesar di dunia. Pandemi ini menginfeksi 527 juta orang, menyebabkan korban jiwa sebanyak 6,3 juta orang dan menyebabkan 7,5 juta anak kehilangan orang tua.

Dengan populasi yang mencapai 270 juta orang, Jokowi menyampaikan Indonesia telah menyuntikkan 411 juta dosis vaksin. Selain itu, kasus harian Covid-19 juga tercatat menurun tajam dari 64 ribu saat puncak kasus menjadi 345 kasus harian per Selasa (24/5) lalu.

Jokowi juga mendorong dunia untuk memperkuat budaya dan kelembagaan siaga bencana yang antisipatif, responsif, dan adaptif dalam menghadapi bencana. “Pendidikan aman bencana, serta kelembagaan pemerintahan dan sosial yang sinergis dan tanggap terhadap bencana harus menjadi prioritas kita bersama,” kata Jokowi.

photo
Tim SAR Gabungan menyusuri jalan yang terendam banjir saat mengevakuasi keluarga korban banjir di Jelutung, Jambi, Selasa (24/5/2022) malam. Ratusan rumah di sejumlah kecamatan terendam banjir hingga setinggi satu meter lebih, sementara belasan jiwa terpaksa dievakuasi ke tempat yang lebih aman setelah kota itu dilanda hujan lebat hingga tiga jam lebih. - ( ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK) Muhadjir Effendy memaparkan, Indonesia memiliki kearifan lokal di bidang penanggulangan bencana yang sangat kaya. Salah satunya Bali yang memiliki filosofi Tria Hita Karana.

"Bali memiliki filosofi Tri Hita Karana atau keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan dengan alam," kata Muhadjir, Kamis (26/5).

Bagi Indonesia sendiri Forum GPDRR ini memiliki arti penting dalam membantu proses pemulihan sosial-ekonomi di Indonesia serta meningkatkan kembali kewaspadaan publik domestik mengenai pentingnya pengurangan risiko bencana. "Untuk itu, melalui forum ini Indonesia mengajak para pemimpin dunia bekerja sama dalam mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim dan pandemi," kata dia.

Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr Indra Permanajati mengatakan penyelenggaraan GPDRR 2022 merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat program mitigasi bencana. "Ini juga momentum untuk menunjukkan langkah Indonesia dalam pencegahan bencana," kata Indra, Kamis.

Koordinator bidang bencana geologi Pusat Mitigasi Unsoed tersebut menambahkan, langkah pasti Indonesia dalam pencegahan bencana bisa menjadi topik bersama dalam GPDRR. Program mitigasi Indonesia bisa menjadi model baik di tanah air maupun di tingkat global. Hal ini mengingat GPDRR merupakan pertemuan untuk berbagi pengalaman tentang kebencanaan.

Menurut Indra, pelaksanaan GPDRR sangat menarik mengingat masing-masing negara akan mengemukakan pengalamannya mulai dari upaya mengatasi bencana hingga tahap pemulihan bahkan tahap rehabilitasi.

"Dari berbagai diskusi tersebut tentunya akan menghasilkan semacam kesimpulan yang berbasis pengalaman, penelitian, simulasi bahkan validasi terhadap kasus bencana di dunia," kata dia.

Langkah penting

Deputi Sekretaris Jenderal PBB Amina J Mohammed mendorong pemerintah negara-negara di dunia untuk melakukan langkah-langkah mendesak dan dalam skala besar mengatasi peningkatan risiko bencana.

Selama tiga hari ke depan, GPDRR memiliki kesempatan unik untuk mempertimbangkan opsi kebijakan terbaik untuk beralih dari risiko ke ketahanan, dan untuk mengambil langkah-langkah penting untuk memastikan pemulihan guna menempatkan diri kita kembali ke jalur untuk masa depan yang aman dan berkelanjutan.

photo
Wakil Sekretaris Jenderal PBB Amina J Mohammed memberikan keterangan pers seusai pembukaan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Nusa Dua, Bali, Rabu (25/5/2022). - (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Dia mendesak adanya koherensi yang lebih besar dalam menangani kerentanan masyarakat sebelum, selama, dan setelah krisis pandemi dan bencana yang terjadi secara tumpang tindih. "Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan 17 tujuannya telah menyediakan kerangka yang komprehensif untuk upaya menangani kerentanan masyarakat dan mengurangi risiko bencana," kata Amina, Kamis.

Selain itu, menurut Amina, pemerintah negara-negara perlu berinvestasi dalam kemampuan pendataan yang lebih kuat untuk memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang tertinggal. Hal itu termasuk mengembangkan analisis risiko bersama dan berinvestasi dalam koordinasi dan infrastruktur data yang memungkinkan negara-negara berbagi pengetahuan.

Sumber : Antara


×