Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

30 Apr 2022, 08:34 WIB

Jadilah Pribadi Dermawan

Allah SWT menegaskan bahwa apa yang seorang hamba bagikan sebenarnya itu untuk dirinya sendiri

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Dalam surah Saba’ ayat 39, Allah SWT berfirman: “Wa maa anfaqtum min syaiin fahuwa yukhilfuhu” (Apa saja yang kamu infakkan, pasti Allah SWT akan menggantinya).

Artinya, tidak ada infak yang mengurangi harta. Kata “infak” dari kata “nafaq” artinya terowogan. Bahwa penghasilan yang baik adalah yang dibuat dengan sistem terowongan, masuk dari satu lubang dan keluar dari lubang yang lain sehingga harta menjadi bersih. 

Ibarat air yang mengalir, maka ia akan bening. Sebaliknya, air yang tergenang akan menjadi sarang penyakit. 

Demikian juga harta yang terdiam, ia tidak hanya rusak, tetapi juga merusak jiwa. Rumah yang tidak digunakan akan hancur. Kendaraan yang didiamkan sekian lama akan rusak. Sebaliknya, rumah dan kendaraan yang dimanfaatkan akan menjadi berkah.

Di antara pelajaran penting pada Ramadahan adalah membangun pribadi dermawan. Nabi SAW mencontohkan dengan cara berbagi tanpa merasa takut miskin: “Yu’thi ‘athaa man laa yakhsyal faqr” (HR Muslim).

Dalam hadis lain dikatakan “Ajwad bil khiari minar riihil musraslah” (Lebih dari pada angin mengalir dalam menebarkan kebaikan) (HR Bukhari Muslim).

Benar apa yang Nabi contohkan bahwa tidak mungkin sedekah menyebabkan kemiskinan: “Maa naqashat sdaqatan min maalin” (HR Muslim). Allah SWT mengumpamakan harta yang kita bagikan seperti sebuah biji yang ditanam, lalu tumbuh menjadi tujuh tangkai, masing-masing tangkai memunculkan seratus biji. 

Total semua menjadi tujuh ratus biji. Ini jaminan dari Allah SWT Yang Mahaluas dan Maha Mengetahui: “Innalhha waa si’un ‘aliim.” (QS al-Baqarah ayat 261) 

Bukan hanya itu, Allah SWT menegaskan bahwa apa yang seorang hamba bagikan sebenarnya itu untuk dirinya sendiri: “Wa ma tunfiquu min khairin fa lianfusikum.” (QS al-Baqarah ayat 272).

Misalnya kita membangun masjid, maka itu sebenarnya membangun rumah kita sendiri di surga. Karena itu, tidak perlu khawatir apa yang kita sedekahkan itu hilang. Sebab, sekecil apa pun itu diketahui oleh Allah SWT dan ada hitungannya: “Wa maa tunfiquu min khairin fa innallaha bihii ‘aliim” (QS al-Baqarah: 273).

Tidak harus menunggu kaya untuk bersedekah. Nabi menganjurkan agar tetap bersedekah sekalipun hanya dengan separuh kurma: “Ittaqunnaari walu bisyaqqi tamr” (HR Bukhari-Muslim). Nabi sendiri belum pernah menolak untuk berbagi: “Maa suila rasulullahi syaia qattu fa qaala laa” (HR Bukhari Muslim). 

Abu Hurairah menceritakan dari Nabi bahwa sedekah yang diberikan pasti diganti: “Anfiq ya ibna aadam yunfaq alaika” (Berinfaklah wahai anak Adam, itu pasti diganti) (HR Bukhari Muslim).

Setiap hari, ada dua malaikat yang tugasnya berdoa: satunya mendokan siapa yang berinfak agar diganti, dan satunya mendoakan siapa yang pelit agar hartanya dibinasakan (HR Bukhari Muslim).


Lelaki Buta yang Mencintai Rasulullah SAW

Meski tidak dianugerahi penglihatan, Ibnu Ummi Maktum mendapat keistimewaan berupa kecintaan terhadap agama meski nyawa taruhannya.

SELENGKAPNYA

Paradoks Dunia Antroposen

Manusia di dunia antroposen adalah titik sentral dari relasi alam dan lingkungannya.

SELENGKAPNYA

Bergembira pada Hari Fitri dengan Sederhana

Kegembiraan menyambut Idul Fitri sebaiknya dilakukan dengan terukur dan dengan norma-norma yang ada.

SELENGKAPNYA
×