Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

30 Apr 2022, 03:45 WIB

Catatan Mudik Kali Ini

Penyelenggara angkutan umum, baik darat, laut, atau udara, wajib menegakkan protokol kesehatan di kendaraan.

OLEH ASMA NADIA

Dengan Lebaran di depan mata, maka genap tiga kali hari raya berlalu di tengah pandemi. Menjelang perayaan besar umat Islam itu, agenda pulang kampung menjadi fenomena khas. Mudik Lebaran di tengah pandemi masih terasa seperti pisau bermata dua.

Di satu sisi, ia momen yang ditunggu-tunggu masyarakat kita setelah dua tahun berturut-turut tidak bisa menjenguk keluarga di kampung halaman. Di sisi lain, terdapat risiko meningkatnya penyebaran virus akibat mobilitas massal.

Kita mungkin masih ingat bagaimana Covid-19 mulai menyebar, bahkan lalu mendunia setelah perayaan imlek di Cina. Ratusan juta rakyat di Cina daratan melakukan mobilisasi massal secara serempak menuju kampung halaman atau bertamasya memanfaatkan liburan.

Tak berselang lama, virus menyebar dan dengan cepat, mengganas ke  seantero Negeri Tirai Bambu, lalu merambah ke negara lain. Beritanya menghiasi berbagai media. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus selalu meningkat setelah liburan panjang.

 
Dengan fakta di atas, tidak berlebihan jika masyarakat selalu perlu diingatkan kembali bahwa mudik merupakan sebuah tantangan, khususnya bagi kaum Muslimin saat ini. Sebuah ujian yang menuntut pembuktian.
 
 

Usai Natal dan tahun baru, misalnya, pun usai Lebaran. Sebab, sekalipun sebelumnya mudik dilarang, tetap saja banyak yang bergerilya untuk bisa menjejak kampung halaman.

Dengan fakta di atas, tidak berlebihan jika masyarakat selalu perlu diingatkan kembali bahwa mudik merupakan sebuah  tantangan, khususnya bagi kaum Muslimin saat ini. Sebuah ujian yang menuntut pembuktian.

Dan bukti yang dimaksud, tidak bertambah tingginya angka penderita Covid-19 setelah hari raya. Pemerintah sudah menjalankan tugas. Pemudik harus melakukan booster, vaksinasi ketiga, atau membuktikan diri tidak sedang terjangkiti virus melalui tes antigen sebelum memulai perjalanan.

Setidaknya, upaya ini memberi perlindungan lebih bagi para pemudik dan juga keluarga yang didatangi. Namun, ini saja belum cukup. Butuh lebih banyak usaha agar agenda pulang kampung tidak memperparah pandemi yang sudah lebih terkendali saat ini.

Penyelenggara angkutan umum, baik darat, laut, atau udara, wajib menegakkan protokol kesehatan di kendaraan. Sejauh ini, angkutan yang dioperasikan oleh operator besar, terlihat cukup mampu menjaga.

 
Penyelenggara angkutan umum, baik darat, laut, atau udara, wajib menegakkan protokol kesehatan di kendaraan.
 
 

Namun sayangnya, kendaraan sewa dan dari travel kecil yang penumpangnya duduk berdekatan, sepertinya kelangsungan prokes seolah lebih banyak tergantung penumpang. Seberapa tegas mereka akan menjaga diri selama perjalanan?

Ini hal lain yang harus menjadi perhatian pemerintah dan aparat agar tidak terjadi lonjakan kasus di berbagai daerah. Pada akhirnya yang terpenting di antara semua adalah kesadaran setiap pemudik untuk menjaga keselamatan.

Pertama, setiap pemudik harus menyadari, pandemi belum berakhir dan masih terdapat potensi terpapar jika berada bersama banyak orang melalui perjalanan yang cukup jauh dengan waktu tempuh lama.

Jika moda tranportasi yang digunakan mengabaikan prokes, setidaknya, dengan pertahanan kesadaran individu masing-masing pemudik, semoga penyebaran virus bisa dikurangi.

Kedua, pemudik membekali diri dengan cairan pembersih dan cadangan masker yang cukup untuk diganti berkala setiap empat jam, vitamin juga suplemen yang meningkatkan imunitas tubuh, serta obat-obatan untuk berjaga-jaga.

Kelengkapan yang dulu tidak menjadi kewajiban ketika mudik kali ini harus selalu tersedia.

 
Jika moda tranportasi yang digunakan mengabaikan prokes, setidaknya, dengan pertahanan kesadaran individu masing-masing pemudik, semoga penyebaran virus bisa dikurangi.
 
 

Ketiga, pada banyak kesempatan di perjalanan, sangat mungkin prokes terabaikan. Duduk berdesakan di kendaraan kecil tentu bukan perkara ideal. Maka, masker menjadi satu-satunya pelindung bagi penumpang.

Syukurlah, dibandingkan awal pandemi merebak, saat ini banyak pilihan masker yang nyaman dan aman. Bahkan, tersedia versi 3D yang terdiri atas empat lapis, tetapi tidak menimbulkan sesak dan tetap nyaman saat dipakai untuk jangka waktu lama.

Keempat, ketika sampai di kampung halaman, tetap tidak berkurang ikhtiar menjaga prokes. Kadang, ada saja sebagian masyarakat di daerah yang menganggap pandemi hanya isapan jempol dan karenanya memakai masker merupakan tindakan berlebihan juga mengada-ada.

Dengan istiqamah menjaga prokes, kita menularkan sikap dan perilaku yang tepat ke saudara-saudara di daerah, sekaligus menjaga mereka dari kemungkinan tertular virus bawaan pendatang dari kota besar yang lebih rentan penularan.

Insya Allah, jika kita menjaga diri, keluarga, serta lingkungan, mudik kali ini semoga lebih aman. Dengan ketegasan menjaga prokes pula, sejatinya masyarakat Muslim di Tanah Air membuktikan, silaturahim senantiasa membawa rezeki dan berkah bukan petaka.

Selamat mudik, selamat berjumpa keluarga tercinta. Semoga perlindungan-Nya mengiringi kita saat bersama menikmati hari raya dan setelahnya. 


Paradoks Dunia Antroposen

Manusia di dunia antroposen adalah titik sentral dari relasi alam dan lingkungannya.

SELENGKAPNYA

Pelabuhan Merak Makin Padat

Sebanyak 1,15 juta kendaraan telah meninggalkan wilayah Jabotabek.

SELENGKAPNYA

Idul Fitri dan Mudik Spiritual

Kesalehan autentik diwujudkan dalam bentuk kesantunan, keberadaban, dan kewelasasihan.

SELENGKAPNYA
×