Sejumlah santri pondok pesantren Baitul Musthofa mengaji dengan penerangan lilin saat pengajian Tadarus Al Quran di Ponpes setempat, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Senin (25/4/2022). | ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Kabar Ramadhan

29 Apr 2022, 11:45 WIB

Memaknai Kemenangan

Seusai Ramadhan, seorang Muslim tumbuh menjadi pribadi yang memiliki perisai dari godaan hawa nafsunya.

OLEH ZAHROTUL OKTAVIANI

Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadhan, umat Islam bergembira merayakan Hari Raya Idul Fitri. Ada beberapa hal yang patut direnungi agar perayaan hari istimewa ini lebih bermakna. 

Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa'adi menyebut, Idul Fitri adalah momen kemenangan bagi umat Islam dari perang melawan hawa nafsunya sendiri. Esensi kemenangan yang dirayakan ini adalah tentang bertambahnya kesadaran akan ketundukan kepada Allah Ta’ala dan kesadaran akan pentingnya menebar manfaat dan maslahat bagi sesama.

"Setelah berpuasa selama Ramadhan, seorang Muslim tumbuh menjadi pribadi yang memiliki perisai dari godaan hawa nafsunya. Karenanya, Lebaran atau kemenangan itu bukan berarti sebatas mengenakan pakaian atau hiasan baru," kata dia dalam pesan teks kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Salah satu hikmah Ramadhan, menurut Wamenag, adalah kepedulian dan puasa mengasah hal itu, juga mengasah empati terhadap sesama. Hal ini merupakan kunci penting dalam menjalani kehidupan sekaligus menjadi kunci seseorang meraih kemenangan, keselamatan, dan kedamaian.

photo
Sejumlah warga membaca Alquran saat mengikuti Pesantren Ramadhan Lansia di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Rabu (6/4/2022). Pesantren kilat yang digelar oleh Majelis Taklim Pusdai Jawa Barat itu diikuti oleh puluhan lansia untuk mengisi waktu selama Ramadhan dengan belajar mengaji dan wawasan hukum-hukum islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Rasulullah SAW disebut pernah berpesan tentang empat amalan yang dapat menjadikan seseorang menjadi penghuni surga. Dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidzi disebutkan, "Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahim dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.’’

"Saya kira, empat hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk mengisi Hari Kemenangan," kata Wamenag. 

Lebih lanjut ia memaparkan, Hari Raya Idul Fitri kali pertama digelar pada tahun ke-2 Hijriyah seusai Perang Badar. Banyak riwayat yang menginformasikan tentang bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan Idul Fitri. Salah satunya, mengumandangkan takbir pada malam di hari terakhir Ramadhan sampai pagi hari pada 1 Syawal. 

Cara tersebut sesuai dengan pesan Alquran surah al-Baqarah ayat 185, "Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan nama Allah) atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu. Semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur".

Hal lainnya, Rasulullah SAW mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat al-Hakim.

"Pakaian terbaik itu tidak harus baru tentunya. Yang penting suci, bersih, dan menutup aurat," ujar Wamenag. 

Selanjutnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, Rasulullah tidak berangkat ke tempat shalat Id sebelum makan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil. Hal ini sekaligus menjadi penanda hari itu sudah tidak berpuasa, sebab salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah Hari Raya Idul Fitri.

Rasulullah SAW juga menunaikan shalat Id bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Id.

Terakhir, di hari istimewa ini, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabat, mereka saling mendoakan satu dengan lainnya.

photo
Sejumlah umat muslim menghadiri kegiatan Bogor Ngaos Al-Quran di Lawang Salapan, Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (24/4/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Ketua Dewan Syuro DPP Rabithah Alawiyah, Habib Zen Bin Umar Bin Sumaith pun memaparkan, bulan suci Ramadhan merupakan anugerah yang sangat besar bagi hamba Allah SWT yang bertakwa. Di dalamnya terdapat banyak kesitimewaan, seperti diturunkannya Alquran dan malam-malam yang paling ijabah untuk bermunajat dan berdoa.

"Karena itu, hendaknya kita menjalankan ibadah puasa dengan niat lahir dan batin. Jangan sampai puasa kita hanya bersifat lahiriyah saja," ujarnya.

Ibadah puasa disebut sebagai ibadah yang sangat personal antara makhluk dengan Sang Khalik. Setiap umat-Nya diwajibkan puasa untuk melatih diri mengekang hawa nafsu, bukan hanya lapar dan haus, tetapi juga terhadap perbuatan dosa, perkataan kotor, ghibah, dan namimah.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani disampaikan, "Berapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apapun dari puasanya tersebut kecuali lapar dan dahaga". Habib Zen menyebut hal ini terjadi karena masih banyak yang tidak mampu mengekang hawa nafsu yang lain.

Ketika ibadah puasa Ramadhan ditutup dengan merayakan Idul Fitri, maka umat Islam bisa dikatakan sudah mendapatkan kemenangan (faizin) dalam arti yang sebenarnya. ‘’Bulan Ramadhan merupakan momen untuk melatih menahan hawa nafsu yang harus terus berlanjut agar menjadi hamba yang betul-betul bertakwa.’’ 


Ja'far Si Bapak Kaum Miskin

Orang yang paling peduli dan paling siap membantu mereka yang miskin adalah Ja'far bin Abi Thalib

SELENGKAPNYA

Lakukan yang Terbaik di Pengujung Ramadhan

Manfaatkan pengujung Ramadhan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan amal ibadah.

SELENGKAPNYA

Teteskan Air Mata dalam Sujud di Akhir Ramadhan

Manfaatkan pengujung Ramadhan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan amal ibadah.

SELENGKAPNYA
×