Umayyah binti Qais | https://www.arabiccalligraphygenerator.com/

Sirah

05 May 2022, 04:45 WIB

Umayyah binti Qais Pelopor Juru Rawat Perempuan

Rasulullah memberi apresiasi khusus atas dedikasinya di dunia perawatan.

Perang yang berkecamuk di zaman Rasulullah SAW, tak hanya melibatkan kaum Adam. Di saat para laki-laki mengangkat senjata dan menghadapi musuh, terdapat tangan-tangan lentik nan terampil sekelompok perempuan, berdiri di belakang barisan pasukan Islam.

Keikutsertaan kaum Hawa itu tak lain ialah membantu memberikan tindakan medis bagi para korban perang yang terluka. Ini adalah bentuk lain partisipasi mereka dalam jihad di jalan Allah SWT. Salah satu nama perawat tersohor kala itu ialah sahabat perempuan (sahabiyah) Umayyah binti Qais Al Ghiffariah. Bahkan, atas dedikasinya tersebut, ia didaulat sebagai pelopor perempuan di dunia perawatan.

Umayyah, begitu akrab disapa adalah shahabiah yang berasal dari suku Ghiffar, keturunan Abu Dzar al-Ghiffari. Ketika awal dakwah Islam, Abu Dzar berdomisili di Madinah. Jauh dari pusat penyebaran syiar di Makkah. Jarak itu tak menghalanginya untuk berdakwah.

Hidayah ini turut pula mengilhami Umayyah belia untuk menganut Islam. Ia bahkan rela menempuh jarah yang jauh hanya untuk bertemu Rasulullah. Sosok yang terkenal cerdas dan berhati emas ini bermaksud menyampaikan ikrar keislamannya di hadapan Rasulullah, secara langsung.

Kepasrahan itu tak terbatas pada pengakuan lisan. Umayyah ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi di jalan-Nya. Hal ini dibuktikan dengan partisipasinya di Perang Khaibar.

Ia menyatakan diri ikut berperang sebagai tim juru rawat. Ia mengajak teman-teman perempuan dari suku Ghiffar untuk bergabung ke medan perang. Keinginannya itu sempat mendapat penolakan Rasulullah.

Bahkan, dikisahkan Nabi sempat marah melihat kekeraskepalaan perempuan Bani Ghiffar. “Atas izin siapa kalian ikut berperang?” tanya Rasul.

Mereka menjawab, bidang kerja yang mereka geluti nanti di peperangan tidak berada di garis depan, tetapi memberi dukungan medis bagi para pejuang. “Kami keluar dengan membawa obat-obatan untuk mengobati mereka yang terluka, mencabut panah dari tubuh pejuang, memberi minum, menyiapkan makanan, dan ikut berjuang di jalan Allah."

 
Kepasrahan itu tak terbatas pada pengakuan lisan. Umayyah ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi di jalan-Nya.
 
 

Rasulullah lega mendengar jawaban mereka. “Kalau begitu, silakan berangkat," jawab Rasulullah.

Sebelum berangkat, Nabi berpesan kepada Umayyah agar menjalankan tugas sebaik-baiknya. Selama di medan perang, Umayyah tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan Nabi. Bersama dengan teman-temannya, ia bertugas dengan sigap. Pejuang yang terluka segera diangkut untuk mendapatkan pengobatan agar luka yang dideritanya tak memburuk.

Adapun perawat lainnya berlari-lari membawa kantung qirbah, wadah yang terbuat dari kulit kambing berisi air. Para pejuang yang kehausan segera diberi minum. Lalu, mereka kembali mengambil air untuk diberikan kepada pejuang yang lain.

Penghargaan

Perang Khaibar terjadi di tahun ketujuh Hijriyah atau 629 M. Dalam perang ini, umat Islam melawan tentara Yahudi yang bermukim di Oasis Khaibar. Jaraknya sekitar 150 kilometer dari Madinah. Perang besar-besaran ini berbuntut pada tercetusnya perjanjian Hudaibiyah. Tentara Islam yang dipimpin Ali bin Abi Thalib meraih kemenangan di perang tersebut. Kemenangan itu disambut gembira oleh umat Islam.

Rasulullah menyadari, kemenangan yang diperoleh itu tidak lepas dari tangan-tangan perempuan andal. Karena itu, Nabi berlaku adil ketika membagikan sebagian hasil rampasan perang. Para pejuang, baik laki-laki maupun perempuan, mendapat jatah. Apresiasi ini mendapat respons positif dari Umayyah dan teman-temannya.

 
Rasulullah menyadari, kemenangan yang diperoleh itu tidak lepas dari tangan-tangan perempuan andal. 
 
 

Selain itu, Nabi Muhammad memberikan penghargaan khusus bagi Umayyah, yaitu sebuah kalung yang disematkan di lehernya. Ini sebagai bentuk penghormatan dan jasa keberanian, berikut kegigihannya berjihad di jalan-Nya.

Kalung pemberian Rasulullah itu ia kenakan sepajang hayatnya hingga ajal menjemput. Benda tersebut kelak akan menjadi saksi atas perjuangannya membela Islam selama di dunia. “Demi Allah, saya tidak akan melepaskan kalung ini untuk selamanya.”

Sepak terjang pejuang perempuan suku Ghiffar, tak terkecuali di Perang Khaibar, patut dicontoh. Ketika turun ke medan perang, usia mereka masih muda. Namun, kontribusi yang diberikan terhadap agama Allah, sungguh luar biasa.

Air garam

Saat mengikuti peperangan, Umayyah belum memasuki usia baligh. Namun, semangat dan keberaniannya tidak bisa dibendung. Dalam perjalanannya menuju medan perang, ia bertemu dengan Rasulullah.

Nabi memerintahkannya untuk ikut bersama di kudanya. Sampai di tempat tujuan, ketika Nabi turun untuk mengikat kuda, terlihat tetesan darah di atas pelana.

Rasulullah kaget, lalu menanyakan kepada Umayyah, “Jangan-jangan kamu sedang haid." Umayyah dengan malu mengangguk. “Itulah haid pertama saya di atas kuda Rasulullah. Saya benar-benar malu saat itu," kata Umayyah.

Nabi memberi nasihat agar Umayyah segera membersihkan badannya. Lalu, mengambil air dalam ember yang telah ditaburi garam untuk membersihkan pelana yang terkena darah. Nasihat Rasulullah itu dilaksanakan hingga setiap Umayyah mendapat haid. Ia membersihkan darah haid dengan air garam. Bahkan, ketika wafat, Umayyah berwasiat agar jasadnya dimandikan dengan air garam.

Disadur dari Harian Republika edisi 16 Agustus 2012


Abdullah bin Rawahah Penyair yang Gagah di Medan Perang

Abdullah bin Rawahah tampil membawa pedang ke medan tempur Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar.

SELENGKAPNYA

Senja Kala Propaganda Islamofobia

Kumandang perang terhadap Islamofobia yang dilantunkan PBB membawa secercah harapan.

SELENGKAPNYA

Memaknai Zakat Fitrah

Zakat fitrah mendorong untuk bisa lebih tahu dan paham tentang kesiapaan mereka.

SELENGKAPNYA
×