Miqdad Bin Amr | https://www.arabiccalligraphygenerator.com/

Sirah

04 May 2022, 04:45 WIB

Ibrah Keberanian Miqdad Bin Amr

Kata-kata Miqdad mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya, hingga merasuk ke dalam hati orang-orang mukmin.

Dia adalah sahabat Rasulullah. Orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan serta kekejaman kaum Quraisy. Keberanian dan perjuangannya di Perang Badar selalu diingat sampai saat ini.

Bahkan, Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat Rasulullah, pernah berkata, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini."

Miqdad bin Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam Perang Badar karena kekuatan musuh yang begitu dahsyat. "Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah dan kami akan bersama Anda," seru Miqdad kepada Sang Nabi.

"Demi Allah," lanjutnya. 

Para sahabat ketika itu tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, "Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah." Para sahabat akan mengatakan kepada Nabi, "Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu."

 
Ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi tidak saja menggambarkan keberaniaan, tetapi juga logika yang tepat dan pemikirannya yang dalam.
 
 

Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya hingga merasuk ke dalam hati orang-orang mukmin. Wajah Rasulullah pun berseri-seri, sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi tidak saja menggambarkan keberaniaan, tetapi juga logika yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad.

Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh. Juga perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Sa'ad bin Muadz, pemuka kaum Anshar berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran."

Seandainya Nabi membawa Muslim ke lautan, lalu mengarungi lautan itu, tentu mereka juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Muslim ketika itu akan bersama Nabi berperang melawan musuh. Mereka adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh.

 
Muslim ketika itu akan bersama Nabi berperang melawan musuh. Mereka adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh.
 
 

Allah akan memperlihatkan kiprah para sahabat dalam peperangan yang akan berkenan di hati. Rasulullah sangat senang. Beliau bersabda kepada para pengikutnya, "Berangkatlah dan bergembiralah!"

Dan kedua pasukan pun berhadapan. Jumlah anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin Amr, Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam. Sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta.

Suatu hari, Miqdad bin Amr diangkat oleh Rasulullah Shalal lahu'alaihi Wassalam sebagai pemegang komando (amir) di suatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu setelah menjadi amir?"

Ia pun menjawab dengan jujur, "Engkau telah menjadikan diriku menganggap diri sendiri di atas semua manusia. Sedangkan, mereka semua di bawahku. Demi Zat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, sejak saat ini saya tidak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selamanya."

Miqdad adalah sosok laki-laki yang tidak ingin tertipu oleh dirinya sendiri dan tidak mau terpedaya oleh kelemahannya. Ia memegang jabatan sebagai amir hingga dirinya diliputi oleh kemegahan dan pujian. Jabatan sebagai amir dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan fitnah bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

 
Salah satu perwujudan kearifannya ialah tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjauhkan putusan atas seseorang. 
 
 

Salah satu perwujudan kearifannya ialah tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjauhkan putusan atas seseorang. Ini juga ia pelajari dari Rasulullah yang telah menyampaikan kepada umatnya, "Bahwa hati manusia lebih cepat berbolak balik daripada isi periuk saat mendidih."

Kecintaan kepada Islam

Kecintaan Miqdad kepada Islam tidak terkira besarnya. Hal itu menyebabkannya bertanggung jawab terhadap keamanan Sang Nabi. Tidak saja dari tipu daya musuh-musuhnya, tetapi juga dari kekeliruan rekan-rekannya sendiri.

Miqdad telah menunjukkan sikap yang mulia. Keagungan agama ini telah mengangkatnya ke posisi yang terhormat. Ia berlalu sambil mendendangkan kata-kata.

"Biarlah aku mati, asal Islam tetap jaya."

Memang itulah yang menjadi cita-citanya, yaitu kejayaan Islam walau harus ditebus dengan nyawa sekalipun. Dengan keteguhan hari yang menakjubkan ia berjuang bersama para sahabatnya untuk mewujudkan cita-cita tersebut.


Ummu Haram: Salehah di Darat, Syahidah di Laut

Ummu Haram meminta didoakan oleh Rasulullah agar bergabung dengan pasukan Muslim.

SELENGKAPNYA

India Buldoser Bangunan Milik Muslim

Sentimen anti-Muslim dan serangan meningkat di seantero India, dalam 10 hari terakhir.

SELENGKAPNYA
×