Asy-Syifa binti Abdullah | https://www.arabiccalligraphygenerator.com/

Sirah

01 May 2022, 04:45 WIB

Asy-Syifa, Guru dan Dokter Pertama Islam

Asy-Syifa bint Abdullah mampu membaca dan menulis sejak zaman jahiliyah.

Agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW adalah petunjuk kepada jalan kebahagian di dunia dan akhirat. Karena, agama Islam sebagai cahaya penunjuk jalan bagi setiap pemeluknya.

Dengan keimanan dan ketakwaan, banyak orang diangkat derajat dan kedudukannya di kehidupan sosial. Nama-nama mereka sebelumnya belum pernah terdengar namun dengan memeluk Islam mereka tenar karena ketakwaannya kepada Allah SWT.

Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam masalah ketaatan kepada Allah SWT kecuali ketakwaan dan keimanan semata. Itulah yang tercermin dalam diri asy-Syifa binti Abdullah bin Abdusy Syams bin Khalaf bin Syadad al-Qarsyiyah al-Adwiyah.

Diriwayatkan nama asli asy-Syifa adalah Laila. Dia dijuluki Ummu Sulaiman. Akan tetapi, ia lebih terkenal dengan panggilan asy-Syifa karena melalui tangannya dengan izin Allah SWT dapat membantu menyembuhkan orang sakit.

 
Ia lebih terkenal dengan panggilan asy-Syifa karena melalui tangannya dengan izin Allah SWT dapat membantu menyembuhkan orang sakit.
 
 

Asy-Syifa binti Abdullah menikah dengan Abu Khatsam bin Hudzalifah bin Amir al-Qursyi al-Udwi. Asy-Syifa memeluk Islam pada masa awal penyebarannya. Dia bersama kaum Muslimin pertama bersabar menanggung beban siksaan orang Quraisy dengan segala kezalimannya.

Ahirnya Allah SWT memerintahkan baik laki-laki maupun perempuan yang ada di Makkah untuk hijrah ke Yatsrib.

Asy-Syifa binti Abdullah al-Adwiyah termasuk segelintir sahabiyah yang bisa membaca dan menulis di zaman jahiliyah. Maka, pengetahuan yang dimilikinya jauh lebih banyak dibanding sahabiyah lain. Terutama di bidang medis.

Tidak banyak tulisan yang membahas tentang asy-Syifa binti Abdullah, bahkan sangat sedikit. Ibnu Hajar dalam kitabnya, al-Ishabab, menggambarkan asy-Syifa termasuk cendekia dari kalangan wanita dan Rasulullah SAW memfasilitasinya dengan menyediakan rumah di Madinah sebagai tempat tinggalnya.

 
Ibnu Hajar dalam kitabnya, al-Ishabab, menggambarkan asy-Syifa termasuk cendekia dari kalangan wanita dan Rasulullah SAW memfasilitasinya dengan menyediakan rumah di Madinah sebagai tempat tinggalnya.
 
 

Asy-Syifa merupakan sahabiyah pertama yang bisa mengobati segala penyakit dengan metode ruqyah pada masa jahiliyah. Namun, kelebihan itu tidak membuatnya angkuh dan sombong di hadapan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.

Syifa sendiri berjanji tidak akan melakukan pengobatan sebelum diizinkan Rasulullah SAW. "Aku tidak akan meruqyah sampai aku mendapatkan izin Rasulullah SAW."

Sebelum melakukan pengobatan dengan cara ruqyah, asy-Syifa terlebih dahu datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah meruqyah dengan cara meruqyah orang jahiliyah dan aku ingin menunjukkannya kepadamu," katanya.

Tidak lama kemudian Rasulullah SAW menjawab, "Tunjukanlah."

Kemudian Asy-Syifa menunjukkannya kepada Rasulullah SAW. Ia meruqyah dengan menggunakan namilah (sejenis potongan kulit). Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, "Meruqyahlah kamu dengan itu dan ajarkan hal itu kepada Hafsah, dengan nama Allah."

 
Selain pengobatan, Syifa yang memiliki kemampuan membaca dan menulis ditunjuk Khalifah Umar bin Khattab RA sebagai pengurus pasar.
 
 

Setelah peristiwa itu, asy-Syifa terus meruqyah orang-orang yang sakit dari kalangan kaum Muslimin. Dia juga mengajarkannya kepada Ummul Mukminin Hafsah.

Selain pengobatan, Syifa yang memiliki kemampuan membaca dan menulis ditunjuk Khalifah Umar bin Khattab RA sebagai pengurus pasar.

Akan tetapi, tidak disebutkan tugas apa yang diemban oleh asy-Syifa di pasar, kecuali apa yang disampaikan oleh Ibnu Sa'ad di dalam Thabaqat jika as-Syifa adalah seorang pengawas harga.

Ia juga dikenal sebagai guru para sahabat karena kepandaiannya. Bahkan, beberapa ulama menyebut jika Asy-Syifa adalah guru wanita pertama dalam Islam. Asy-Syifa wafat pada tahun 20 Hijriah.

Disadur dari Harian Republika edisi 18 September 2015


Maksimalkan Ibadah demi Lailatul Qadar

Langit disesaki malaikat yang turun ke bumi pada malam Lailatul Qadar.

SELENGKAPNYA

Berburu Kemuliaan di Sesaknya Malam

Rasulullah fokus pada sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk beriktikaf

SELENGKAPNYA

Khubaib bin Adi, Menahan Siksa Demi Agama Allah

Setiap hari, Khubaib bin Adi harus menerima siksaan.

SELENGKAPNYA
×