Sejumlah siswa penyandang disabilitas netra membaca Alquran braille di Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Dinsos Jabar, Kota Cimahi, Rabu (13/4/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Kabar Ramadhan

21 Apr 2022, 11:45 WIB

Muliakan Ramadhan dengan Menuntut Ilmu

Umat hendaknya dapat memilih majelis ilmu yang sesuai dengan kebutuhannya.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Bagi umat Islam, Ramadhan ibarat ajang perlombaan untuk melakukan berbagai kebaikan. Maka tak heran, di bulan suci ini, umat Islam di mana pun tampak giat beribadah dan melakukan berbagai amal kebaikan.  Salah satunya adalah mengikuti kajian di majelis ilmu atau majelis taklim.

Ketua Pengurus Wilayah Asosiasi Pesantren NU/Rabithah Ma`ahid Islamiyah NU DKI Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki menyampaikan, mengikuti majelis ilmu, khususnya di bulan Ramadhan, memiliki keutamaan tersendiri bagi umat Islam. Sebab di bulan Ramadhan, berdasarkan hadis sahih Imam Bukhari dan Muslim, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya hingga 700 kali lipat kebaikan.

“Apalagi menuntut ilmu itu bukan sekadar amal kebaikan, tapi juga amal kewajiban. Thalabul ilmi faridhatun ala kulli Muslimin wal-Muslimat (menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap Muslim dan Muslimah),” kata Ustaz Kiki, panggilan akrab KH Rakhmad Zailani Kiki, saat dihubungi Republika, belum lama ini.

photo
Peserta membaca Al Quran saat wisuda program Bogor Mengaji di GOR Indoor Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/4/2022). - (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nym.)

Ia menjabarkan, di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW membuka majelis ilmu bersama malaikat Jibril. Malaikat Jibril secara langsung mendatangi Rasulullah setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajari beliau Alquran. Karena itu, menurut Ustaz Kiki, menuntut ilmu pada bulan Ramadhan sejatinya telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah.

Berdasarkan hadis, Allah akan memudahkan jalan ke surga bagi orang-orang yang menuntut ilmu. Sehingga, lanjut Ustaz Zailani, ketika seorang Muslim datang ke majelis ilmu dengan niat untuk menimba ilmu namun dia tertidur di dalamnya, maka ia tetap mendapatkan pahala dan keutamaan orang yang menuntut ilmu.

“Kalau ngantuk di majelis taklim, itu nggak ada urusan. Itu kan persoalan fisik. Tetap, dia mendapatkan pahala menuntut ilmu. Jangankan itu (mengantuk), baru niat, atau bahkan langkah kakinya saja ke majelis ilmu sudah dihitung pahala,”  ujar dia.

Namun demikian, Ustaz Kiki menyarankan agar umat Islam dapat memilih majelis ilmu yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Jika seorang Muslim belum bisa membaca Alquran atau belum menguasai bacaan shalat, ia menyarankan untuk mengikuti kajian di majelis ilmu yang membahas materi terkait hal itu.

“Kalau kita belum bagus shalat, misalnya, hadiri majelis taklim yang mengajarkan ilmu bagaimana caranya shalat. Ini ilmu yang fardhu ain, yang wajib didahulukan. Jangan sampai kita belum bisa bacaan shalat, sudah datang ke majelis ilmu yang pembahasan levelnya sudah tinggi,” kata dia.

Tak kalah pentingnya, ia pun menyarankan untuk melihat siapa guru yang mengajar di suatu majelis ilmu atau majelis taklim. Apakah guru tersebut memiliki sanad keilmuan yang tersambung kepada Rasulullah SAW atau tidak. Perlu diketahui pula apa saja ilmu yang diajarkan. Jangan sampai, kata Ustaz Kiki, ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang diharamkan atau dimakruhkan oleh agama.

photo
Santri sepuh membaca Alquran sembari menunggu berbuka puasa di Masjid Agung Payaman, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (19/4/2022). Meski Pondok Sepuh Payaman masih tutup saat Ramadhan ini, animo santri sepuh untuk datang tidak surut. Sekitar 50-an santri sepuh mondok di Masjid Agung Payaman saat Ramadhan ini. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Pendakwah ternama Tanah Air, Ustaz Adi Hidayat juga menekankan pentingnya memilih guru agama. Meski menuntut ilmu memiliki keutamaan tersendiri, namun ia mengimbau kepada umat Islam jangan berguru kepada sembarang guru.

Menurut dia, seorang Muslim harus pandai mengkurasi guru agama yang hendak dia jadikan guru. Maksudnya adalah dengan mengetahui sanad keilmuan guru tersebut apakah benar-benar kredibel atau tidak. Sebab, kata Ustaz Adi Hidayat, umat Islam dilarang berguru kepada orang yang ilmunya lemah.

“Berguru pada orang yang ilmunya lemah saja dilarang, apalagi berguru kepada orang yang tidak berilmu atau tidak memiliki kapasitas dengan materi yang dia ajarkan,” ujar dia.

Karena itu, ia mengimbau umat Islam untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam memilih guru agama. Sikap kehati-hatian diperlukan untuk menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perkara dosa. Sebab, menurut dia, jika seorang Muslim belajar ilmu agama kepada orang yang bukan ahlinya maka ia akan berdosa. 


Beli Paket Kuota Unlimited, Ghararkah?

Beli paket kuota unlimited tersebut dibolehkan karena sejumlah alasan.

SELENGKAPNYA

Fenomena Stres

Siapapun tidak mudah menghindari stres. Yang dapat dilakukan ialah bagaimana mengurangi stres itu sampai dalam batas yang wajar.

SELENGKAPNYA

Habib bin Zaid, Syahid Membawa Pesan Rasulullah

Ketika sakratul maut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mempertahankan syahadatnya.

SELENGKAPNYA
×