Jafar bin Abi Thalib | arabiccalligraphygenerator

Sirah

28 Apr 2022, 11:45 WIB

Ja'far Si Bapak Kaum Miskin

Orang yang paling peduli dan paling siap membantu mereka yang miskin adalah Ja'far bin Abi Thalib

Rasulullah SAW mengenal baik Ja'far bin Abu Thalib sejak masih kanak-kanak. Paras Ja'far cukup mirip dengan Nabi Muhammad semasa muda. Sebuah riwayat menyebutkan, di lingkungan keluarga terdekat, setidaknya ada lima sosok yang wajahnya menyerupai Rasulullah.

Mereka adalah Hasan bin Ali (cucu Rasulullah), Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthalib, Qutsam bin Abbas bin Abdul Muthalib, Said bin `Ubaid bin Abdi Yazid bin Hisyam (kakek Imam Syafi`i), dan Ja'far bin Abu Thalib.

Sama dengan Ali bin Abi Thalib, Ja'far termasuk orang yang pertama masuk Islam di masa dakwah sirri Rasulullah. Ja'far bin Abu Thalib dan istrinya, Asma' binti Umais, menyatakan keislaman mereka di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Rasulullah.

Hal itu sebelum Rasulullah menjadikan kediaman Arqam sebagai markas dakwah Islam. Saat Rasulullah beralih metode menjadi dakwah terang-terangan, kaum Muslim di Makkah kian bertambah. Namun, mereka mesti bersabar karena dibayang-bayangi intimidasi dan penyiksaan oleh kaum musyrik Quraisy. Bahkan, Ja'far bin Abu Thalib dan istrinya tidak luput menjadi sasaran.

 
Sama dengan Ali bin Abi Thalib, Ja'far termasuk orang yang pertama masuk Islam di masa dakwah sirri Rasulullah.
 
 

Hijrah ke Habasyah

Ketika dewasa, Ja'far menikahi Asma binti Umays, saudara dari Maimunah yang kemudian menjadi istri Rasulullah. Bersama istrinya, Ja'far menjadi sahabat Rasul yang pertama kali masuk Islam.

Karena keyakinan dan keteguhan hatinya dengan Islam, orang Quraisy menjadikan kehidupan sosial pasangan ini sangat sulit. Orang Quraisy juga mencoba menghalangi keduanya untuk menjalankan ibadah. Ja'far kemudian pergi bertemu Rasulullah SAW dan meminta izin untuk pergi berhijrah ke Abyssinia (sekarang Etiopia) bersama beberapa orang sahabat. Dengan penuh kesedihan, Rasulullah SAW pun memberikan izin kepada Ja'far.

Kelompok Muhajirin yang dipimpin Ja'far bin Abi Thalib ini kemudian mening galkan Makkah dan pergi menuju Abbysinia. Di kota ini mereka hidup di bawah perlindungan Negus, pemimpin wilayah ini. Untuk pertama kalinya sejak menjadi Muslim, mereka menikmati kebebasan, baik untuk mengakui agamanya dan melakukan ibadah tanpa diganggu.

Ketika berita kepergian kelompok ini diketahui orang Quraisy, mereka menjadi sangat marah. Apalagi, mengetahui bahwa kelompok Muslim ini menjalani kehidupan yang aman dan damai di bawah perlindungan Negus. Karena itulah, orang Quraisy segara membuat rencana ekstradisi yang akan mengirim para Muslimin yang hijrah ini masuk penjara di Makkah.

 
Kelompok Muhajirin yang dipimpin Ja'far bin Abi Thalib ini kemudian mening galkan Makkah dan pergi menuju Abbysinia. 
 
 

Orang Quraisy kemudian mengirim dua orang wakilnya: Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Keduanya dibekali dengan banyak hadiah dan wanita yang akan diberikan kepada Negus dan para wakilnya. Segala upaya dilaku kan keduanya, termasuk memfitnah umat Islam dan mengadu domba.

Namun, upaya mereka gagal. Di hadapan Negus dan para wakilnya, dengan fasih dan lancar, Ja'far menjelaskan keyakinan yang ia anut bersama umat Islam lainnya. Ia menjelaskan alasan ketertarikannya pada Islam dan kenapaia bersama umat Islam lainnya memutuskan untuk hijrah ke Abyssinia.

Ja'far juga menjelaskan dengan indah ajaran Islam yang ia anut, termasuk membacakan ayat Alquran dari surah Maryam.

Mendengar penjelasan itu, Negus mengerti. Ia bahkan menjanjikan siapa pun yang mengganggu umat Islam akan berhadapan dengannya. Ja'far dan Asma menghabiskan waktu cukup lama di perantauan.

Di tempat ini, Asma melahirkan tiga putra yang diberi nama Abdullah, Muhammad, dan Awn. Putra kedua mereka yang diberi nama Muhammad menjadi pria pertama dalam sejarah Islam yang diberi nama sama dengan Rasulullah SAW.

Pada tahun ketujuh hijrah, Ja'far dan keluarganya meningalkan Abyssinia bersama sekelompok Muslim untuk menuju Madinah. Ketika mereka tiba, Rasulullah SAW baru saja kembali dari perang Khaybar.

Kedatangan Ja'far membawa angin segar bagi umat Islam yang miskin. Tak butuh waktu lama untuk Ja'far menjadi terkenal sebagai sahabat yang peduli dengan mereka yang miskin. Karena itulah, ia kemudian dijuluki sebagai Bapak Kaum Miskin.

 
Pada tahun ketujuh hijrah, Ja'far dan keluarganya meningalkan Abyssinia bersama sekelompok Muslim untuk menuju Madinah. 
 
 

Abu Hurairah menyebut bahwa orang yang paling peduli dan paling siap membantu mereka yang miskin adalah Ja'far bin Abi Thalib. Begitu pedulinya Ja'far, jika ia menemukan ada orang yang miskin dan kelaparan, ia akan segera pulang ke rumah dan memberi orang itu makanan yang ia punya, bahkan jika itu membuatnya harus menghabiskan jatah makannya.

Ja'far tinggal di Madinah tidak terlalu lama. Pada awal tahun kedelapan Rasulullah SAW memobilisasi pasukan untuk menghadapi pasukan Byzantinum di Suriah. Rasulullah SAW berencana menyerang pasukan ini karena salah satu sahabat yang dikirimnya ke Byzantinum untuk misi damai dibunuh dengan keji oleh gubernur daerah ini.

Rasulullah SAW lalu menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima pasukan. Setelah itu, Rasul menyatakan bahwa jika terjadi sesuatu pada Zaid selama pertempuran maka posisi itu akan digantikan oleh Ja'far bin Abi Thalib. Jika Ja'far syahid, posisinya akan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Ketika pasukan Muslim mendekati Mu'tah, sebuah desa kecil di dekat perbukitan Yordania, mereka menemukan bahwa pasukan Byzantinum sudah menghimpun ribuan pasukan dengan menggunakan tameng umat Kristen Arab dari suku Lakhm, Judham, Qudaah, dan suku-suku lainnya. Sementara, umat Muslim hanya terdiri atas 3.000 orang prajurit.

Meskipun tidak seimbang, umat Islam tetap bertarung dengan penuh semangat. Zaid bin Haritshah menjadi salah satu yang pertama syahid dalam pertempuran itu.

Sesuai perintah Rasul, Ja'far bin Abi Talib kemudian yang memegang komando. Dengan penuh keberanian, ia menerjang pasukan Byzantinum. Ja'far pun syahid dalam perang tersebut. 

Disadur dari Harian Republika edisi 2 Juni 2019 


Beli Paket Kuota Unlimited, Ghararkah?

Beli paket kuota unlimited tersebut dibolehkan karena sejumlah alasan.

SELENGKAPNYA

Menggapai Titik Ihsan

Di puncak ihsan inilah seorang hamba benar-benar berhati-hati.

SELENGKAPNYA

Habib bin Zaid, Syahid Membawa Pesan Rasulullah

Ketika sakratul maut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mempertahankan syahadatnya.

SELENGKAPNYA
×