Ratusan warga mengikuti iring-iringan koko | ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Kabar Ramadhan

Pekik Sahur Ramadhan Dulu dan Kini

Sahur menjadi momentum membangun keakraban.

OLEH ALI YUSUF

Sekitar pukul 02.00 WIT, puluhan pemuda Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, berkumpul pada Jumat (8/4). Dengan mengenakan pakaian putih, mereka berkeliling kampung sambil melantunkan zikir dengan iringan tabuhan rebana untuk membangunkan warga yang hendak sahur sebelum menunaikan ibadah puasa.

Maluku termasuk salah satu daerah yang mempertahankan tradisi hadrat untuk membangunkan warga Muslim yang hendak sahur selama Ramadhan 1443 Hijriyah. Hadrat biasanya berlangsung sampai sekitar pukul 03.30 WIT dengan diakhiri dengan pembacaan syair bernuansa Ramadhan.

Menurut tokoh adat Negeri Hila, Zulkarnain Ely, selama bulan suci Ramadhan hadrat dilakukan dua kali sepekan. Pawai hadrat paling ramai pada malam ke-27 Ramadhan atau tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri.

Tradisi ini memang tidak berbeda jauh dengan membangunkan sahur di daerah lain. “Namun, pendahulu kami membuatnya dengan tujuan agar budaya zikir tetap lestari di kalangan anak muda maupun masyarakat pada umumnya," katanya.

Hadrat merupakan tradisi turun-menurun di Negeri Hila. Beberapa tahun lalu, tradisi tersebut sempat tidak bisa dilaksanakan karena para penabuh rebana sudah lanjut usia.

Kini, mereka sudah punya komunitas yang sebagian besar diisi oleh pemuda. “Kami ajarkan mereka cara main rebana dan alhamdulillah sejak hari ketiga Ramadhan semua bisa sama-sama berpartisipasi untuk melestarikan tradisi ini," katanya.

Dia berharap, generasi muda negeri ini tetap menjaga warisan leluhur. “Apa yang dibuat leluhur tentu bermakna baik. Hilang tradisi, hilang budaya, berarti hilang jati diri," kata Zulkarnain.

Di kawasan pantura sekitar Majalengka, Indramayu, dan Cirebon, Jawa Barat, ada tradisi serupa yang diberi nama Obrog. Lewat tradisi ini, sekelompok orang berkeliling kampung dengan membawa perangkat musik dan bernyanyi. 

Seiring perkembangan zaman, perangkat musik yang awalnya hanya mengusung alat-alat tradisional dan seadanya, seperti gendang, gitar, dan suling kini berubah menjadi gitar listrik, kibor, hingga perangkat tata suara elektronik. 

Kebiasaan untuk membangunkan warga sahur dengan semarak telah menjadi tradisi di Tanah Air. Namun, penasarankah Anda, bagaimana cara orang membangunkan sahur pada zaman Rasulullah SAW?

Pakar fikih Ustaz Ahmad Sarwat menjelaskan, pada Ramadhan banyak sekali tradisi berkembang di tengah masyarakat. Ada tradisi yang masih asli dan merupakan perintah langsung syariat Islam, tetapi ada juga tradisi yang bukan perintah langsung syariat Islam, yang keduanya dikerjakan selama Ramadhan.

Menurut dia, tradisi yang bukan perintah langsung syariat dan perlu diluruskan di antaranya adalah membangunkan sahur dengan keliling kampung. Dia berpendapat, semangat bangun malam untuk membangunkan makan sahur sebenarnya merupakan tradisi yang baik, karena didasarkan pada dalil-dalil syar’i yang valid.

Namun, terkadang muncul tradisi bawaan yang sifatnya lokal. “Misalnya kebiasaan pada sementara kalangan untuk berkeliling membangunkan orang sahur dengan membawa berbagai macam bunyi-bunyian," kata dia.

 
Misalnya kebiasaan pada sementara kalangan untuk berkeliling membangunkan orang sahur dengan membawa berbagai macam bunyi-bunyian.
 
 

Niat tersebut dinilainya baik. Hanya saja, jika kurang hati-hati dalam pelaksanaannya, ada kalanya tradisi itu bisa berubah menjadi makruh bahkan sampai ke titik haram.

Misalnya, ketika tradisi itu dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Salah satunya dengan cara berteriak-teriak dengan memukul-mukul benda bersuara keras dan arak-arakan keliling kampung bukan pada jam sahur. Sebab, bisa jadi pada jam itu orang masih istirahat tidur atau malah sedang melakukan shalat Tahajud.

"Kalau diganggu dengan suara-suara seperti itu, maka niat baik membangunkan orang makan sahur berubah menjadi kegiatan mengganggu orang tidur dan orang yang sedang ibadah," ujar Ustaz Ahmad.

Menurut dia, akan lebih tepat kalau membangunkan sahur dengan mengirim pesan singkat, menelepon, atau mengetuk pintu rumah yang dikhawatirkan belum bangun pada jam sahur. Apabila merujuk kepada praktik aslinya, membangunkan sahur di masa Rasulullah SAW tidak lain adalah dengan mengumandangkan azan.

Pada masa Rasulullah SAW, ada dua kali azan pada saat menjelang terbit fajar. “Azan yang pertama, bukan azan yang menandakan datangnya waktu Subuh,” kata dia.

Sebagian ulama menyebutkan, salah satu fungsi azan ini membangunkan orang untuk shalat malam, atau untuk makan sahur. Sedangkan, azan pertanda masuknya waktu Subuh dilakukan setelah terbit fajar, yaitu azan yang kedua. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Mutiara Ramadhan

Sesungguhnya di dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada Hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk ke surga melalui pintu tersebut... HR ALBUKHARI No.1896

HIKMAH RAMADHAN

Image

Memahami Makna Ramadhan

Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa para hamba Allah.
Oleh

Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa para hamba Allah.