Ibn Masud | istimewa

Sirah

15 Apr 2022, 11:45 WIB

Ibn Mas'ud: Kecil Tubuhnya, Jembar Imannya

Iman menumbuhkan keyakinan untuk berani membela agama Allah.

Siapa menyangka, Abdullah bin Mas’ud muncul se ba gai orang paling berani di antara para sahabat Rasulullah. Betis nya yang kecil serta tubuh yang mungil membuatnya terlihat lucu dan terkesan bak orang yang lemah tak berdaya. Kehadirannya tak pernah dianggap serius di antara sahabat-sahabat nabi lainnya yang gagah perkasa.

Para sahabat yang gagah perkasa itu suatu kali bertaruh. Adakah di antara mereka yang punya keberanian membaca Alquran di depan Ka’bah? Saat itu lokasi Ka’bah masih dikerubungi kaum kafir Quraisy.

Mereka siap menggelandang siapa pun yang terindikasi ikut ajaran Nabi Mu hammad SAW. Apalagi, sampai melakukan tindakan nekat seperti membacakan Alquran di tengah-tengah khalayak itu.

Ternyata Ibnu Mas’ud pun menyanggupinya. Awalnya para sahabat yang berbincang itu tak menggubris ucapan Ibnu Mas’ud. Mereka hanya tertawa sembari melihat betis Ibnu Mas’ud yang kecil dan tubuhnya yang kerdil. Namun, Ibnu Mas’ud memjawab tuntas keraguan mereka.

Seorang Ibnu Mas’ud dengan tubuh kerdilnya berdiri di tengah khalayak dan membacakan Alquran surah Thaha. Sudah dapat diduga, tubuh ringkih Ibnu Mas’ud menjadi bulan-bulanan kaum Kafir Quraisy. Hampir saja ia syahid kalau tak diselamatkan para sahabat Nabi lainnya.

 
Sudah dapat diduga, tubuh ringkih Ibnu Mas’ud menjadi bulan-bulanan kaum Kafir Quraisy. Hampir saja ia syahid kalau tak diselamatkan para sahabat Nabi lainnya.
 
 

Apakah Ibnu Mas’ud menyesal? “Jika aku diberikan umur panjang hingga esok hari, esok akan kuulangi lagi perbuatanku ini,” ucap Ibnu Mas’ud.

Sahabat-sahabat yang perkasa lainnya pun tertunduk. Mereka mencegah Ibnu Mas’ud untuk melakukan lagi tindakan nekatnya itu. S dah cukup sang sahabat kerdil membuktikan keberaniannya mengalahkan sahabat-sahabat perkasa lainnya.

Apakah yang membuat seorang Ibnu Mas’ud menjadi sedemi kian berani? Karena keimanan sudah mengalir dalam darah dan sanubarinya. Inilah yang di firmankan Allah SWT dalam Alquran, “Janganlah kamu ber sikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139).

Orang beriman sama sekali tidak akan takut dan gentar dengan apa pun. Keimanan adalah semangat paling tinggi yang bisa memompa keberanian seseorang. Sebesar apa pun objek yang menakutinya, ia tak akan takut.

Ia yakin, jika ia beriman, ia bersama Allah SWT Yang Mahabesar dari semua makhluk yang dihadapinya. Keimanan itulah yang mengalir dalam darah Ibnu Mas’ud. Kendati tubuh nya kerdil, ia punya Allah Yang Mahabesar, Mahakuat, dan Mahaperkasa.

Para pejuang Islam yang dibakar semangat keimanan tak pernah merasa gentar menghadapi musuh-musuh Islam. Dengan gagahnya mereka bertarung di medan perang tanpa memiliki sedikit pun rasa takut. Mereka bangga menjadi seorang pejuang yang ikut jihad bersama Rasulullah SAW. Jika meraih kemenangan, mereka akan hidup mulia dengan Islam. Jika terbunuh di medan perang, mereka mendapatkan syahid dan mendapatkan surga. Apa pun hasilnya, mereka mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat. Jadi, apa yang mesti mereka khawatirkan lagi?

 
Orang beriman sama sekali tidak akan takut dan gentar dengan apa pun. Keimanan adalah semangat paling tinggi yang bisa memompa keberanian seseorang.
 
 

Mental keberanian inilah yang banyak hilang dari tubuh umat Islam. Kaum kafir sukses menakut-takuti kaum Muslimin dengan situasi dan kondisi masa depan yang suram, ancaman, teror, intimidasi, atau tekanan-tekanan lainnya.

Umat Islam menjadi ciut untuk memperjuangkan nilai dan norma yang diyakininya. Syuja’ah (keberanian) adalah harga diri umat Islam. Jika sifat ini sudah hilang, hilang pulalah harga diri umat Islam di muka bumi.

Dahulu umat Islam sedemikian disegani dan ditakuti. Misalnya saja, ketika tentara Islam berencana akan memasuki Byzantium. Pemuda setempat telah lari tunggang langgang karena mendengar umat Islam akan tiba di negeri mereka.

Sampai-sampai Khalid bin Walid RA menenangkan masyarakat Romawi agar tidak perlu cemas. Kedatangan umat Islam hanya untuk menyerukan Islam dan mengajak mereka menghamba pada Allah SWT.

 
Ketika tentara Islam berencana akan memasuki Byzantium. Pemuda setempat telah lari tunggang langgang.
 
 

Mungkin saat ini tak ada lagi yang gentar dengan keperkasaan umat Islam. Sangat jarang didapati orang yang bisa bersuara lantang menyerukan kebenaran seperti Ibnu Mas’ud.

Jarang yang mau menegakkan amar makruf nahi mungkar ketika melihat kemaksiatan. Jarang pula yang mau berjihad menegakkan kebenaran ketika berhadapan dengan penguasa yang zalim.

Rasulullah SAW bersabda, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud).

Keberanian tidak hanya diukur ketika seseorang angkat senjata dan berangkat berperang. Keberanian adalah konsistensi menyampaikan sesuatu yang hak (benar) walau mendapatkan intervensi dari penguasa. Seperti mentalnya Ibnu Mas’ud yang sama sekali tak gentar membacakan Alquran di tengah-tengah kezaliman kafir Quraisy.

Disadur dari Harian Republika edisi 12 Juni 2015


Menyadari Adanya Problem

Memahami dan mengidentifikasi personal problems berarti separuh problem dan beban hidup sudah terselesaikan.

SELENGKAPNYA

Darah Haid Hanya Tinggal Bercak, Wajibkah Puasa Ramadhan?

Bila darah haid hanya tinggal bercaknya saja atau flek, wajibkah menjalankan puasa?

SELENGKAPNYA

Cara Menjawab Salam dari Non-Muslim

Bagaimana sebaiknya menjawab salam dari non-Muslim yang mengucapkan dahulu?

SELENGKAPNYA
×