Warga membawa jeriken antre untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Kupang, NTT, Selasa (5/4/2022). | ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/rwa.

Tajuk

06 Apr 2022, 03:55 WIB

Dengarkan Jeritan Suara Rakyat

Jika harga Pertalite dan LPG sampai melonjak, dampaknya sangat meluas pada kehidupan masyarakat.

Pandemi Covid-19 belum sepenuhnya berakhir. Namun, melandainya kasus penularan virus korona akhir-akhir ini disambut dengan sukacita publik di Tanah Air. Kini, aktivitas sosial pun mulai dilonggarkan.  

Sayangnya, di tengah kebahagiaan itu, publik di Tanah Air justru dihadapkan pada masalah baru, yakni melonjaknya harga berbagai komoditas kebutuhan pokok. Pada Jumat (1/4) lalu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax sebesar Rp 3.500 per liter menjadi Rp 12.500 per liter.

Pada awal April pula, pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif PPN dari 10 persen menjadi 11 persen. Pada saat yang sama, di pasar tradisional harga-harga komoditas kebutuhan pokok juga mulai meroket, seiring masuknya bulan suci Ramadhan.

Salah satu komoditas yang melambung harganya adalah minyak goreng. Tak cuma mahal, tapi juga langka. Itu artinya, beban kehidupan masyarakat bertambah berat.

Belum lagi kondisi ekonomi masyarakat sepenuhnya pulih, kini pemerintah kembali mewacanakan rencana kenaikan harga BBM jenis Petalite dan gas LPG ukuran tiga kilogram. Kabar itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di  Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/4).

 
Menurut Airlangga, rencana kenaikan harga Pertalite dan LPG ukuran tiga kilogram saat ini masih di tahap pengkajian.
 
 

Menurut Airlangga, rencana kenaikan harga Pertalite dan LPG ukuran tiga kilogram saat ini masih di tahap pengkajian. Nantinya, menurut dia, pemerintah akan mengumumkan hasil kajian kenaikan harga Pertalite dan LPG jika sudah rampung.

“Saat sekarang kita masih kaji, nanti sesudah kita kaji, nanti kita umumkan. Tapi saat sekarang belum,” ujar ketua umum Partai Golkar itu. Wacana kenaikan harga dua komoditas bahan bakar yang paling banyak digunakan masyarakat kelas bawah itu juga sempat disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

"Overall (secara keseluruhan) akan terjadi (kenaikan) nanti Pertamax, Pertalite, kalau Premium belum. Juga gas yang tiga kilogram (akan naik). Jadi bertahap, 1 April, nanti Juli, bulan September, itu nanti bertahap akan dilakukan oleh pemerintah," kata Luhut usai meninjau Depo LRT Jabodebek di Jatimulya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (1/4).

 
Terlepas dari beban yang harus ditanggung negara, publik tentu berharap, pemerintah bisa mempertimbangkan secara matang rencana untuk menaikkan harga Pertalite dan gas LPG ukuran tiga kilogram tersebut. 
 
 

Melonjaknya harga Pertamax terjadi akibat kelangkaan minyak mentah karena konflik Rusia-Ukraina. Menurut Luhut, kenaikan harga Pertamax yang diberlakukan per 1 April 2022, karena asumsi harga minyak dunia dalam APBN sudah sangat jauh dengan harga minyak di lapangan.

Terlepas dari beban yang harus ditanggung negara, publik tentu berharap, pemerintah bisa mempertimbangkan secara matang rencana untuk menaikkan harga Pertalite dan gas LPG ukuran tiga kilogram tersebut. Jika kedua jenis energi itu harganya sampai melonjak, dampaknya akan sangat meluas pada kehidupan masyarakat, terutama "wong cilik".

Sudah bisa dipastikan, harga-harga komoditas lain juga akan terkerek naik apabila Pertalite dan gas LPG tiga kilogram melonjak. Tak hanya itu, masyarakat juga pasti harus menanggung kenaikan biaya transportasi. Dampaknya juga akan dirasakan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

 
Memang pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan bagi masyarakat. Namun, tidak semua masyarakat mendapatkan bantuan dan subsidi tersebut. 
 
 

Pemerintah berjanji akan melakukan penghitungan secara cermat dan sosialisasi terkait rencana kenaikan tersebut. Namun, kenaikan harga Pertalite dan gas LPG tabung tiga kilogram itu berpotensi membuat kehidupan rakyat kecil makin susah.

Memang pemerintah telah menggelontorkan berbagai bantuan bagi masyarakat. Namun, tidak semua masyarakat mendapatkan bantuan dan subsidi tersebut. 

Publik tentu berharap, pemerintah mempertimbangkan lagi rencana untuk menaikkan harga Pertalite dan gas LPG tiga kilogram tersebut. Setidaknya, kenaikannya masih wajar dan tak dilakukan saat masyarakat sedang menghadapi beban yang berat seperti sekarang. Pemerintah harus mendengarkan jeritan suara rakyat. ';

×