Sulaman Kapalo Samek. | ANTARA

Kabar Ramadhan

Ngabuburit Bersama Sulaman Kapalo Samek

Hasil sulaman kapalo samek ini tidak hanya bisa untuk selendang.

Nini (53 tahun) mahir menyulam dengan teknik sulaman kapalo samek sejak masih belia. Sulaman kapalo samek artinya menyulam dengan menggunakan kepala peniti.

Para pemudi di Nagari Koto Gadang di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, sudah dilatih agar pandai menyulam.  Alasannya, selain untuk meneruskan tradisi, menyulam juga dapat menjadi pemasukan sampingan bagi keluarga.

Nagari Koto Gadang memiliki selendang khas yang sudah terkenal hingga ranah nasional. 

Nini ataupun warga lainnya kerap mengisi waktu luangnya dengan menyulam kapalo samek. “Apalagi, sore-sore menjelang berbuka puasa ini. Saya mengisinya dengan mengerjakan sulaman," kata dia, Ahad (3/4).

Satu hasil karya sulaman Nini dijual seharga Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Warga Ngarai Sianok ini dapat menyelesaikan satu sulaman dalam dua hingga tiga pekan tergantung pada ukuran sulaman yang dipesan.

Bahan yang Nini pakai untuk menyulam adalah benang keris, benang rose, kain satin, kain organdi, dan kain sutra.

Gambar yang dipakai pun beragam. Kalau pesanan untuk laki-laki; biasanya motif rangkiang, rumah gadang, dan kaligrafi. Sedangkan, untuk perempuan, kebanyakan memesan motif aneka bunga.

Menurut Ninik, hasil sulaman kapalo samek ini tidak hanya bisa untuk selendang, tetapi juga dapat diolah menjadi tas, baju, dompet, dan kerudung. ”Kalau bule-bule memasan seringnya untuk dibuat tas atau dompet," ujar Nini.

Menyulam adalah hobi Nini. Dia merasa puas apabila hasil kerajinan tangannya dipakai oleh orang lain. Apalagi, dipakai untuk hari-hari besar, seperti acara-acara adat. 

Tradisi khas juga dimiliki masyarakat Sumedang, Jawa Barat. Di daerah tersebut, ada banyak tradisi berkaitan dengan Ramadhan. Salah satunya adalah ngagogo, yaitu tradisi menangkap ikan tanpa alat yang dilakukan warga setempat menjelang Ramadhan.

Tradisi ngagogo sempat berhenti karena pandemi Covid-19. Ngagogo kali ini menjadi yang pertama kali semenjak pagebluk melanda. 

Puluhan warga Desa Ciluluk, Tanjungsari, Sumedang, masuk ke dalam balong atau kolam ikan lumpur untuk menangkap ikan pada akhir pekan lalu. Mereka meramaikan ngagogo yang saat itu diprakarsai oleh Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat, Umuh Muchtar. “Alhamdulillah terlaksana tahun ini, ada kemajuan, tambahan jadi semua masyarakat puas," kata Umuh. 

photo
Nini (43) seorang pengrajin sulaman Kapalo Samek, menyulam bahan selendang pesanan konsumenya didaerah Jorong Lambah, Nagari Sianok, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumbar, Jumat (28/10). Sulaman Kapalo Samek (Sulaman Kepala Peniti) berasal dari daerah Koto Gadang, Kabupaten Agam, upah dari menyulaman tersebut dibayar dari harga Rp 150 ribu hingga Rp.2,5 juta. dalam kurung waktu 3 - 4 bulan pengrajinmenghasilkan satu bahan sulaman .FOTO ANTARA/Arif Pribadi/ss/pd/11 - (ANTARA)

Umuh memasukkan 200 kuintal ikan ke dalam balong. Ada hadiah menarik bagi warga yang mendapatkan ikan pertama kali dan saweran. 

Berbeda lagi yang dilakukan warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mereka menjalankan tradisi yang turun-temurun masih dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Bandung, yaitu mencuci karpet masjid di aliran irigasi Cibereum, Sungai Ciwidey, Desa Sadu, Kecamatan Soreang, setiap menjelang Ramadhan.

Para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang mencuci karpet pada aliran irigasi tidak hanya berasal dari desa setempat. Kondisi air sungai pada aliran irigasi yang dijadikan tempat mencuci karpet masjid bersih dan deras. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang sengaja datang untuk membersihkan karpet masjid.

Proses mencuci satu karpet masjid dilakukan oleh beberapa orang. Mereka terlebih dahulu menggosok karpet dan membilas dengan air sungai selanjutnya karpet dijemur di sekitar area tersebut.

photo
Pengrajin sulaman Kapalo Samek (Sulaman Kepala Semat), menyulam bahan selendang pesanan konsumenya didaerah Jorong Koto Gadang, Nagari Koto Gadang, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam, Sumbar, Jumat (9/12)..FOTO ANTARA/Arif Pribadi/ss/pd/11 - (ANTARA)

Menurut salah seorang anggota DKM Masjid al-Huda Kampung Panyirapan, Engkos, kegiatan mencuci karpet dilakukan agar nyaman digunakan saat shalat Tarawih. Air sungai yang digunakan untuk mencuci karpet relatif bersih. "Biar bersih dan wangi saat digunakan shalat Tarawih dan Shalat Id," ujarnya.

Menurut pengelola irigasi Cibereum, Ade Rohimat, tradisi mencuci karpet masjid sudah berlangsung sejak 1986. Mereka yang datang berasal dari wilayah Bandung Raya.

"Sejak dulu irigasi ini dijadikan tempat mencuci karpet masjid setiap menjelang tibanya bulan puasa," kata dia.

Pihak pengelola irigasi Cibereum tidak memungut biaya kepada mereka yang hendak mencuci karpet masjid. Namun, jika ada yang memberi dana tersebut digunakan untuk operasional sehari-hari memotong rumput di area irigasi. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Mutiara Ramadhan

Sesungguhnya di dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada Hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk ke surga melalui pintu tersebut... HR ALBUKHARI No.1896

HIKMAH RAMADHAN

Image

Memahami Makna Ramadhan

Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa para hamba Allah.
Oleh

Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa para hamba Allah.