Bersama teman-temannya, Vivi Vebrianty mendirikan Sakola Alit menyasar mereka yang kurang mampu. Berada di pinggir jalan Tol Jagorawi, Sakola Alit berdiri sejak 2012. Tempat belajar ini digawangi sekelompok mahasiswa dari Universitas Pakuan Bogor. | Istimewa

Uswah

03 Apr 2022, 11:39 WIB

Inspirasi dari Pinggir Jalan Tol Jagorawi

Vivi Vebrianty melihat peluang pendidikan nonformal untuk mendekati anak-anak miskin perkotaan.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Pendidikan tak cuma berlangsung di sekolah formal. Bagi anak-anak marginal, ilmu justru ada di jalanan. Vivi Vebrianty melihat peluang tersebut sebagai media untuk mendekati anak-anak miskin perkotaan.

Bersama teman-temannya, dia pun mendirikan Sakola Alit yang memang menyasar mereka yang kurang mampu. Berada di pinggir jalan Tol Jagorawi, Sakola Alit sudah berdiri sejak 2012. Tempat belajar ini digawangi oleh sekelompok mahasiswa dari Universitas Pakuan Bogor.

“Ketika kita melihat anak-anak jalanan berkeliaran sambil mengamen, di situ kita merasa miris. Harusnya anak-anak seusia mereka bisa memperoleh pendidikan yang layak, bisa merasakan masa kanak-kanak mereka layaknya anak-anak lain yang seusia,” kata Vivi saat dihubungi Republika, Rabu (30/3).

Beranjak dari itu, Vivi bersama kawan-kawan mulai tergerak untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak jalanan. Vivi menyadari bahwa mendirikan sekolah bukanlah perkara yang mudah.

Butuh upaya keras dan sumber daya yang cukup untuk membangun sekolah swasta. Meski demikian, tekadnya dalam memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak jalanan tak pupus.

Jika dibandingkan dengan sekolah formal, infrastruktur Sakola Alit tak memadai. Tidak ada fasilitas gedung bahkan tak ada atap dan dinding. Di Sakola Alit, hanya terdapat besi pembatas dari jalan bebas hambatan penghubung DKI Jakarta dan Jawa Barat tersebut.

Meski fasilitas pendidikan itu penting, Vivi menyadari, pemberian pendidikan secara substantif jauh lebih penting. Beranjak dari kesederhanaan, dia menyelenggarakan aktivitas belajar-mengajar kepada anak-anak jalanan dan para pemulung.

“Awalnya saya dan kawan-kawan itu menyambangi orang tua mereka, memberi tahu niat kami. Tapi ya lumayan, banyak penolakan-penolakan,” kata dia.

Vivi tak patah arang. Dia kembali mendatangi para orang tua anak-anak tersebut. Dia mengutarakan niatnya untuk memberikan pendidikan yang lebih layak kepada anak-anak mereka.

Seiring berjalannya waktu, upaya Vivi pun membuahkan hasil. Dia berhasil mengajak anak-anak jalanan untuk belajar di Sakola Alit. “Banyak pelajaran yang diajarkan, tapi kita berupaya mengajarkannya dengan fun. Jadi kita selingi dengan bermain, bernyanyi, supaya mereka tidak bosan,” kata dia.

photo
Bersama teman-temannya, Vivi Vebrianty mendirikan Sakola Alit menyasar mereka yang kurang mampu. Sekolah bagi anak-anak jalanan. Berada di pinggir jalan Tol Jagorawi, Sakola Alit berdiri sejak 2012. Tempat belajar ini digawangi sekelompok mahasiswa dari Universitas Pakuan Bogor. - (Istimewa)

Cegah pernikahan dini dan putus sekolah

Perjuangan menjalankan Sakola Alit bukanlah perkara yang mudah. Namun begitu, Vivi meneguhkan tekad untuk terus melanjutkan perjuangan tersebut.

Dengan mata kepalanya sendiri, Vivi menyaksikan bagaimana anak-anak perempuan di bawah umur di lingkungan pinggir jalan tol itu harus menjalani pernikahan lantaran putus sekolah.

“Beberapa dari mereka memang ada yang pernah sekolah formal, tapi sampai SD saja. Dan tidak lama setelah itu, yang anak-anak perempuan banyak yang langsung menikah. Ini yang menjadi miris,” kata Vivi.

Vivi menekankan, hadirnya Sakola Alit berupaya menebarkan cahaya ilmu. Dia pun hendak menyampaikan motivasi mengenai arti pendidikan secara lebih dalam.

Dengan mendapatkan pengalaman bersekolah yang menarik dan asyik di Sakola Alit, dia berharap anak-anak jalanan dan orang tua mereka dapat termotivasi untuk menempuh ke tahap pendidikan yang lebih tinggi lagi. Lewat pendidikan yang lebih baik, Vivi berharap, anak-anak jalanan tersebut dapat menata masa depan yang lebih cerah.


Tabrani Memprotes Hak Cuti Luar Negeri

Di masa lalu, pekerja di Hindia Belanda mendapat hak cuti luar negeri sampai 10 bulan.

SELENGKAPNYA

Jihad Dinasti Mamluk Melawan Mongol

Sultan Saifuddin Quthuz mengalahan pasukan Mongol di Lembah Ain Jalut.

SELENGKAPNYA
×