Hukum cerai dalam Islam diperbolehkan tapi bukan sesuatu yang disukai Allah SWT. | Republika/Prayogi

Fikih Muslimah

03 Apr 2022, 04:04 WIB

Syarat Suami Agar Dapat Menjatuhkan Talak ke Istri

Hukum cerai dalam Islam diperbolehkan tapi bukan sesuatu yang disukai Allah SWT.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Islam menetapkan suami sebagai pihak yang berhak menjatuhkan talak atau cerai. Hukum cerai dalam Islam diperbolehkan namun bukanlah sesuatu yang disukai Allah SWT. Karena itu, talak tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

Laki-laki memang merupakan pihak yang berhak menjatuhkan talak atau cerai, yakni dengan pertimbangan bahwa dialah yang selayaknya lebih berkeinginan dan berkepentingan akan keberlangsungan pernikahannya. Sebab, suamilah—bukan si istri—yang telah mengeluarkan banyak dari hartanya untuk keperluan itu.

Sekiranya dia bercerai dengan istrinya yang sekarang dan ingin melaksanakan akad nikah baru setelah itu, maka suami tidak boleh asal menjatuhkan talak.

Muhammad Bagir dalam buku Muamalah Menurut Alquran, Sunnah, dan Para Ulama menjelaskan, terdapat persyaratan suami untuk dapat menjatuhkan talak. Misalnya, dia harus memberi uang mut’ah (semacam ganti rugi atau adakalanya sebagai jaminan hidup selamanya) bagi istri yang dia cerai, juga nafkah baginya selama masa iddah, dan pembayaran mut’ah dan sebagainya.

Di antara persyaratan seorang suami untuk menjatuhkan talak atas istrinya adalah baligh, berakal waras, dan tidak dipaksa. Jika si suami gila atau belum dewasa atau melakukannya dalam keadaan di bawah ancaman, maka talaknya itu—apabila dilakukan juga—dianggap tidak berlaku.

Orang-orang seperti itu dianggap tidak mencukupi persyaratan untuk melakukan tindakan hukum. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Pena (pertanggungjawaban) terangkat dari tiga kelompok manusia; dari yang dalam keadaan tidur sampai dia terjaga kembali, dari anak kecil sampai dia dewasa, dan dari orang gila sampai dia berakal kembali (yakni, sembuh dari kegilaannya).”

 
Di antara persyaratan seorang suami untuk menjatuhkan talak atas istrinya adalah baligh, berakal waras, dan tidak dipaksa.
 
 

Telah diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidak akan dilakukan perhitungan atas umatku (yakni, tidak akan dimintai pertanggungjawaban) berkenaan dengan perbuatan yang mereka lakukan karena kesalahan (yakni tidak disengaja), karena kealpaan atau karena paksaan.”

Ketiga persyaratan tersebut disepakati oleh para ulama. Namun mereka berbeda pendapat mengenai sah atau tidaknya talak seorang sumi dalam berbagai keadaan tertentu.

Contohnya, yakni talak oleh suami yang sedang mabuk, talak suami yang sedang dalam keadaan marah, talak suami yang sedang dalam keadaan linglung, dan talak suami yang diucapkan secara main-main (tidak serius) atau tidak sengaja.

Untuk talak suami yang sedang mabuk mayoritas ahli fikih berpendapat bahwa takal demikian yang dianggap sah dan berlaku. Mengingat bahwa rusaknya akalnya atau hilangnya akalnya adalah akibat kehendak dan perbuatan sendiri.

photo
Sejumlah warga mengurus proses perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Senin (3/10).  - (Republika/Prayogi)

Meski demikian, ada pula sebagian dari para ulama yang menganggap talaknya itu tidak jatuh mengingat keadaannya disamakan dengan orang gila yang talaknya tidak dianggap sah.

Adapun talak suami yang sedang dalam keadaan linglung, yakni keadaan linglung yang mana ia tidak lagi mengerti apa yang dia ucapkan akibat bencana besar yang menimpanya. Musibah yang menimpanya sedemikian besar sehingga dia seolah-olah sudah kehilangan akal sehat.

Orang seperti itu, seandainya mengucapkan talak, maka talaknya tidak berlaku. Sama seperti apabila diucapkan oleh orang yang dalam keadaan pingsan, gila, dan sebagainya. Disamakan pula dengan itu, orang yang sudah pikun karena usianya yang amat lanjut atau menderita amat parah sehingga tidak sadar akan apa yang dia ucapkan.


Jihad Dinasti Mamluk Melawan Mongol

Sultan Saifuddin Quthuz mengalahan pasukan Mongol di Lembah Ain Jalut.

SELENGKAPNYA

Kegemilangan Dinasti Mamluk

Dinasti Mamluk sukses mengatasi ancaman invasi bangsa Mongol dan Pasukan Salib.

SELENGKAPNYA

Ramadhan, Bulan Penuh Hikmah

Ada banyak keutamaan dan hikmah yang ditawarkan bulan Ramadhan.

SELENGKAPNYA
×