Seorang mualaf, Mario Rajasa menuturkan pengalamannya dalam menemukan hidayah Illahi. | DOK YOUTUBE MUALAF CENTER AYA SOFYA

Oase

03 Apr 2022, 03:56 WIB

Islam Jalan Hijrah Mario Rajasa

Alasan Mario menjadi mualaf karena kecintaannya pada sosok Nabi Isa AS.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Hijrah berarti perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam sejarah, momen hijrah dimulai ketika Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin berpindah dari Makkah ke Madinah. Sejak itulah, syiar Islam semakin kuat.

Dalam terminologi sehari-hari, hijrah bermakna adanya peralihan karakteristik menjadi lebih elok. Umpamanya, seseorang yang dahulu dikenal gemar menyakiti perasaan orang lain kemudian berubah menjadi lebih peka dan santun dalam pergaulan.

Bagi Mario Rajasa, jalan hijrah yang dialaminya bermula dari syahadat. Ya, keputusannya untuk berislam mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Mualaf tersebut merasa dirinya lebih condong pada kebajikan sesudah memantapkan hati untuk memeluk agama tauhid.

Lelaki yang kini berusia 27 tahun itu mengaku, sebelum menjadi Muslim dirinya sering melakukan kenakalan remaja. Barangkali, hal itu terjadi karena pengaruh teman-temannya. Pergaulan yang salah membuatnya tumbuh sebagai seorang pemuda yang tidak begitu peduli pada masa depan.

“Saya berteman dengan orang-orang yang sering mengajak dugem dan minum minuman keras, bahkan hingga tak sadarkan diri (karena mabuk),” ujar dia, seperti dikutip Republika dari siaran video yang diunggah oleh Mualaf Center Aya Sofia via YouTube, beberapa waktu lalu.

 
Saya berteman dengan orang-orang yang sering mengajak dugem dan minum minuman keras, bahkan hingga tak sadarkan diri
 
 

Untuk sekadar bersenang-senang dengan menenggak khamar, Mario Rajasa bahkan nekat melakukan kejahatan. Misalnya adalah mencuri uang milik beberapa anggota keluarga di rumah. Bahkan, beberapa barang kepunyaan neneknya raib karena dijual secara diam-diam olehnya. Karena geram, sang nenek sempat nyaris melaporkannya kepada pihak kepolisian.

Sesungguhnya, keluarga Mario tergolong berada. Masyarakat menganggap mereka sebagai warga yang sopan dan baik. Karena itu, perilaku buruk anak muda itu sering membuat malu pihak keluarganya.

Pernah beberapa kali ayahnya memberikan uang jajan melebihi yang biasanya. Hal itu dengan harapan, Mario segera menghentikan kebiasaan mencuri. Namun, berapapun uang saku yang diterima seakan-akan tidak cukup bagi pemuda tersebut. Setiap hari, ada saja masalah yang ditimbulkannya.

Kedua orang tua Mario beragama Buddha. Akan tetapi, mereka tidak ragu untuk mendaftarkan sang anak ke sebuah lembaga pendidikan swasta yang berlabel sekolah Katolik. Alasannya, sekolah itu terkenal memiliki sistem pengajaran yang cukup bagus. Karena yang dipelajari di sana adalah Katolik, lambat laun pemuda tersebut ikut-ikutan menganut agama ini.

Jangan bayangkan Mario kemudian menjadi insaf. Sebab, baginya saat itu agama sekadar identitas belaka di atas kertas. Dia masih jauh dari kesan sebagai seorang penganut yang taat.

 
Dia masih jauh dari kesan sebagai seorang penganut yang taat.
 
 

Ibadah yang pernah dilakukannya sebagai pemeluk Nasrani bisa dihitung denngan jari. Ia mengenang, ke tempat ibadah cuma empat kali dalam setahun, yakni pada momen hari-hari besar yang libur nasional.

Tidak hanya jauh dari kecenderungan agamis. Mario ketika itu masih saja tidak peduli pada dampak keonaran yang kerap dilakukannya. Beberapa kali, dirinya meluapkan emosi dan amarah secara tak terkendali.

“Saya menjadi orang yang pemarah kepada siapapun. Bahkan, ketika orang ingin bercanda dengan saya, saya akan mudah tersinggung,” kata dia.

Sebelum hidayah menerangi hatinya, Mario mengaku, dia tidak pernah taat kepada ayah dan ibu. Banyak perintah dan saran keduanya yang selalu diabaikannya.

Mengenal Islam

Fase perubahan dalam hidupnya dimulai ketika lulus SMA. Salah satu kelebihan Mario Rajasa terletak pada bidang akademik, khususnya ilmu matematika. Hal itu terbukti dari berbagai perlombaan yang pernah dimenangkannya.

Mario kemudian terdaftar sebagai seorang mahasiswa. Ilmu komputer menjadi jurusan yang diambilnya. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, dia selalu hadir di dalam kelas. Di luar jam-jam kuliah, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan sehingga memiliki cukup banyak teman.

Berbeda dengan masa SMA, kali ini lingkar pertemanannya lebih majemuk. Bahkan, banyak kawannya yang secara tidak langsung memberikan teladan tentang kerja keras, empati, dan rasa saling menghargai. Barangkali, watak mereka sebagai mahasiswa perantauan ditempa oleh pengalaman.

Tidak sedikit mahasiswa yang menjadi kawan Mario berasal dari kalangan Muslimin. Memang, kampus tempatnya belajar bernaung di bawah sebuah yayasan non-Muslim. Akan tetapi, universitas tidak pernah membatasi siapapun yang ingin belajar di sana hanya karena agama yang dipeluk.

 
Kampus tempatnya belajar bernaung di bawah yayasan non-Muslim. Namun, universitas tidak pernah membatasi yang ingin belajar hanya karena agama yang dipeluk.
 
 

Maka pada fase mahasiswa inilah Mario mulai sedikit mengenal Islam. Di satu sisi, ia merasa nyaman berinteraksi dengan teman-temannya yang Muslim. Namun, di sisi lain persepsinya saat itu tentang agama ini masih cenderung negatif.

Sebagai contoh, Mario memandang Muslimah yang memakai hijab sebagai orang-orang yang aneh. Dalam anggapannya, kain penutup rambut dan lekukan tubuh itu adalah milik kebudayaan Arab. Sementara itu, Indonesia adalah negeri tropis. Kalau mengenakan kerudung, bukankah orang akan lebih merasa gerah? Begitu pikirnya.

Terlebih lagi, pada tahun-tahun itu marak pemberitaan tentang terorisme. Dan beberapa media acap kali membuat pembingkaian (framing) bahwa ekstremisme berkaitan dengan Islam. Mario pun kerap terbawa arus framing demikian sehingga kesannya tentang agama tauhid semakin penuh curiga.

Waktu dapat mengubah pendirian seseorang. Itulah pula yang terjadi padanya. Lelaki ini kian tertarik untuk mengenal Islam setelah memerhatikan beberapa kawan Muslimnya yang taat beribadah.

Pada 2016, ia pun memulai riset sederhana mengenai kepercayaan. Perhatian awalnya tertuju pada agamanya sendiri. Setiap agama pasti memiliki buku yang dianggap para pemeluknya sebagai kitab suci. Maka hari itu ia pun mengambil kitab agamanya yang sudah lama terabaikan di sudut lemari.

photo
Mario Rajasa mengaku, sejak menjadi Muslim perlahan-lahan dapat memperbaiki akhlak diri sendiri. - (DOK INSTAGRAM RAJASAMARIO)

Menjadi Muslim

Setelah membaca kitab agamanya, Mario Rajasa tertarik untuk menelusuri kisah Nabi Isa (Yesus). Ia mengadakan riset pribadi untuk menemukan jawaban, apakah Nabi Isa meminta kepada orang-orang agar mereka menyembah dirinya. Ataukah, sang nabi mengimbau khalayak untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Dalam proses pencarian ini, Mario kerap berdialog dengan kawan-kawannya yang Muslim. Mereka umumnya berpandangan, dalam ajaran Islam sosok Nabi Isa dan ibunda beliau, Maryam (Maria), adalah mulia. Bahkan, sebuah surah dalam Alquran diberi nama “Maryam”.

Mereka juga mengatakan, Nabi Isa bukanlah Tuhan. Beliau bukan pula “anak Tuhan” karena jelas Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Itulah yang disebut sebagai konsep tauhid.

Tidak hanya membaca berbagai buku, lelaki berdarah Tionghoa ini juga menonton beberapa tayangan ceramah tentang kristologi, termasuk yang disampaikan pendakwah Muslim. Akhirnya, ia semakin yakin pada kesimpulan bahwa Nabi Isa ditugaskan oleh Allah untuk umat secara spesifik, yakni Bani Israil.

 
Ada kesinambungan ajaran antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW.
 
 

Dan juga, ada kesinambungan ajaran antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Bedanya adalah, yang terakhir itu menyampaikan ajaran untuk seluruh umat manusia, bukan kelompok tertentu saja. Maka sudah sepatutnya orang-orang pada masa kini untuk mengikuti ajaran beliau, bukan lagi Nabi Isa.

Dengan tekad yang kuat, Mario memutuskan untuk berislam. Ia kemudian mendatangi gedung Jakarta Islamic Center (JIC) yang berlokasi cukup dekat dengan rumahnya di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kebetulan, saat itu pria ini tidak memiliki uang untuk ongkos kendaraan umum. Ia pun memilih berjalan kaki ke JIC. Sesampainya di tempat tujuan, ia menemui seorang ustaz.

Setelah mengetahui niatnya, dai itu lantas membimbing Mario untuk bersyahadat. Di hadapan sejumlah saksi, pemuda tersebut mengucapkan ikrar tersebut. Resmilah dirinya menjadi seorang Muslim.

Saat ditanya, ia dengan mantap menjawab alasan dirinya menjadi mualaf. Yakni, kecintaannya pada sosok Nabi Isa AS. Karena rasa cinta itu, ia pun rela untuk mematuhi perintah beliau, yakni beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan mengikuti petunjuk sang nabi akhir zaman, Rasulullah Muhammad SAW. Keterangan tentang akan datangnya sosok Ahmad atau Nabi SAW sudah disebutkan dalam kitab Injil, yang disampaikan Nabi Isa AS.

Setelah bersyahadat, Mario sempat menyembunyikan keislamannya karena khawatir keluarganya tidak bisa menerima keputusannya. Selama dua bulan, ia selalu diam-diam pergi ke masjid untuk shalat. Ia pun hanya membeli Alquran yang berukuran kecil agar tidak mudah terlihat.

 
Selama dua bulan, ia selalu diam-diam pergi ke masjid untuk shalat. Ia pun hanya membeli Alquran yang berukuran kecil agar tidak mudah terlihat.
 
 

Akan tetapi, pada akhirnya “rahasia” terkuak. Suatu hari, Mario hendak mengunjungi kakaknya yang sedang merantau di Jepang. Kedua orang tuanya turut serta dalam perjalanan ini.

Saat transit di Malaysia, Mario ketahuan membawa mushaf Alquran. Bapaknya pun marah besar. “Ayah khawatir kalau saya menjadi Muslim saya terpengaruh menjadi ekstremis, teroris,” katanya.

Kemudian, Mario menjelaskan secara santun bahwa ajaran Islam bukanlah seperti yang selama ini distigmakan. Namun, sang ayah tetap saja bergeming.

Dari seorang ustaz, Mario mendapatkan nasihat bahwa Islam melarang seorang anak untuk durhaka pada orang tua. Kalaupun antara kedua belah pihak terdapat perbedaan agama, maka akidah tetap dipertahankan, tetapi pergauli ayah dan ibu dengan baik.

 
Kata-kata yang santun, sikap yang ramah, dan menghormati—itulah yang mesti dilakukan seorang anak kepada bapak dan ibu.
 
 

Kata-kata yang santun, sikap yang ramah, dan menghormati—itulah yang mesti dilakukan seorang anak kepada bapak dan ibu.

Mario menerapkan anjuran itu. Pada akhirnya, kedua orang tuanya mulai merasa bahwa buah hati mereka semakin baik dalam bersikap. Kondisi itu sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika mereka dipusingkan oleh kebiasaan Mario yang hobi mabuk-mabukan dan mencuri.

Karena itu, lambat laun ayah dan ibu tidak lagi mempermasalahkan keislaman Mario. Remaja ini lantas dibiarkan untuk beribadah shalat di rumah. Bahkan, selama Ramadhan mereka menyediakan sajian iftar dan sahur untuknya.


Jihad Dinasti Mamluk Melawan Mongol

Sultan Saifuddin Quthuz mengalahan pasukan Mongol di Lembah Ain Jalut.

SELENGKAPNYA

Kegemilangan Dinasti Mamluk

Dinasti Mamluk sukses mengatasi ancaman invasi bangsa Mongol dan Pasukan Salib.

SELENGKAPNYA

Lelaki Akhir Zaman

Hadis ini dijelaskan jika perempuan nanti akan semakin banyak, sementara jumlah kaum lelaki semakin sedikit.

SELENGKAPNYA
×