Sejumlah umat Muslim menjaga jarak saat pelaksanaan shalat Idul Fitri 1442 Hijriah di Masjid Dian Al-Mahri, Depok, Jawa Barat Kamis (13/5/2021). | Republika/Putra M. Akbar

Nasional

28 Mar 2022, 03:45 WIB

Potensi Kenaikan Kasus Setelah Lebaran Lebih Rendah

Bila tidak ada varian baru, gelombang kasus pascalibur Lebaran diprediksi tidak ada.

JAKARTA -- Dua tahun terakhir libur Lebaran selalu menjadi 'hantu' penyebab kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia. Mobilitas warga yang tinggi ditambah kondisi rendahnya laju vaksinasi pada tahun lalu membuat kasus Covid-19 melonjak pascalibur Lebaran.

Tahun ini kondisinya berbeda sebab 70 persen target masyarakat Indonesia sudah mendapatkan vaksin lengkap dua dosis. Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo berharap lonjakan kasus Covid-19 pun tak terjadi setelah libur Idul Fitri 2022.

"Mudah-mudahan tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19 usai libur Idul Fitri 2022. Syaratnya adalah tidak ada varian baru," ujar Windhu, Ahad (27/3).

Ia menambahkan, hal yang meningkatkan kasus Covid-19 secara signifikan yaitu akibat varian baru. Selain itu, Windhu menyebutkan kasus Covid-19 meningkat usai libur Idul Fitri 2022 meski tak ada varian baru virus akibat orang tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes). Bahkan, ia menegaskan penerapan prokes adalah syarat yang paling penting karena penularan Covid-19 terjadi kalau ada ketidakpatuhan dalam prokes.

Kendati demikian, Windhu memperkirakan kenaikan kasus Covid-19 usai libur Idul Fitri akibat abai prokes tidaklah setinggi jika ada varian baru. "Karena jika ada varian baru virus, artinya tidak dikenali oleh antibodi yang ada di tubuh penduduk. Varian baru ini jadi tidak dikenali," katanya.

Kemudian, Windhu juga merekomendasikan cakupan vaksinasi Covid-19 dua dosis di daerah tujuan mudik harus sudah sangat tinggi. Windhu meminta cakupan vaksinasi dosis lengkap benar-benar dikejar.

"Cakupan vaksin Covid-19 penguat (booster) boleh kecil, tetapi dosis kedua betul-betul harus sudah 100 persen atau hampir 100 persen," katanya.

Permintaannya bukan tanpa alasan. Windhu menyoroti sekarang banyak daerah tujuan mudik yang cakupan vaksinasinya belum 100 persen, bahkan di bawah 70 persen. Ia mencontohkan, cakupan vaksinasi Covid-19 dosis kedua di daerah Jawa Timur yang tak sampai 50 persen. "Itu harus dikejar supaya daerah tujuan mudik jadi aman," ujarnya.

photo
Warga mengantre untuk mendapatkan vaksinasi dosis ketiga (booster) di DPD Partai Demokrat Jawa Timur Jalan Kertajaya Indah, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/3/2022). - (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Windhu khawatir jika ada varian baru dan prokes abai, ditambah cakupan vaksinasi belum maksimal, maka bisa terjadi gelombang kelima Covid-19. Ia menyebutkan, gelombang pertama pada Agustus-September 2020, kemudian gelombang kedua pertengahan Januari 2021.

Lalu, gelombang ketiga yang sangat menakutkan karena ada varian delta yang mendominasi pada Juni-Juli 2021. Kemudian, gelombang keempat setelah libur Natal dan tahun baru Januari-Februari, dan gelombang kelima setelah libur Idul Fitri 2022.

Vaksinasi juga menjadi syarat penting bagi masyarakat yang ingin menikmati liburan Lebaran. Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Chusmeru mengatakan, salah satu alasannya, pada saat libur Lebaran dikhawatirkan akan terjadi euforia masyarakat di objek wisata.

"Apalagi, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan boleh mudik bagi masyarakat. Objek dan daya tarik wisata di daerah tentu akan banyak diserbu masyarakat," katanya.

Ia menganjurkan masyarakat yang ingin berwisata harus sudah booster demi melindungi masyarakat di tengah euforia berwisata tersebut. "Vaksin penguat akan dapat menciptakan kekebalan komunitas. Ketika terjadi interaksi antara wisatawan dan pekerja pariwisata dan masyarakat, dapat mengurangi risiko terpapar Covid-19," katanya. ';

Jalur Mudik Disediakan Posko Vaksinasi

Diprediksi kurang lebih 56 juta orang akan mudik pada Lebaran tahun ini.

SELENGKAPNYA

Mengantisipasi Gelombang Kenaikan Harga

Konstelasi geopolitik akan menjadi faktor penambah bagi gelombang kenaikan harga komoditas.

SELENGKAPNYA

Gus Yahya: PBNU tak Bisa Diklaim Satu Pihak

Karena milik semua orang, NU ingin mengajak seluruh rakyat di Indonesia untuk bersatu.

SELENGKAPNYA
×