Ketua DPR Puan Maharani (tengah) berbincang dengan Presiden Inter-Parliamentary Union (IPU) Duarte Pacheco (kiri) disaksikan Sekretaris Jenderal IPU Martin Chungong (kanan) saat konferensi pers jelang IPU Assembly and Related Meetings ke-144 di Bali Inter | ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.

Nasional

Kala ASEAN Ikut Susun Resolusi Konflik Rusia-Ukraina

Puan Maharani akan mendorong pembahasan krisis Ukraina dalam sidang IPU ke-144 yang digelar di Nusa Dua, Bali.

OLEH FEBRIANTO ADI SAPUTRO

Negara-negara ASEAN+3 menyepakati Indonesia menyusun resolusi konflik antara Ukraina dan Rusia. Tidak hanya itu, Indonesia juga diutus untuk membawa resolusi konflik ke dalam forum Asia Pasific Meeting (APG) Ahad (20/3) sore ini.

"Hari ini juga kita daftarkan emergency item kita itu, dan kita juga disepakati juga akan menjadi drafting committee untuk resolusi ini. Jadi, dari ASEAN+3 mengutus Indonesia. Kita harapkan juga dari APG," kata Ketua Bada Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Fadli Zon, di Bali Internasional Convention Center (BICC), Nusa Dua, Ahad (20/3).

Keanggotaan ASEAN+3 diisi oleh negara-negara ASEAN anggota International Parliamentary Union (IPU) ditambah dengan sejumlah negara di Asia, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Fadli berharap, melalui upaya tersebut Indonesia bisa membantu mencarikan solusi yang tepat atas konflik yang terjadi.

Terlebih lagi, kata Fadli, Indonesia memiliki hubungan baik dengan Rusia dan Ukraina. "Dan, kita juga mempunyai hubungan yang baik dengan kedua parlemen, kita baik dengan parlemen Rusia, kita baik juga dengan parlemen Ukraina dan kita di pihak yang sejalan dengan politik luar negeri kita yang bebas aktif. Agak lebih leluasa berbicara ketimbang negara-negara lain," ucapnya.

Ia berharap, solusi yang dihasilkan tidak  menambah penghakiman terhadap salah satu pihak. Menurut dia, peran parlemen dalam menjadi jembatan konflik Ukraina-Rusia sangat diharapkan.

"Setelah ini yang kita harapkan adalah ada yang menjembatani dan mengambil inisiatif dan harusnya ini IPU. Membuat mungkin semacam tim kecil yang bisa menjembatani kedua parlemen baik Rusia dan Ukraina," tuturnya.

Pertemuan ASEAN+3 adalah kegiatan di luar rangkaian utama sidang IPU ke-14 yang digelar di Nusa Dua, Bali pada 20-24 Maret 2022. Delegasi dari Indonesia diwakili oleh Wakil Ketua DPR Lodewijk F Paulus, dan Ketua BKSAP Fadli Zon.

photo
Polisi berjaga di kawasan Bali International Convention Center yang akan menjadi lokasi sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) Assembly and Related Meetings ke-144 di Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (19/3/2022). - (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/rwa.)

Sebelumnya, Ketua DPR RI, Puan Maharani, juga menyatakan akan mendorong pembahasan krisis Ukraina dalam sidang IPU ke-144 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali. Sebagai President of Assembly pada IPU ke-144, Puan menyatakan, akan mengajak majelis sidang IPU membicarakan resolusi konflik antara Rusia dan Ukarina.

"Parlemen perlu lebih terlibat dalam pembahasan isu-isu internasional. Peran Parlemen diperlukan untuk memberi dukungan kepada kesepakatan internasional termasuk pada isu perdamaian dan keamanan internasional yang juga menjadi perhatian karena dunia belum sepenuhnya terbebas dari konflik," ucapnya.

IPU ke-144 kemarin dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Sebanyak 115 negara hadir dalam event yang digelar hingga 24 Maret 2022. Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Putu Supadma Rudana, memastikan perwakilan Rusia dan Ukraina tidak akan hadir dalam penyelenggaraan sidang IPU tahun ini.

"Mereka tidak hadir dari Ukraina tidak hadir, Rusia juga tidak hadir," kata, Sabtu (19/3).

Putu menduga keduanya sudah mengetahui bahwa salah satu isu yang dibahas dalam pertemuan IPU tahun ini adalah soal konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Putu mengatakan, Indonesia berharap keduanya masih mau hadir dalam pertemuan nanti.

"Tentu yang kita arahkan adalah mengenai perdamaian di kawasan Eropa," ujarnya.

Presiden IPU, Duarte Pacheco, juga memastikan, isu konflik Rusia-Ukraina juga akan dibahas dalam sidang IPU ke-144 di Bali. Pacheco mengatakan, isu konflik antara Rusia dan Ukraina mendesak untuk dibahas.

"Karena tidak mungkin kita membahas masalah-masalah dunia, tapi melupakan perang yang mungkin terhadi di sana yg berdampak pada seluruh negara di dunia," kata Pacheco, Sabtu (19/3).