Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, NTB, Jumat (27/8/2021). Menurut data PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara hingga bulan Agustus 2021 realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) u | ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww.

Ekonomi

PLN Kembangkan Energi Baru Terbarukan

Di Pulau Flores, PLN telah mengembangkan sejumlah pembangkit EBT.

KUPANG — PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat tingkat bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Pulau Flores hingga Maret 2022 telah mencapai 15,24 persen dari hasil pemanfaatan berbagai jenis energi hijau.

"Bauran EBT 15,24 persen ini berupa pemanfaatan energi panas bumi, air, dan juga energi surya," kata General Manager PT PLN (Persero) UIW NTT Agustinus Jatmiko dalam keterangan yang diterima di Kupang, Sabtu.

Pengembangan EBT di Flores merupakan bagian dari upaya PLN untuk mendukung target pemerintah terkait peran EBT untuk bauran energi nasional mencapai 23 persen pada 2025.

Di Pulau Flores sendiri, kata dia, PLN telah mengembangkan sejumlah pembangkit EBT seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) berkapasitas 2x1 MegaWatt (MW) di Ndungga Kabupaten Ngada.

Selain itu ada PLTMH Ogi dan PLTMH Wae Roa di Ngada, PLTMH Waigarit di Ruteng, Kabupaten Manggarai, PLTMH Sita di Manggarai.Ia menjelaskan PLN juga tengah mengembangkan EBT dengan kapasitas besar yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Ngada dengan kapasitas daya 20 MW.

Pengembangan panas bumi ke depan, kata dia, tidak hanya di Mataloko.PLN juga akan memulai persiapan untuk PLTP Ulumbu di Kabupaten Manggarai dan PLTP Atadei di Kabupaten Lembata.

Jatmiko menjelaskan selain potensi panas bumi dan mikro hidro, Pulau Flores juga memiliki potensi EBT dari energi panas matahari yang telah dikembangkan di sejumlah titik.

Ia mencontohkan seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada pulau-pulau kecil di sekitar Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, seperti Pulau Messah, Pulau Papagarang, Pulau Seraya Marannu, Pulau Batu Tiga Boleng, maupun Pulau Kojadoi di Kabupaten Sikka.

Pengembangan PLTS, kata dia, menyasar wilayah-wilayah terpencil yang tidak bisa dijangkau jaringan listrik PLN yang eksisting untuk menggantikan penggunaan genset berbahan bakar diesel yang dipakai oleh masyarakat."PLN berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan bauran EBT di NTT yang memiliki potensi yang cukup melimpah sebagai langkah menuju transisi energi hijau berkelanjutan," katanya.

Garap PLTU

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus bersinergi demi meningkatkan kinerja bisnis. PT PLN (Persero) bersinergi dengan PT Sang Hyang Seri (SHS) mengembangkan sekam padi yang selama ini terbuang menjadi bahan baku biomassa untuk program co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). 

"Kerja sama PLN dan SHS menjadi langkah bersama untuk menekan emisi karbon. Di satu sisi, kerja sama ini juga bisa meningkatkan efisiensi dua BUMN dalam mengelola limbah menjadi bahan bernilai,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/3).

Sekam padi merupakan salah satu bahan baku yang bisa diolah menjadi biomassa. Hingga 2025, PLN membutuhkan kurang lebih 10,2 juta ton biomassa untuk menjadi substitusi 10 persen kebutuhan batu bara di pembangkit listrik.

Sumber energi biomassa yang berasal dari sekam padi berupa pelet sekam yang akan menjadi sumber bahan bakar sangat besar potensinya di mana jumlahnya terus meningkat sejalan dengan peningkatan program pemerintah dalam produksi pertanian.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Direktorat Jenderal EBTKE (djebtke)

Direktur Utama SHS Maryono menjelaskan, kerja sama dengan PLN sejalan dengan transformasi bisnis yang dilakukan oleh perusahaannya. Apalagi, selama ini dalam mengelola sawah dengan hasil sebesar 55 juta ton per tahun ada tumpukan sekam sebesar 11 juta ton. 

"Kami akan mengolah sekam menjadi bentuk pelet yang bisa digunakan PLN untuk program co-firing," kata Maryono.

Saat ini PLN dan SHS sudah melakukan uji coba penggunaan pelet dari sekam pada dua PLTU, yaitu PLTU Lontar dan PLTU Indramayu. Pelet yang berasal dari sekam padi mempunyai nilai kalori tinggi sebesar 3.700 kilokalori per kilogram, sehingga mampu menjadi substitusi batu bara.

"Pengembangan ini tidak hanya di Jawa saja, wilayah Sulawesi Selatan sebagai salah satu lumbung padi Indonesia juga bisa menjadi proyek selanjutnya bersama PLN," ujar Maryono.

PLN dan SHS juga menggandeng BUMN lainnya, yakni Perhutani terkait pemenuhan kebutuhan biomassa dalam rangka mendukung program co-firing PLTU demi meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT).

Sinergi ketiga BUMN ini juga menjadi bukti komitmen Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 dalam mempercepat transisi energi hijau dan mendukung pencapaian target netralitas karbon pada 2060.

"Saat ini akan dimanfaatkan di dua pembangkit dengan total penyediaan sebesar 25 ribu ton untuk biomassa pada tahap awal," kata Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Sang Hyang Seri (sanghyangseri)

Pahala berharap, kerja sama itu dapat menyediakan 10 juta ton biomassa yang bisa dilakukan dalam lima sampai tujuh tahun mendatang. Menurut dia, kerja sama itu bisa memberikan sisi positif bagi ketiga BUMN dari sisi pendapatan. Selama ini sekam padi milik SHS menjadi limbah, sehingga pemanfaatan sekam padi menjadi produk co-firing bisa menambah pendapatan perusahaan.

"Begitu pula di Perhutani dengan kerja sama ini memperluas bidang Perhutani dalam pengelolaan hutan dan bisa meningkatkan pendapatan. Sedangkan, dari sisi PLN juga bisa mengantongi penghematan dari sisi pengadaan bahan baku PLTU melalui program ini," kata Pahala.

Direktur Utama Perum Perhutani Wahyu Kuncoro menjelaskan, pasar energi merupakan terobosan pasar baru dalam bisnis kehutanan dan kepastian pasokan dalam jangka panjang merupakan faktor yang krusial dalam melayani pasar energi. Hingga 2021, Perhutani telah melakukan pengembangan hutan tanaman energi seluas 31.136 hektare yang tersebar di 15 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani.

Perhutani berkomitmen mengembangkan industri biomassa yang kompetitif dan berkelanjutan untuk mendukung pengembangan energi baru terbarukan dan memenuhi komitmen penurunan emisi karbon. 

"Perhutani akan melanjutkan pembangunan hutan tanaman energi sesuai RJPP, membangun industri biomassa, melakukan sertifikasi pengelolaan hutan lestari dan industri pengolahan (skema PHPL dan FSC) untuk memastikan sustainability pasokan biomassa dalam jangka panjang," kata Wahyu.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat