Anggota Kokam menanam bibit bambu saat gerakan penanaman sabuk gunung pemuda Muhammadiyah di lereng gunung Prahu dusun Gunung Wuluh, Canggal, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (14/12/2021). | ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.

Opini

04 Mar 2022, 03:45 WIB

Politik Pemuda Negarawan

Semoga visi kenegarawanan menjadi penegasan atas lahirnya generasi muda mimesis.

ZAEDI BASITURROZAK, Bendahara Umum PP Pemuda Muhammadiyah

Menerima pengetahuan untuk diketahui dan diaktualisasikan merupakan fondasi dan cara manusia merumuskan dirinya dalam membangun suatu konsep, baik secara empiris maupun menggunakan peran aktif akal.

Berbekal prinsip ini, manusia dapat mengekspresikan diri, mengimitasi, dan memilah ruang publik mana yang tepat dengan pertimbangan etis.

Kendati cukup bekal dan berdasar, kenyataan di lapangan tidak seindah argumentasi Hume saat menyadari adanya keterbatasan pengetahuan. Di tengah kompleksitas hidup yang rumit, kesan-kesan pengalaman yang dialami manusia menjadi tidak sederhana, kecil, dan kontradiktif.

Yang cukup menyita perhatian adalah bagaimana politik hari ini lebih menampilkan deretan ensiklopedi persolan politik, ketimbang pembudayaan politik yang dapat menjadi teladan generasi muda pada masa mendatang.

 
Yang cukup menyita perhatian adalah bagaimana politik hari ini lebih menampilkan deretan ensiklopedi persolan politik, ketimbang pembudayaan politik yang dapat menjadi teladan generasi muda pada masa mendatang.
 
 

Sayangnya, mimesis politik yang dipertunjukkan hari ini malah menjadi gelanggang politik kumuh dan menafikan keutamaan berpolitik yang mendidik, seperti diwariskan Plato atau Hamka, yakni politik tanpa membalas dengan hikmah lembaga budi.      

Para pemuda, sulit menghindar dari konflik (tawuran) yang akhirnya menampilkan generasi amuk. Generasi milenial di jagat digital pun tidak sulit mencari lawan ketimbang mencari kawan berpolitik yang mencerdaskan.

Setiap individu menginginkan bahagia. Namun, ingatan individu dalam suatu waktu menghadirkan penderitaan serta ratapan yang melumpuhkan penalaran. Padahal, pejuang dan pendiri bangsa ini juga bekerja keras dengan peluh, penderitaan yang tak kalah hebat.

Di luar itu, karena mereka punya inspirasi dan kekuatan untuk memiliki negara, perjuangannya meninggalkan jejak sejarah. Pada masyarakat modern ini, sejatinya pemuda dapat belajar dari masa lalu bahwa memiliki itu tak sekadar menggapai kebahagiaan dan kuasa atas harta.

 
Para pemuda, sulit menghindar dari konflik (tawuran) yang akhirnya menampilkan generasi amuk. Generasi milenial di jagat digital pun tidak sulit mencari lawan ketimbang mencari kawan berpolitik yang mencerdaskan.
 
 

Tolok ukur memiliki tidak berhenti pada suatu materi atau benda. Mengutip bahasa Erich Fromm (1987), ikhtiar memiliki itu kendati logis, di balik itu juga memerlukan proses sebagai modus eksistensi untuk menjadi sesuatu bermakna, baik bagi diri pemuda maupun masyarakat.

Hamka muda tak memiliki apa pun selain ikhtiarnya belajar dan terus menulis untuk otokritik terhadap dirinya dan masyarakat, bahwa kehidupan modern tak hanya merusak adab, tapi perlu dijemput dengan ilmu dan etika.

Peluh yang sama juga dihadapi Tan Malaka pada masa mudanya, tapi tetap penderitaan harus dilawan dengan menjemput pendidikan. Sebab baginya, idealisme adalah kebahagiaan terakhir pada masa muda dan semakin terbentur maka jiwa akan semakin terbentuk.

Proses menjadi ini, tentu saja dialami para tokoh cemerlang terdahulu lainnya, yang bisa dibilang sebagai mimesis keteladanan dalam berjuang dan berpolitik sebagai negarawan tanggguh.

Pesan ini jika ditamsilkan dengan nasihat Socrates bahwa tangguh mirip dengan kuat atau unggul, dalam arti sesuatu yang lebih baik secara hakiki.

 
Nilai-nilai luhur yang dibangun dan dimiliki bangsa ini merupakan keutamaan yang harus dijaga generasi muda, agar menjadi buah keteladanan yang bisa diajarkan kepada generasi selanjutnya.
 
 

Pemuda negarawan

Pemuda adalah bagian dari warga negara yang akan mewarisi tampuk kepemimpinan pada masa mendatang.

Maka itu, nilai keutamaan dari para pendahulu tentang kenegarawanan, seyogianya dapat ditimba dengan mengkaji dan memahami peristiwa perjalanan bangsa ini dengan kerangka holistik.

Bukan visi kaum sofis yang memanfaatkan peluang, kelengahan, dan kesengsaraan masyarakat di tengah kompleksitas dan keragaman hidup yang lekat sebagai identitas bangsa.

Nilai-nilai luhur yang dibangun dan dimiliki bangsa ini merupakan keutamaan yang harus dijaga generasi muda, agar menjadi buah keteladanan yang bisa diajarkan kepada generasi selanjutnya.

 
Kekuasaan dalam konteks kenegarawanan bukanlah menjadi tujuan utama, melainkan hanya sebagai instrumen publik anak muda dalam mendistribusikan nilai keadilan dan kebahagiaan bagi masyarakat.
 
 

Karena itu, para pemuda harus muncul di depan publik sebagai aktor komunikasi, pembawa pesan kritis lewat jalur ruang publik yang bermartabat untuk membuka tabir ketimpangan, yang dirasakan kaum tertindas dan kelompok marginal.

Kekuasaan dalam konteks kenegarawanan bukanlah menjadi tujuan utama, melainkan hanya sebagai instrumen publik anak muda dalam mendistribusikan nilai keadilan dan kebahagiaan bagi masyarakat.

Visi ini sejalan dengan lahirnya organisasi Pemuda Muhammadiyah, yang melaksanakan Tanwir 2 di Jambi. Semoga visi kenegarawanan menjadi penegasan atas lahirnya generasi muda mimesis, yang memiliki tanggung jawab etis dan politik terhadap setiap persoalan bangsa. 


×