Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Ketika Allah Memberikan Ujian

Sungguh Allah tak memberi ujian di luar kesanggupan. Beragam pula cara-Nya membangun persiapan.

OLEH ASMA NADIA

“Saya percaya bahwa ketika Allah memberi ujian selalu terukur, sesuai dengan kesanggupan seseorang. Juga bahwa Dia tak mungkin memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya, tanpa menyiapkan lebih dahulu.”

Baris pertama dari perkataan seorang sahabat itu, saya mengerti. Ujian yang Allah berikan tak pernah di luar kesanggupan. Kadang sebagian kita merasa, cobaan yang diterima terlalu berat, hampir-hampir di luar kemampuan. Tapi Allah tak pernah salah mengukur batas, daya tahan seseorang. 

Arti dari kalimat kedua sahabat saya itu agak terlambat baru saya pahami. 

Berawal ketika  hal yang tidak pernah diharapkan siapa pun selama pandemi ini-terjadi. Bungsu kami merasa tidak enak badan, seperti batuk pilek disusul demam. Tubuhnya panas tinggi, namun mahasiswa semester 6 itu justru menggigil kedinginan. 

 
Saya mengabarkan dokter di kompleks perumahan yang dengan cepat memberikan obat, untuk berjaga.
 
 

Saya mengabarkan dokter di kompleks perumahan yang dengan cepat memberikan obat, untuk berjaga. Tidak seketika panas di tubuh ananda menurun. Lewat tengah malam saat ke kamarnya, saya melihat putera kami masih terbaring di balik selimut.

Saya menggantikan kaus juga sweaternya yang basah. Namun panasnya masih ada. Besoknya meski masih agak pusing, ananda sudah bisa bangkit dari  tempat tidur dan rapat virtual. Panasnya sudah jauh mereda. 

Sebenarnya ketika si bungsu mengeluh tidak enak badan, suami langsung meminta kami, termasuk puteri saya yang sedang berada di rumah karena suaminya bertugas di Papua untuk menjaga jarak dengan si bungsu. Termasuk memisahkan kamar mandi. Saya sendiri selama beberapa hari si kakak menginap, selalu tidur bersamanya. Sejak omichron suami yang kadang masih harus keluar untuk berbagai kepentingan juga memisahkan diri, tidur di lantai atas.

Saat di bungsu sudah mulai membaik, ayahnya kini merasa tidak enak badan. Meski tidak demam tapi wajahnya merah dan kerongkongan gatal. Besoknya kami semua termasuk Mbak yang datang membantu di rumah, juga supir, melakukan swab antigen. Hasilnya, ayah, Adam serta si Mbak positif. Saya, Salsa dan supir negatif. 

Syukurlah satgas di kompeks sigap. Obat disiapkan buat ayah bahkan si Mbak meski tinggal di luar. Alhamdulillah. Kepada keluarga dan sekitar,  kami infokan bahwa ayah dan adam resmi melakukan isoman. Hasilnya, suami saya sampai merasa tidak enak, karena kemudian, banyak sekali kiriman dari tangan-tangan baik seringkali tanpa menyebut nama. 

 
Tidak mungkin meninggalkan ananda yang kondisinya masih lemah, sendiri. Saya putuskan baru pergi setelah menantu saya kembali. 
 
 

Keputusan keluarga pun dibuat. Mengingat Adam sudah lebih baik, ayah juga merasa masih bisa isoman di rumah, maka saya untuk sementara waktu akan tinggal bersama si kakak di rumahnya, sampai suaminya kembali.

Sebenarnya saya khawatir karena suami punya komorbid.  Tapi beliau terus meyakinkan secara menurutnya saya dan si kakak harus dilindungi, khususnya karena saya memiliki komorbid. 

Hari pertama dan kedua aman, saya dan Salsa  tidur sekamar. Hari ketiga puteri saya mengeluh tidak enak badan. Kepala  pusing, demamnya sampai 40 derajat. Kami pisah kamar. Saya masih bolak balik mengurusnya, tentu prokes. Menggunakan masker, sedikit-sedikit cuci tangan, dan lebih rajin meminum air hangat agak panas. Yang terakhir sebenarnya kebiasaan lama. 

Esoknya saya dan Salsa test swab. Agar lebih meyakinkan, mengingat gejalanya kuat, puteri saya memutuskan PCR. Hasil swab kami negatif. Namun malamnya mendapatkan kepastian ternyata si kakak positif. 

“Bunda harus pindah.” 

Tidak mungkin meninggalkan ananda yang kondisinya masih lemah, sendiri. Saya putuskan baru pergi setelah menantu saya kembali. 

Sebenarnya begitu si sulung positif, kami sempat berpikir untuk menariknya kembali ke rumah, biar isoman bersama ayah dan adiknya, demi menjaga menantu. Tapi sejak awal pemuda berusia 26 tahun itu berpesan, bahkan jika Salsa positif dia siap merawat. 

 
Siapa mengira ternyata saya yang pertama isoman. Kenapa isoman padahal swab negatif? 
 
 

Bersyukur, menantu bertanggung jawab. Meksi khawatir, kami menghormati keputusan keduanya. Sekali lagi positifnya Salsa, kemudian diikuti suaminya, kami sampaikan  ke pihak keluarga juga tetangga dan teman. Selain mohon doa, agar yang sempat berinteraksi, bisa segera mengambil tindakan yang diperlukan. 

Saya akhirnya tinggal di rumah ibu. Di awal pandemi, sempat meminta izin untuk membangun kamar atas. Agar ketika  ada yang menginap, bisa terpisah dari orang tua yang punya komorbid. 

Siapa mengira ternyata saya yang pertama isoman. Kenapa isoman padahal swab negatif? Saya khawatir hasil test meleset, mengingat puteri saya pun negatif, sampai melakukan PCR di hari yang sama. Lima hari setelah terakhir berinteraksi dengan Salsa,  saya baru melakukan PCR. Alhamdulillah negatif.  

Merujuk kepada kalimat awal, beberapa kali saya mengucap hamdalah. Keluarga positif, tapi relatif ringan. Terpapar virus, tapi alhamdulillah sudah vaksin booster kedua. 

Alhamdulillah selama delapan bulan ini saya dan suami intens olahraga. Kami menutup balkon agar bisa dimanfaatkan untuk mandi matahari tanpa terlihat dari luar-- dua bulan sebelum korona mewabah. 

Allah memberi ujian namun terlebih dahulu mempersiapkan. Kisah saya tak sebanding dengan pengalaman teman. Suaminya meninggal karena Covid, tapi dia masih bisa tersenyum.

 
Sungguh Allah tak memberi ujian di luar kesanggupan. Beragam pula cara-Nya membangun persiapan.
 
 

“Allah mengambil satu, tapi membiarkan kami bertiga, saya dan dua anak sembuh. Alhamdulillah anak-anak sudah besar, dan bisa menjaga bundanya.”

Sementara Tante yang masih berduka sebab suaminya meninggal. Juga merasakan betapa Allah menyiapkan mereka.

“Lucu bagimana kami sempat janjian, kalau ada yang merasa waktunya sudah tiba, harus memberi isyarat.”

Kode  disepakati, Om yang mualaf mengusulkan untuk mengangkat telunjuk seperti ketika tahiyat. Dan ini yang dilakukan saat berada di panguan istri, mendadak lemas  dan sulit bicara.

“Jika Om tak mengangkat telunjuk, tante mungkin tak terpikir mentalqinkan dua kalimat syahadat.”

Sungguh Allah tak memberi ujian di luar kesanggupan. Beragam pula cara-Nya membangun persiapan.

“Tiba-tiba Om pengin membuat keran wudhu banyak untuk anak-anak Paud  yang belajar di rumah. Keran itu sungguh memudahkan saat harus memandikan jenazahnya.”

Alfatihah untuk Om Tony Liando bin Saman. Alfatihah untuk sanak keluarga kita, yang telah berpulang.