Menciptakan arsitektur hijau sejatinya adalah ikhtiar Rima Khansa Nurani menciptakan kelestarian alam | Istimewa

Uswah

13 Feb 2022, 04:29 WIB

Tekan Emisi Karbon Lewat Arsitektur Hijau

Menciptakan arsitektur hijau sejatinya adalah ikhtiar Rima Khansa Nurani menciptakan kelestarian alam

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Perubahan iklim dan global warming menjadi ancaman nyata bagi umat manusia dan makhluk hidup saat ini. Pemerintah RI bahkan telah menyatakan komitmen dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26 persen dalam Conference of Parties (COP) pada 2009 silam.

Komitmen Indonesia juga kembali ditunjukkan dengan meratifikasi perjanjian Paris di New York pada 2016. Isinya adalah komitmen untuk melakukan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca dan bersegera aktif mencegah terjadinya perubahan iklim.

Penurunan emisi karbon perlu didukung beragam elemen masyarakat. Di sinilah Rima Khansa Nurani melihat bahwa sektor arsitektur dapat mengambil peran lebih besar dalam menurunkan emisi karbon.

Sebagai seorang arsitek, Rima bersama suaminya mendirikan perusahan bernama Green Architect sejak 2018 yang bergerak dalam bidang arsitektur hijau. Putri ketiga pendiri ESQ Group Ary Ginanjar Agustian ini berharap, hadirnya arsitektur hijau di Indonesia dapat menekan laju emisi karbon pada masa depan.

“Karena kalau kita lihat, kontribusi emisi karbon dari gedung dan bangunan sebesar 40 persen. Ini artinya hampir separuhnya itu dari gedung dan juga bangunan, maka kalau kita mulai beralih ke arsitektur hijau maka sedikit demi sedikit laju emisi karbon bisa kita tekan,” kata Rima saat dihubungi Republika, Rabu (9/1).

Sebagai seorang pengusaha sekaligus arsitek, Rima mengaku berupaya semaksimal mungkin agar dapat berkontribusi untuk kelestarian alam. Sejak menyelesaikan tesis S2-nya di Liverpool, Inggris, Rima bersama suaminya mulai mendesain sebuah perusahaan yang dapat berkontribusi terhadap keberlangsungan alam.

Rima meyakini bahwa seorang arsitek merupakan penghubung yang secara tepat dapat menjelaskan, mensosialisasikan, sekaligus berkreasi mengenai arsitektur hijau kepada masyarakat lebih luas. Dia menepis anggapan bahwa rumah bernuansa hijau cenderung menelan biaya yang lebih mahal.

Sebaliknya, Rima menjelaskan, rumah tersebut dapat dibangun dengan menekan biaya lewat pemanfaatan ruang dan desain yang mendukung kelestarian alam.

“Rumah hijau bisa kita ciptakan dengan ukuran rumah kecil atau luas sekalipun. Bahkan rumah kos-kosan bisa kita kreasikan bernuansa hijau. Nah kalau rumah sudah bernuansa hijau, kita bisa menghemat energi sekitar 70 persen. Inilah yang kita terus sosialisasikan ke masyarakat bahwa konsep arsitektur hijau itu tidak mahal, tapi kompetitif,” ujar dia.

Rima menyampaikan, fokus pengembangan green design dilakukan untuk mencari solusi atas ancaman perubahan iklim yang sangat besar. Karena ancaman itulah, kata dia, sekecil apapun kontribusi yang dilakukan dalam pelestarian lingkungan akan berdampak pada perubahan iklim yang lebih baik di masa depan.

Menciptakan arsitektur hijau sejatinya adalah ikhtiar Rima menciptakan kelestarian alam. Terlebih, ibu dari satu anak ini bercerita bahwa konsep green design juga merupakan salah satu cara berinvestasi dalam kesehatan, kenyamanan, dan kebaikan bumi yang lebih lestari bagi anak-cucu di masa depan.

“Jangan takut untuk switching ke green design. Karena kalau rumah kita sudah berkonsep hijau, nanti dengan sendirinya budaya kita yang tinggal di dalamnya akan lebih peduli terhadap alam,” kata Rima.

photo
Menciptakan arsitektur hijau sejatinya adalah ikhtiar Rima Khansa Nurani menciptakan kelestarian alam - (Istimewa)

PROFIL

Nama: Rima Khansa Nurani, B.A.Sc., M.Sc.

Pendidikan:

S1 - Jurusan Architecture, Curtin University, Australia.

S2 - Jurusan Sustainable Environmental Design in Architecture, University of Liverpool, United Kingdom.

Activities:

- London Design Fabfest, Showcase Project.

- Australia, ALVA Summer Studio Project. ';

×