Tentara Ukraina ditemani anak anjing menyusuri parit di garis depan di Luhansk, bagian timur Ukraina, Selasa (1/2/2022). | AP/Vadim Ghirda

Kisah Mancanegara

10 Feb 2022, 03:45 WIB

Di Luhansk, Mereka Lelah Berperang

Rusia telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu tentara di dekat perbatasan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir.

OLEH DWINA AGUSTIN

Sekelompok tentara Ukraina berpatroli di garis depan di Ukraina timur ketika mereka tiba-tiba mendengar suara granat meledak di kejauhan. Mereka berjongkok dan mulai berlari menuju parit yang aman.

Ini adalah jalur kontak perang setelah delapan tahun Ukraina melawan pasukan yang didukung Rusia. Menurut Presiden Volodymyr Zelensky, peristiwa itu telah merenggut 15 ribu nyawa.

"Kami muak dengan perang yang tidak pernah berakhir ini. Berhasil atau hancurkan, biarkan mereka menyerang kami atau kami harus menyerang mereka untuk mengakhiri ketidakpastian ini. Kami semua lelah dengan ini," kata seorang tentara Ukraina bernama Bohdan, Selasa (8/2).

photo
Tentara Ukraina memasang foto Presiden Rusia Vladimir Putin yang dipenuhi lubang peluru di garis depan di Luhansk, bagian timur Ukraina, Selasa (1/2/2022). - (AP/Vadim Ghirda)

Pria berusia 27 tahun ini mantan penambang dan mahasiswa teknik penerbangan di Pavlohrad, dekat Dnipro. Dia telah ditempatkan di garis depan selama setahun terakhir.

Rusia telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu tentara di dekat perbatasan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir. Tindakan ini membunyikan lonceng alarm di negara-negara anggota NATO yang takut akan serangan militer baru. Namun, Rusia menyangkal rencana semacam itu.

Tapi, para prajurit di wilayah Luhansk yang sebagian besar berbatasan dengan Rusia, mengatakan muak dengan ketidakpastian. Mereka menginginkan semacam terobosan dalam konflik yang telah menahun sejak 2014.

Meskipun senjata yang lebih besar tidak terdengar selama beberapa waktu, ledakan mortir dan granat berpeluncur roket masih memecah keheningan di atas ladang yang tertutup salju. Tentara melakukan apa yang mereka bisa untuk mengatasi ketegangan dan melawan kebosanan.

Bohdan menghabiskan waktu berolahraga dengan barbel dan lompat tali di gimnasium darurat yang telah dibangun di parit, tempat dia ditempatkan selama beberapa bulan terakhir. Sedangkan, prajurit lain bernama Konstyantin mengatakan, pelatihan akan sangat penting jika konflik skala penuh pecah.

"Jika sesuatu dimulai, tidak mungkin untuk memprediksi apa yang akan terjadi dan merencanakannya dengan tepat. Seseorang harus bergantung pada keterampilan, kebiasaan, dan pengalamannya," kata mantan polisi dari Lviv yang aktif sejak 2014 itu.

Dalam perkembangan terakhir, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dijadwalkan terbang ke Polandia dan markas NATO di Brussels, Kamis (10/2). Kunjungan ini di lakukan di tengah upaya Barat untuk menurunkan ketegangan di perbatasan Ukraina.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, pasokan militer untuk Ukraina menunjukkan bahwa Barat melakukan "pemerasan dan tekanan".

"Yang terjadi adalah semuanya dilakukan dengan mengalirkan perlengkapan ke Ukraina, seperti amunisi, perlengkapan militer, termasuk senjata mematikan, dalam upaya meningkatkan tekanan politik kepada kami, dan mungkin tekanan berupa teknik militer," kata Ryabko yang dikutip RIA Novosti, Rabu.

Negara-negara seperti AS dan Inggris telah memasok bantuan militer ke Ukraina. Di antara kiriman itu berupa rudal antitank dan peluncur untuk mempertahankan diri. Sedangkan, Jerman mengirimkan helmet.  ';

×