Hikmah | Republika

Hikmah

11 Mar 2019, 20:15 WIB

Berbuat Tulus Ikhlas

Tulus dan ikhlas. Dua kata yang memiliki makna sama. Menyimpan makna jernih, murni, dan bersih. Beramal tulus dan ikhlas, berarti berbuat dengan tanpa bercam pur dengan yang lain. Ia bersih, murni, dan jernih se mata karena Allah. Tulus ikhlas menjadi penentu amal dan semua ibadah serta amal saleh kita diterima atau tidak.

"Dan tidaklah mereka diperintahkan sesuatu, melainkan untuk beribadah kepada Allah SWT dengan ikhlas ..." (QS al-Bayyinah: 5).



Tulus ikhlas tidaklah mu dah. Selalu ada setan yang masuk un tuk mengotori kejernihan niat dan amal. Menyelinap dengan terang, sebuah hasrat dunia yang memesona dan menggoda. Andai kuat dari hasrat dunia yang selain Allah, siap-siap disergap dengan riya; ingin dilihat, sum'ah; ingin didengar, ujub; bangga diri dengan merasa paling saleh, baik dan ikhlas. Bahkan kita dihimpit takabur, sombong.

"Ya Tuhanku karena Engkau telah menakdirkan aku makhluk sesat maka aku akan menggoda (anak-cucu Adam) dengan keindahan dunia dan akan aku bawa mereka ke jalan yang sesat semuanya. Kecuali hamba- hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka." (QS al-Hijr: 39-40).

Yang paling tahu kita tulus dan ikhlas hanya Allah.
(QS an-Najm [53]:32)


Yang paling tahu kita tulus dan ikhlas hanya Allah (QS an-Najm [53]:32). Karena itu, serahkan se luruh penilaian hanya kepada Allah. Tu gas kita terus menjernihkan se mangat dalam ibadah dan amal saleh.

Cerita dari Imam al-Ghazali ini sangat menginspirasi. Ada seorang abid (ahli ibadah) yang dikenal sangat kuat ibadahnya. Sampai satu hari seseorang berkabar tentang kemusyrikan yang masif. Satu kampung menyembah pepohonan besar.

Murkalah sang abid ini. Sebilah kapak pun ditentengnya. Di tengah jalan ia dihalangi oleh iblis. Namun, musuh abadi manusia itu kalah.

Hari kedua, pohon lain hendak ditebangnya. Kali ini iblis menjerat rayuan. "Aku akan menjamin hidupmu dengan meletakkan uang setiap hari di bawah bantalmu asalkan engkau tidak menebang pohon ini."

Terjeratlah si abid. Pohon kemusyrikan tetap ber diri tegak. Si abid pun mendulang ma teri luar biasa. Namun di hari ketiga, macet. Iblis ingkar janji. Di bawah bantalnya sama sekali tidak ditemukan uang.

Sang abid pun bergerak cepat. Dalam amarah yang membuncah, didatangilah pohon kemusyrikan itu. Saat kapak hendak diayunkan, si iblis datang dan mengajaknya duel ulang. Sang abid kalah memalukan dan terhina. "Kenapaengkau bisa mengalahkan aku?" Dijawab tegas oleh si iblis, "Keikhlasan telah sirna di hatimu. Kamu datang dengan amarah karena uang yang di bawah bantal, bukan karena Tuhanmu." Wallahu a'lam.


×