Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/1/2022). Rapat tersebut membahas progres penanganan permasalahan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk serta pr | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.

Nasional

26 Jan 2022, 04:22 WIB

Bulog Jadi Stabilisator Pangan 

Bulog berkomitmen menjalankan tiga pilar dalam menjaga ketahanan pangan nasional

JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menjelaskan, alasan Perum Bulog tidak masuk dalam Holding BUMN Pangan atau ID Food karena untuk menjaga stabilitas dan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Bulog berperan sebagai stabilisator yang bisa mengintervensi ketika harga naik dan membelinya serta menyimpannya untuk menjaga harga pangan. "Bulog sebagai stabilisator. Di mana Bulog mengintervensi ketika ada harga naik, lalu bisa membeli barang-barangnya dengan nilai-nilai tertentu dan itu dimasukkan sebagai cold storage atau pergudangan," kata Erick dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (25/1).

Holding BUMN Pangan yang dipimpin PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI berisikan anggota seperti PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan Indonesia, PT Berdikari, PT Garam, dan 11 anak usaha RNI.

Erick mengatakan, Kementerian BUMN memiliki visi untuk mempunyai dua grup pangan, yakni Bulog dan ID Food. Menurut dia, Bulog berperan sebagai stabilisator yang dapat melakukan intervensi ketika ada harga pangan naik, sehingga harga-harga pangan tetap terjaga. Adapun ID Food dibentuk untuk fokus ke pasar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Akun resmi Kementerian BUMN RI (kementerianbumn)

Terkait orientasi ke pasar, Erick menyampaikan, salah satunya telah dilakukan koordinasi dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dengan memberlakukan standardisasi produk gurita untuk bisa diekspor di luar negeri.

“Kita rapat dengan Menteri KKP, Perinus-Perindo nggak perlu lagi punya kapal yang bersaing dengan nelayan, tapi harus jadi off-taker, dan dampingi ini nelayan dengan produk yang bisa distandardisasi. Contoh, gurita, sekarang dari Perinus sudah bisa di-upgrading gurita distandarin size yang benar, di-steam lalu divakum, kita kirim ke banyak negara di luar negeri,” ujar Erick.

Sementara itu, Sang Hyang Seri bisa memulai produksi beras dengan kualitas tinggi, lalu dikemas dengan metode vakum sehingga bisa diekspor ke Timur Tengah. Erick menambahkan, pemerintah juga akan menerapkan hal serupa untuk komoditas tebu, jagung, dan beras ke depannya.

“Jadi peran Holding (BUMN) Pangan kita ini off-taker, tak lagi menyaingi petani, peternak, nelayan. Ini memang perlu konsolidasi bertahap, tapi kalau mau bisa kita contoh itu Program Makmur,” kata Erick.

photo
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (tengah) bersama Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury (kiri) dan Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/1/2022). Rapat tersebut membahas progres penanganan permasalahan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk serta progres restrukturisasi BUMN dan holding BUMN. - (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.)

Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi mengatakan, peluncuran Holding BUMN Pangan dengan identitas baru ID Food diharapkan menjadi pemicu semangat dalam mendukung ketahanan pangan nasional, inklusivitas bagi petani, peternak, dan nelayan serta menjadi perusahaan pangan berkelas dunia.

“Semoga Holding BUMN Pangan dapat memberikan peran yang lebih kepada ekosistem pangan nasional, sehingga dapat hadir di tengah masyarakat Indonesia," kata Arief.

Arief menyampaikan, ID Food juga telah melakukan sejumlah perbaikan, mulai dari transformasi sumber daya manusia hingga refocusing model bisnis. “Holding pangan dikondisikan sebagai komersial. Harapannya, dengan ekosistem yang ada maka ketersediaan, kualitas, dan keterjangkauan pasokan (pangan nasional) bisa kita jaga,” ujar Arief.

Sebelumnya, Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, ia tidak mempermasalahkan apakah Bulog masuk atau tidak dalam klaster pangan. Ia menegaskan, keputusan tersebut merupakan ranah pemerintah. 

Budi mengatakan, Bulog berkomitmen menjalankan tiga pilar dalam menjaga ketahanan pangan nasional, antara lain, ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility), dan stabilitas (stability). “Biarkan itu ada di kebijakan pemerintah. Paling penting, realisasi Bulog ada peran kepada masyarakat tiga pilar tadi," kata Budi, beberapa waktu lalu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ID FOOD (idfood_official)

';
×