Kesenjangan digital saat ini terjadi di berbagai belahan dunia. | Pexels/August de Richelieu

Inovasi

24 Jan 2022, 08:43 WIB

Kesenjangan Digital Masih Jadi Isu Global

Kesenjangan digital terjadi karena faktor ekonomi dan masih rendahnya kecakapan digital.

Pandemi membuat isu kesenjangan digital naik ke permukaan. Hal ini tak lepas dari sejumlah fakta yang menegaskan bahwa belum semua masyarakat di dunia memiliki akses terhadap teknologi. Tak hanya di Indonesia, disparitas digital ini juga terjadi di berbagai belahan dunia.

Dikutip dari AP News, pakan lalu, hingga saat ini kesenjangan digital juga masih terjadi di New York, Amerika Serikat (AS). April Schneider, salah satu warga New York mengaku sudah lebih dari satu tahun ia dan anak-anaknya mengalami "siksaan digital" karena pandemi.

“Pandemi membuat anak-anak saya harus menjalani sekolah daring padahal kami tak memiliki banyak gawai serta akses internet yang memadai,” ujarnya. Saat pandemi sedikit mereda, lanjut April, sekolah mulai dilakukan dengan tatap muka, ia pun sempat merasa lega.

Tapi, hantaman pandemi yang masih terjadi kembali memaksa sekolah-sekolah kembali melakukan pembelajaran jarak jauh. Saat itu, ia pun merasa cukup tertekan karena harus kembali mengalami mimpi buruk.

Ia menganggap, hal ini menjadi mimpi buruk karena ia tak memiliki banyak gawai. Padahal, sekolah daring membutuhkan gawai untuk tiap anak karena jam pembelajaran dilakukan pada saat bersamaan.

photo
Kesenjangan digital yang terjadi di berbagai belahan dunia amat berdampak pada sektor pendidikan. - (Pixabay/Nicola Giordano)

Selain itu, keluarganya juga merasa kesulitan untuk membayar tagihan internet yang membengkak. Alhasil, terkadang anaknya terpaksa harus melewatkan sejumlah sesi sekolah daring karena koneksi yang terputus.

Hal ini pun seperti menjadi gambaran konkret dari penelitian yang digelar oleh Rutgers University. Profesor komunikasi Rutgers University, Vikki Katz mengatakan, dirinya dan peneliti lain melakukan dua riset pada 2015 dan 2021 untuk mendalami soal kesenjangan digital.

Dari riset tersebut, terungkap kesenjangan digital bukan hanya soal ketersediaan gawai dan akses internet. Mengingat, kesenjangan digital juga muncul karena masih ada lapisan masyarakat yang belum mengakses jaringan internet yang berkualitas, baik dari segi kecepatan maupun stabilitas jaringan.

Fakta ini pun diperdalam lewat data dari Pew Research Center. Dalam riset pada April 2020, komposisi masyarakat berpenghasilan rendah yang mengalami hambatan digital adalah sebesar 59 persen. Persoalan krusial dari sekitar 30 persen responden itu di antaranya, mencakup juga isu kesulitan membayar tagihan internet.

Kondisi ini pun berperan menambah jurang kesenjangan digital yang juga dimotori oleh adanya 2,9 juta anak yang belum bisa menikmati akses internet dan 2,1 juta anak yang belum tersentuh akses digital. Oleh karena itu, diperlukan beragam upaya dari pemangku kepentingan untuk bisa menekan kesenjangan ini.

Salah satunya adalah upaya pemberian bantuan akses internet. Hal ini pun telah dilakukan oleh Chula Vista Elementary School District, Kalifornia, AS.

Bantuan itu diwujudkan lewat penyaluran biaya akses internet kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan itu pun dianggarkan selama tiga tahun sehingga masyarakat berpenghasilan rendah bisa lebih leluasa dalam menikmati jaringan dari rumahnya masing-masing.

 
Kesenjangan digital juga muncul karena masih ada lapisan masyarakat yang belum mengakses jaringan internet yang berkualitas, baik dari segi kecepatan maupun stabilitas jaringan.
 
Riset Rutgers University 2015 dan 2021. 
 
 

Minim Keterampilan Digital

photo
Kesenjangan digital banyak terjadi karena faktor usia (ilustrasi) - (Pexels/ Andrea Piaquadio)

Selain di AS, kesenjangan digital juga terjadi di Inggris. Beberapa wilayah yang masih mengalami kesenjangan digital di antaranya adalah Shropshire dan Mid Wales.

Dikutip dari Shropshire Star, kesenjangan digital di dua wilayah itu terjadi karena minimnya keterampilan digital. Hal ini terjadi karena memang masih ada masyarakat yang belum akrab dengan sejumlah layanan yang bisa diakses secara digital.

Hal ini pun mendapat sorotan dari Rural England CIC (Community Interest Company). Perusahaan sosial itu menilai, kesenjangan digital masih terjadi karena minimnya investasi jaringan serta pelatihan digitalisasi.

Dalam laporan Rural England CIC yang berjudul "State of Rural Services 2021: The Impact of the Pandemic", masih banyak masyarakat di Inggris yang dipaksa oleh pandemi untuk mengenal layanan daring. Artinya, masyarakat itu merupakan masyarakat yang baru pertama kali menggunakan sejumlah layanan digital untuk berbelanja dan mengakses layanan lainya.

Dari riset itu, dijabarkan bahwa sekitar 25 persen masyarakat adalah digital first-timer dan menggunakan jalur digital untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu, 15 persen di antaranya menggunakan akses digital untuk layanan perbankan.

Anggota Dewan Shropshire, Heather Kidd mengatakan, kondisi itulah yang memperlebar kesenjangan di Inggris. Sebagai first-timer yang minim pelatihan, tentu masyarakat jadi sulit untuk melakukan adaptasi saat pandemi membuat sejumlah layanan hanya bisa diakses lewat jalur daring.

"Kondisi ini tak hanya mempengaruhi individu tapi juga mempengaruhi sejumlah bisnis yang dijalankan oleh masyarakat," kata Kidd. Mengingat, masyarakat tak hanya dituntut untuk menikmati layanan secara digital tapi juga harus bisa menjalankan bisnisnya secara digital.

Kondisi ini pun mendorong Kidd untuk memberikan pelatihan soal penggunaan smartphone. Ia juga membuat surel dan mengisi formulir secara daring. Meski banyak masyarakat yang telah menggunakan media sosial, tapi ia tetap harus memberikan pelatihan ini karena masih banyak masyarakat yang belum menggunakan surel dan akrab dengan sejumlah layanan digital.

 
Masih banyak masyarakat di Inggris yang dipaksa oleh pandemi untuk mengenal layanan daring.
Laporan Rural England CIC yang berjudul "State of Rural Services 2021: The Impact of the Pandemic".
 
 

Di satu sisi, ia juga menyadari bahwa masyarakat juga dihantui oleh besarnya biaya yang dibutuhkan untuk bisa menikmati layanan secara digital. Mengingat, sebagian masyarakat menggunakan akses internet yang dibayar dengan skema pay-as-you-go.

Artinya, semakin sering masyarakat mengakses layanan internet dan semakin banyak data yang diakses, maka tagihan internetnya juga bisa membengkak. Bagi sebagian masyarakat, tentu ini jadi persoalan besar dan membuat disparitas data menjadi semakin nyata. 


×