Menurut Direktur Program Studi Timur Tengah dan Islam University of California Riverside, Prof Muhamad Ali PhD, SDM menjadi tantangan moderasi Islam di Tanah Air. | DOK IST

Hiwar

23 Jan 2022, 03:15 WIB

Prof Muhamad Ali PhD, Memahami Moderasi Beragama

Umumnya menafsirkan ummatan wasathan itu dengan al-‘adl atau adil.

Sikap moderat menjadi salah satu ciri atau karakteristik umat Islam. Seorang Muslim seyogianya cenderung menghindari hal-hal ekstrem. Ia akan memilih jalan tengah daripada berlebih-lebihan walaupun tetap dengan semangat beragama.

Prof Muhamad Ali PhD menjelaskan, konsep moderasi terwujudkan melalui pikiran dan kebijakan yang berimbang dan adil. “Moderasi dalam bahasa Arab sering disebut wasath atau wasathiyah. Kata moderasi ini cukup mewakili gagasan atau perilaku yang berada di tengah-tengah atau seimbang dan adil,” ujar direktur Program Studi Timur Tengah dan Islam di University of California Riverside itu.

Peraih gelar doctor of philosophy dalam bidang sejarah Islam pada University of Hawaii itu mengingatkan tentang Alquran surah al-Baqarah ayat 143. Dalam firman-Nya, itu, Allah SWT menyatakan bahwa para pengikut Nabi Muhammad SAW ialah ummatan wasathan. Penafsiran atas ayat tersebut cenderung berbeda antara satu zaman dan zaman lainnya.

Lalu bagaimana para ulama klasik dan kontemporer menafsirkan ayat Alquran tentang konsep moderasi ini? Dan bagaimana konsep Islam moderat dipahami para ilmuwan Barat?

Berikut wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin, bersama dengan alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu. Perbincangan dilakukan melalui telepon beberapa waktu lalu.

Bagaimana moderasi dapat dipahami dalam konteks perilaku beragama?

Moderasi merupakan pikiran, sikap, dan kebijakan yang berimbang dan adil. Ia juga tidak berlebih-lebihan atau melampui batas akal sehat manusia pada umumnya. Disebut moderat juga karena tidak bertentangan dengan norma hukum yang disepakati bersama.

Dalam bahasa Arab, moderasi disebut wasathiyah. Kata ini cukup mewakili gagasan atau perilaku yang berada di tengah-tengah atau seimbang dan adil.

Ayat “Wakadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathan” (QS al-Baqarah: 143) sering menjadi rujukan untuk memahami wasathiyah. Bagaimana menurut Anda?

Penafsir-penafsir (generasi) awal—seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Muqatil bin Sulaiman—umumnya menafsirkan ummatan wasathan itu dengan al-‘adl atau adil. Abu Hurairah menafsirkan ummatan wasathan sebagai umat yang mudah atau mempermudah. Tidak berlebih-lebihan dalam agama.

Para penafsir pramodern, seperti ath-Thabari, menafsirkan itu sebagai tengah-tengah dalam hal kiblat. Sebab, sebelumnya kiblat umat Islam itu (menghadap) ke Yerussalem, tetapi kemudian Yerussalem menjadi kiblat umat Yahudi dan Nasrani. Akhirnya, kiblat diganti ke Ka’bah.

Ibnu Katsir juga menafsirkan ummatan wasathan sebagai kiblat. Kalau kiblat Yahudi ke maghrib (barat) dan Nasrani itu ke masyriq (timur), maka umat Nabi Muhammad SAW itu di antara keduanya atau di tengah.

Bagaimana tafsiran atas ayat tersebut pada masa modern?

Para mufasir modern, seperti Muhammad Abduh, menafsirkan ummatan wasathan sebagai tidak ekstrem dalam hal mengombinasikan antara dimensi fisik dan spiritual. Ia juga menafsirkannya sebagai umat yang di tengah-tengah.

Kalau mufasir di Indonesia, seperti Buya Hamka, menafsirkan ummatan wasathan itu sebagai umat di tengah, antara dunia-materialistik dan akhirat-spiritualistik. Ia juga menyebut tengah itu di antara intelektualisme filsafat dan spiritualisme Timur, seperti di India.

Prof Quraish Shihab menyebut ummatan wasathan sebagai umat tengah-tengah dan teladan. Posisi tengah itu di antara yang menekankan banyak Tuhan (politeisme) dan yang tidak mengakui Tuhan. Maka, ummatan wasathan adalah yang meyakini tauhid. Jadi, ummatan wasathan ternyata ditafsirkan cukup beragam, sesuai konteks zaman (penafsir) masing-masing.

Bagaimana konsep moderasi dipahami Barat?

Islam moderat mulai muncul dan populer sejak 2001. Setelah itu, mulai tulisan dan program tentang Islam moderat. Setelah Peristiwa 9/11, orang-orang Barat yang takut akan aksi terorisme lalu mengaitkan itu (teroris) dengan Islam. Lantas, mereka memandang, di Islam itu tidak ada yang moderat. Semuanya dianggap radikal, teroris, dan menginginkan kekerasan.

Namun, ada orang-orang Barat yang tidak Islamofobia. Mereka mengatakan, Islam itu sudah moderat dan mengajarkan perdamaian, serta tidak mengajarkan jihad dengan cara kekerasan. Jadi, ada sebagian non-Muslim di Barat membela, ada Islam moderat.

Menurut Anda, bagaimana peran ormas Islam dalam membudayakan moderasi beragama?

Sejak berdirinya, ormas Islam di Indonesia sebenarnya sudah mengajarkan nilai-nilai toleransi dan dakwah dengan damai. Jadi, secara umum ormas keislaman semuanya relatif mengetahui ayat-ayat Alquran yang terkait dengan nilai tengah-tengah atau wasathiyah tadi.

Begitu pun dengan hadis-hadis, termasuk yang menyatakan bahwa “Sebaik-baiknya perkara itu tengah-tengah". Selain itu, ormas Islam di Tanah Air juga mengajarkan nilai-nilai tasamuh, tawazun, tawasuth, dan seterusnya.

Namun, memang ada tantangan-tantangannya. Sebab, mungkin ada ormas yang jumlahnya lebih kecil, tetapi mereka cukup vokal. Mereka mungkin menggunakan bahasa kekerasan dalam berdakwah, dan mengutamakan nahi munkar dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan hukum formal.

Jadi, pembudayaan moderasi itu memerlukan peran negara?

Moderasi Islam kalau dalam dalam perspektif Kementerian Agama (Kemenag) itu mempromosikan toleransi, kebangsaan, antikekerasan, dan mengakomodasi budaya lokal. Setidaknya, empat itulah yang menjadi indikator mereka (Kemenag).

Nah, empat indikator Kemenag ini sebetulnya sudah dijalankan oleh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), al-Washliyah, dan ormas-ormas Islam lainnya. Tetapi, kadang-kadang ada yang menggunakan kekerasan, intimidasi, menyebarkan permusuhan, kebencian, hoaks, fitnah, dan seterusnya. Bahkan, menghancurkan rumah ibadah atau tidak toleran terhadap orang yang berbeda.

Karena itu, mau tidak mau ormas-ormas Islam harus terus mempromosikan nilai-nilai yang toleran tadi, yaitu nilai-nilai yang damai, luwes, tenggang rasa, memperhatikan persaudaraan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jadi, ini yang perlu terus disebarkan oleh ormas-ormas Islam, baik lewat pengajian, pendidikan, tulisan, program-program, dan lain sebagainya.

Bagaimana moderasi beragama dimaknai dalam konteks keindonesiaan?

Jadi moderasi beragama ini tidak hanya untuk Islam atau Muslim, tetapi juga agama-agama lain yang ada di Indonesia, seperti Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan aliran kepercayaan.

Dalam konteks keindonesiaan, semua itu harus diakui bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk, dan menghargai keragaman.

Kedua, saya kira, bangsa Indonesia beruntung memiliki Pancasila dan UUD 1945. Begitu pula dengan konsep negara kesatuan. Itu, menurut saya, sudah diakui dunia bahwa menunjukkan nilai-nilai demokrasi, moderasi, dan bahkan mengutamakan diplomasi atau dialog.

Jadi, konteks keindonesiaan harus terus mengedepankan dialog, saling mendengar, bekerja sama dengan semua kelompok, baik satu agama maupun dengan umat agama-agama yang lain.

Ketiga, saya kira, dalam konteks keindonesiaan, moderasi beragama justru akan menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk maju bersama-sama. Bisa berjuang bersama-sama menegakkan keadilan, kesetaraan, kedamaian, kesejahteraan bagi semua orang. Bahkan, lingkungan hidup dalam konteks Indonesia ini masih punya masalah juga.

Jadi moderasi beragama dalam hal lingkungan hidup saya kira harus masuk juga. Maka bukan hanya sesama manusia, tetapi juga dengan lingkungan hidup. Karena, dua pertiga dari wilayah Indonesia itu adalah lautan samudra dan kita ada puluan ribu pulau, ratusan etnik, suku bangsa, dan seterusnya.

Apa saja tantangan untuk mempromosikan moderasi Islam khas Indonesia ke dunia?

Yang pertama, tantangan sumber daya manusia (SDM). Kita cukup besar jumlah penduduknya, yakni urutan keempat sedunia. Pertama adalah China, India, Amerika Serikat, dan yang keempat adalah Indonesia.

Jadi, tantangan yang pertama adalah bagaimana kuantitas jumlah besar itu bisa diimbangi dengan mutu SDM kita. Dalam membangun SDM itu artinya pendidikan haru semakin maju dan literasi masyarakat semakin kuat, sehingga nilai-nilai moderasi itu bisa terus dijaga dan dilestarikan ke generasi selanjutnya.

Kedua, tantangannya adalah bahasa. Karena, kadang-kadang orang kurang paham tentang moderasi Islam ataupun moderasi beragama di Indonesia. Karena, kita belum banyak yang bicara di luar negeri dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Apa harapan Anda untuk diseminasi moderasi Islam?

Jadi, ke depannya kita harus menciptakan generasi-generasi yang bisa berkomunikasi secara global, seperti berbicara fasih dalam bahasa Arab maupun Inggris. Dengan begitu, dunia akan mengetahui lebih banyak lagi tentang moderasi Islam dari Indonesia dibandingkan organisasi-organisasi yang cenderung memberikan citra negatif terhadap Islam, seperti ISIS, Alqaidah, Jamaah Islamiyah, yang malah lebih populer di dunia.

Nah, bagaimana kemudian nanti yang justru populer itu adalah NU, Muhamamdiyah, Al Washliyah, dan semua organisasi keagamaan, termasuk yang Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lain.

Sedangkan tantangan yang ketiga adalah kerja sama dengan berbagai organisasi dunia, seperti OKI, PBB, dan Rabithah Alam Islami. Indonesia harus bisa menjadi pemimpin di lembaga-lembaga internasional, itu tantangannya.

Jadi, bagaimana Indonesia bisa mengambil peran kepemimpinan global. Saya kira tiga tantangan itu cukup untuk mempromosikan moderasi Islam khas Indonesia ke dunia.

 

photo
Prof Muhamad Ali PhD. - (DOK SCREENSHOOT YOUTUBE)

Dari Jakarta Hingga Riverside Kalifornia

Sejak masih berusia belasan tahun, Prof Muhamad Ali PhD sudah memiliki motivasi untuk keliling dunia. Sebagai jalannya, ia memantapkan hati untuk berkarier di ranah akademik. Lelaki yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis itu bercita-cita mengenyam pendidikan di kampus-kampus dalam maupun luar negeri.

Dengan doa dan kerja keras, impian itu akhirnya terwujud. Hingga kini, profesor yang lahir di Jakarta pada 1974 itu telah melanglang buana ke berbagai negara. Setidaknya, ada empat negara asing yang pernah menjadi tempatnya bermukim, yakni Prancis, Britania Raya, dan Amerika Serikat.

Begitu meraih gelar sarjana dari IAIN Jakarta (kini UIN Syarif Hidayatullah), dirinya berfokus untuk meneruskan studi master. Beruntung, ia memperoleh kesempatan untuk menempuh dual degree, yakni di Universitas Indonesia dan Universite Grenoble, France.

Sesudah mendapatkan titel master, Muhamad Ali mencurahkan waktunya untuk studi keislaman (Islamic Studies) di Edinburgh University.

Selanjutnya, ilmuwan yang fasih empat bahasa asing—Inggris, Arab, Prancis, dan Belanda—itu mengikuti studi doktoral di University of Hawaii di Manoa, Honolulu. Pada 2007, ia berhak menyandang gelar doctor of philosophy alam bidang sejarah.

Saat ini, penulis Becoming Modern in Indonesia and Malaya itu menduduki jabatan sebagai Direktur Program Studi Timur Tengah dan Islam di University of California Riverside AS.

Menurutnya, ada banyak pengalaman menarik selama dirinya berprofesi sebagai dosen di luar negeri. Sebagai contoh, ia pernah mengajar di kelas yang sangat heterogen. Para mahasiswa di sana datang dari latar belakang yang berbeda, mulai dari yang beragama hingga mahasiswa yang mengaku ateis.

Mahasiswa yang mengeklaim diri tak ber-Tuhan itu terbilang unik. Sebab, murid Prof Muhamad itu bisa menangkap dengan cukup baik pelajaran tentang Alquran, termasuk surah al-Fatihah.

“Seorang ateis bisa belajar membaca al-Fatihah dan bisa mengucapkan al-Fatihah itu kan menarik,” kata Muhamad Ali bercerita saat dihubungi Republika baru-baru ini.

“Selain mengajar Islam, saya di sini juga mengajar kitab suci dari agama-agama selain Islam, dan ini juga pengalaman yang sangat menarik,” ujar lulusan S-2 Edinburgh University di Skotlandia ini.

 


×