Seseorang berjalan melewati papan iklan di depan pusat tes Corona Covid-19 di Berlin, Jerman, Rabu, 5 Januari 2022. Slogan berbunyi: | AP/Michael Sohn

Internasional

21 Jan 2022, 05:55 WIB

Jerman: Puncak Covid-19 pada Februari

Badan kesehatan Jerman menyebutkan, ada lebih dari 133 ribu kasus baru Covid per Kamis (20/1).

 

 

BERLIN -- Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach memperkirakan, negaranya akan mencapai puncak kasus terbanyak Covid-19 pada pertengahan Februari. Perkiraan ini berdasarkan kenaikan kasus yang terus naik dalam beberapa pekan terakhir.

"Gelombang ini akan memuncak sekitar pertengahan Februari," kata Lauterbach kepada televisi ZDF, Rabu (19/1) malam.

Tingkat rawat di rumah sakit memang relatif rendah kali ini. Namun, ia memperingatkan bahwa tren kenaikan kasus bisa saja membuat rumah sakit kewalahan. Apalagi, porsi warga Jerman berusia di atas 50 tahun yang tidak divaksin cukup besar.

Badan kesehatan Jerman menyebutkan, ada lebih dari 133 ribu kasus baru, Kamis (20/1). Pada kurun waktu yang sama, tercatat ada 234 kematian.

Pada Rabu, Inggris mengumumkan, mereka akan menanggalkan keharusan bermasker di tempat umum mulai 26 Januari. Mereka juga akan mencabut keharuskan paspor Covid-19. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, gelombang terbaru lalu telah "melampaui puncaknya".

photo
Orang-orang berjalan di pusat kota Essen, Jerman, di mana sebagian besar toko hanya mengizinkan pelanggan yang pulih atau divaksinasi pada Rabu, 12 Januari 2021. - (AP/Martin Meissner)

Sedangkan Italia masih memberlakukan kewajiban vaksin untuk warga di atas 50 tahun. Mereka memberlakukan denda hingga 1.500 euro kepada pekerja yang tidak divaksin.

Sementara itu Spanyol mempertimbangkan strategi baru dalam menghadapi Covid-19. Negeri ini tampaknya memilih untuk "hidup bersama Covid-19".

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan, ia berharap Uni Eropa (UE) mempertimbangkan untuk melakukan hal sama. Apalagi, risiko kematian akibat varian omikron dinilai lebih rendah.

"Menurut kami, dalam waktu beberapa bulan dan tahun ke depan, kita harus berpikir, tanpa ragu dan sejalan dengan ilmu pengetahuan, bagaimana menangani pandemi ini melalui parameter berbeda," kata Sanchez, Senin (17/1).

Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan, terlalu dini untuk menunjukkan cetak biru dari strategi baru ini. Saat ini, strategi itu masih disusun para ahli dan tim penasihat.

photo
Warga Jerman melakukan tes Covid-19 di pusat kota Essen, Jerman, Rabu, 12 Januari 2021. Jerman mencatat rekor baru lebih dari 80 ribu infeksi baru virus Covid pada Rabu. - (AP/Martin Meissner)

Namun, mereka mengakui, strategi itu mengikuti sentinel surveillance yang selama ini digunakan UE untuk memantau influenza. Media setempat menyebut strategi ini sebagai "fluisasi Covid-19".

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak sepakat. Mereka menilai, terlalu dini untuk perubahan strategi. "Itu penilaian yang subjektif, karena ini bukan sekadar jumlah kasus," kata ahli WHO, Dr Michael Ryan, saat itu.

Sedangkan badan European Centre for Disease Prevention and Control (CDC Eropa) menyarankan perubahan strategi baru dilakukan saat fase akut pandemi sudah berlalu. Menurut mereka, lebih banyak negara yang ingin mengadopsi "pendekatan surveilans yang bersifat berkelanjutan dan jangka panjang."

Sementara itu WHO memperbarui rekomendasi peraturan kesehatan internasionalnya, saat pertemuan komite darurat, Rabu. Rekomendasi termasuk untuk mencabut atau meringankan larangan lalu lintas internasional karena tidak memberikan nilai tambah dan terus berkontribusi pada tekanan ekonomi dan sosial di beberapa negara.

Dorong investasi COVAX

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi mendorong investasi di COVAX, Rabu malam. Menurutnya, COVAX harus dapat menuntaskan misinya untuk memastikan kesetaraan akses vaksin global dengan menyalurkan vaksin ke negara-negara miskin dan berkembang secara gratis.

“Sebagai co-chair COVAX AMC EG, saya menyerukan seluruh negara dan komunitas donor untuk mendukung COVAX melalui kesempatan investasi ini. Ini bukan sekadar soal charity, melainkan kepentingan bersama untuk memastikan COVAX dapat menuntaskan misinya," kata Retno.

Ini disampaikan Retno dalam konferensi pers virtual peluncuran Gavi COVAX AMC 2022 Investment Opportunity, Rabu. Acara ini juga menghadirkan narasumber termasuk Direktur Jenderal WHO Thedros Adhanom Ghebreyesus.

Sumber : Reuters/AP


×