Tangkapan layar film penyalin cahaya | youtube

Geni

19 Jan 2022, 04:44 WIB

Penyalin Cahaya: Menyentuh tanpa Dibuat-buat

Perjuangan Sur dalam film Penyalin Cahaya ini representasi dari korban pelecehan seksual di dunia nyata.

OLEH SHELBI ASRIANTI

Setelah menghadiri sebuah pesta, dunia Suryani (Shenina Syawalita Cinnamon) tak lagi sama. Kala itu, Sur, panggilannya, sedang merayakan pencapaian Teater Mata Hari, kelompok yang situs webnya dia rancang.

Tanpa dia sadari, sebuah skandal menanti Sur keesokan paginya. Swafoto dirinya yang sedang mabuk pada malam sebelumnya beredar secara daring. Dia tak ingat pernah berfoto atau menyebarkannya.

Sebagai konsekuensi dari kejadian itu, Sur kehilangan beasiswa kuliah dan diusir dari rumah oleh ayahnya. Sur meminta bantuan teman masa kecilnya, Amin (Chicco Kurniawan), yang bekerja dan tinggal di gerai fotokopi dekat kampus.

Sur berusaha mencari kebenaran tentang apa yang terjadi di pesta itu. Dengan dukungan Amin, Sur mengumpulkan satu per satu fakta dan bukti.

Pencarian Sur berujung pada temuan bahwa dia telah menjadi korban pelecehan seksual. Meski banyak orang berbalik menghakiminya, Sur bersikeras bertahan dan terus mencari keadilan.

Perjuangan Sur dalam film berjudul Penyalin Cahaya ini merupakan representasi dari korban pelecehan seksual di dunia nyata. Sutradara Wregas Bhanuteja dengan cermat menyisipkannya dengan berbagai simbol.

Penyalin Cahaya tayang perdana secara internasional di Festival Film Internasional Busan pada 8 Oktober 2021. Film dengan judul internasional Photocopier ini sudah dapat disimak di Netflix mulai 13 Januari 2022.

Dengan durasi 130 menit, film dimulai dengan adegan pertunjukan seni di atas panggung. Para pelakon Teater Mata Hari beraksidalam gerak teaterikal mengenai kisah Medusa dan Perseus.

Cerita yang dipentaskan itu tidak sembarangan disematkan oleh sutradara. Bukan hanya sebagai latar, melainkan sangat berkaitan dengan keseluruhan plot, bahkan mewakili apa yang dialami para tokoh dalam film.

Sinema bergenre drama thriller misteri ini merupakan hasil kolaborasi Rekata Studio dan Kaninga Pictures. Penyalin Cahaya merupakan film panjang pertama Wregas sebagai sutradara.

Film ini mengantarkan Wregas menyabet penghargaan kategori sutradara terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2021. Tidak tanggung-tanggung, film juga menjadi yang paling banyak mendapat piala di FFI 2021 dengan total 12 kategori.

Wregas menyebut, Penyalin Cahaya merupakan film panjang pertama yang dia sutradarai, setelah sebelumnya hanya mengarahkan film-film pendek, seperti Lemantun pada 2014 dan Prenjak pada 2016 yang membuatnya menjadi sutradara Indonesia pertama yang memenangkan penghargaan Cannes Film Festival untuk film pendek itu. 

Penyalin Cahaya digarap di tengah pandemi, bersama dengan para pemain dan kru yang semuanya orang Indonesia. "Ini adalah awal baru, meskipun film ini lahir di tengah pandemi, namun kami bisa melewati dengan baik. Tantangan apa pun ke depannya kita pasti bisa lalui juga," ujar pria asal Yogyakarta itu saat menerima penghargaan Piala Citra pada November 2021.

Setelah tuntas menonton, penonton akan memahami mengapa film ini mampu memborong Piala Citra sebanyak itu. Isu yang diangkat serta penyajian plotnya membuat sinema ini penting disimak.

Sosok Sur yang sejatinya adalah korban, justru mendapat kecaman ketika memutuskan membuka suara. Sangat menyedihkan mendapati teman, keluarga, dan pihak kampus menyepelekan apa yang dia alami.

Sur sempat tidak berdaya tatkala berhadapan dengan pelaku yang punya kuasa secara finansial. Ada beberapa adegan yang cukup menguras emosi, membuat muak dengan kenyataan yang menohok.

Ini pertama kalinya Shenina menjadi pemeran utama di sebuah film. Meski pengalaman pertama, aktingnya langsung menggebrak. Mengesankan. 

Talenta lain dalam film, protagonis maupun antagonis, juga menyajikan akting cukup baik. Mereka di antaranya Lutesha, Jerome Kurnia, Dea Panendra, Giulio Parengkuan, Lukman Sardi, dan Ruth Marini. Kehadiran sekilas aktor Yayan Ruhian, Adipati Dolken, dan Tanta Ginting tetap menarik perhatian penonton.

Meskipun film mengangkat isu yang cukup serius, tetap ada bumbu yang menghibur di dalamnya. Dialog antarpemain menggunakan bahasa yang ringan sebab para tokohnya mayoritas mahasiswa.

Secara keseluruhan, film ini menawarkan cerita yang menyentuh, tanpa bumbu drama yang dibuat-buat. Penonton yang merupakan penyintas pelecehan seksual mungkin merasa tidak nyaman saat menyimak beberapa adegan.  

Perubahan drastis hidup Sur yang terjadi hanya dalam semalam barang kali kurang realistis. Akan tetapi, cerita tetap relevan lantaran mengedepankan masalah nyata yang dihadapi Sur sebagai perempuan.

Rasa autentik dari film juga terlihat dari relasi Sur dengan sang ayah yang tidak hangat. Begitu pula dampak negatif media sosial yang bisa menjadi bumerang serta hak istimewa yang bisa didapat oleh mahasiswa kaya.

Poin lain yang menjadi keunggulan Penyalin Cahaya adalah karya ini bukan perang antargender. Bukan tentang perempuan yang didominasi pria atau menjadi korban laki-laki. Pasalnya, dalam film, ada tokoh pria yang juga menjadi korban pelecehan.

Penutup film mungkin cukup mudah ditebak dan bukan kejutan besar. Namun, adegan akhir itu cukup membekas di ingatan. Pada akhirnya, jika para korban pelecehan hanya punya cerita tanpa bukti lainnya, apakah kita akan percaya?


×