Warga berunjuk rasa menentang kebijakan vaksinasi Covid-18 di Sydney, Australia, Sabtu (15/1/2022). | EPA-EFE/FLAVIO BRANCALEONE

Internasional

17 Jan 2022, 03:45 WIB

Australia di Ambang Puncak Gelombang Omikron

0rang-orang yang tidak divaksin menyumbang jumlah yang signifikan dalam angka rawat inap.

SYDNEY -- Australia diperkirakan mendekati puncak gelombang virus korona varian omikron. Pasalnya, sudah lebih dari 100 ribu kasus dilaporkan dalam empat hari berturut-turut.

"Kita belum melalui puncaknya dan saya pikir masih akan ada sejumlah besar kasus yang didiagnosis di Australia selama beberapa minggu ke depan," kata penasihat utama pemerintah Australia untuk bidang kesehatan, Paul Kelly, dalam jumpa pers, Sabtu (15/1).

Namun, Kelly menambahkan, pemodelan dari beberapa negara bagian membuatnya percaya bahwa Australia sedang mendekati puncak gelombang kasus Covid-19. Setelah mengatasi penyebaran virus korona dengan memberlakuan pembatasan ketat di awal pandemi, Australia kini sedang mengalami rekor kasus akibat hadirnya varian omikron.

Menurut data Pemerintah Australia, sebagian besar negara bagian sedang berjuang melawan rekor rawat inap selama gelombang omikron. Pihak berwenang mengatakan orang-orang muda yang tidak divaksin menyumbang jumlah yang signifikan dalam angka rawat inap di Australia. "Kami melihat epidemi pada anak-anak muda yang tidak divaksin, termasuk di unit perawatan intensif," kata Kelly.

Saat ini, Australia adalah salah satu negara yang paling banyak penduduknya sudah disuntik vaksin Covid-19. Lebih dari 92 persen orang di atas 16 tahun di negara itu telah mendapat dua dosis suntikan.

Tiga kematian

Merebaknya varian Omikron saat ini terus terjadi di berbagai belahan dunia. Televisi Pemerintah Iran melaporkan pada Sabtu (15/1) bahwa tiga warga negara Iran telah meninggal setelah mereka terinfeksi omikron. Negara ini pertama kali mendeteksi varian omikron pada pertengahan Desember tetapi ini pertama kalinya kematian dilaporkan.

Laporan siaran televisi tersebut, mengutip pejabat di Kementerian Kesehatan Iran Mohammad Hashemi yang mengatakan bahwa orang keempat yang juga terinfeksi omikron dan kini berada dalam kondisi kritis.

Sejak pecahnya pandemi, Covid-19 telah menewaskan lebih dari 132 ribu orang di Iran. Jumlah ini menjadi tingkat kematian terburuk di Timur Tengah. Pada 24 Agustus tahun lalu, 709 orang meninggal karena infeksi Covid-19.

photo
Presiden Ebrahim Raisi mengikuti peringatan kematian prajurit yang gugur dalam perang Iran-Irak pada 1980-1988 sembari menerapkan protokol kesehatan di Teheran, Kamis (6/1/2022). - (AP/Vahid Salemi)

Jumlah kematian sempat menurun dalam beberapa bulan terakhir karena vaksinasi. Iran telah meningkatkan vaksinasi dalam beberapa minggu terakhir dan sekarang melaporkan bahwa lebih dari 53 juta orang Iran telah menerima suntikan kedua dan 12 juta telah menerima suntikan atau booster ketiga.

Iran sebagian besar menggunakan vaksin Sinopharm buatan Cina, meskipun Sputnik-V Rusia dan vaksin yang dibuat oleh perusahaan farmasi Inggris-Swedia AstraZeneca juga digunakan. 

Varian Setelah Omikron

Para ilmuwan memperingatkan bahwa hadirnya varian omikron tidak akan menjadi versi terakhir dari virus korona yang mengkhawatirkan dunia. "Semakin cepat omikron menyebar, semakin banyak peluang untuk mutasi, yang berpotensi menyebabkan lebih banyak varian," kata ahli epidemiologi penyakit menular di Boston University Leonardo Martinez, Ahad (16/1).

Menurutnya, ahli dari berbagai dunia tidak tahu seperti apa varian virus korona berikutnya atau bagaimana akan membentuk pandemi. Namun mereka mengatakan, tidak ada jaminan sekuel omikron akan menyebabkan penyakit yang lebih ringan atau vaksin yang ada akan bekerja melawannya.

Sejak muncul pada pertengahan November, omikron telah berlari melintasi dunia. Penelitian menunjukkan varian ini setidaknya dua kali lebih menular dari delta dan setidaknya empat kali lebih menular dari versi asli virus.

Omikron juga lebih mungkin daripada delta untuk menginfeksi kembali individu yang sebelumnya memiliki Covid-19 dan menyebabkan infeksi terobosan pada orang yang divaksinasi. Ia juga  menyerang yang tidak divaksinasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan rekor 15 juta kasus Covid-19 baru untuk periode 3-9 Januari 2022, meningkat 55 persen dari pekan sebelumnya. "Ini adalah infeksi yang lebih lama dan persisten yang tampaknya menjadi tempat berkembang biak yang paling mungkin untuk varian baru,” kata pakar penyakit menular di Johns Hopkins University, Dr Stuart Campbell Ray.

"Hanya ketika Anda memiliki infeksi yang sangat luas, Anda akan memberikan kesempatan untuk itu terjadi," katanya melanjutkan.

Omikron tampaknya menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada delta, perilakunya memicu harapan bahwa ini bisa menjadi awal tren yang pada akhirnya membuat virus lebih ringan seperti flu biasa. Tapi virus tidak selalu menjadi kurang mematikan dari waktu ke waktu.

Ray menjelaskan, sebuah varian juga dapat mencapai tujuan utamanya yaitu mereplikasi, jika orang yang terinfeksi awalnya menunjukkan gejala ringan, menyebarkan virus dengan berinteraksi dengan orang lain, lalu kemudian menjadi sangat sakit.

Sumber : Reuters/Associated Press


×