Pekerja memilah alpukat di pertanian di Provinsi Mpumalanga, beberapa waktu lalu. | Reuters

Kisah Mancanegara

17 Jan 2022, 03:45 WIB

Perjuangan Menjaga 'Tambang Hijau' di Kenya

Buah dari satu pohon alpukat di Kenya dapat membayar pendidikan siswa menengah di sekolah swasta hingga setahun penuh.

OLEH LINTAR SATRIA

Siapa yang menyangka, ternyata sektor alpukat di Kenya sangat menguntungkan. Dengan nilai ekonomisnya yang menjanjikan, sampai-sampai kelompok kejahatan pun mulai mengincar para petani.

Buah dari satu pohon alpukat di Kenya, saat ini dapat membayar pendidikan siswa menengah di sekolah swasta hingga satu tahun penuh atau sekitar 600 dolar Amerika Serikat (AS). Permintaan alpukat Kenya ke AS dan Eropa kini memang sangat tinggi.

Kenya bahkan telah mengalahkan Afrika Selatan sebagai eksportir alpukat terbesar di Afrika. Kini petani membentuk kelompok-kelompok untuk melindungi ladang buah yang kini dikenal sebagai "emas hijau".

Saat malam tiba, enam orang laki-laki muda mengenakan jas hujan tebal dengan bersenjatakan obor, parang dan pentungan menjaga sebuah lahan pertanian besar di Kabupaten Murang'a. Mereka dipekerjakan untuk melindungi pertanian dan buah alpukat yang berharga.

Ini bukan pekerjaan ringan dan dapat berbahaya. Para penjaga dapat terluka hingga tewas terbunuh."Kami saat ini harus melindungi diri kami sendiri," kata salah satu penjaga seperti dikutip BBC, Ahad (16/1/2022).

photo
Petani memilah alpukat di pertanian di Kenya, beberapa waktu lalu. - (istimewa)

Ia menyinggung insiden terbaru di mana seorang yang diduga hendak mencuri alpukat tewas terbunuh. Pemilik ladang yang lahannya seluas setengah ekar atau setengah lapangan sepak bola mengatakan ia harus mengambil tindakan. Sebab ia pernah menjadi korban pencurian. "Anda bisa memagari seluruh ladang tapi tidak akan menghentikan mereka," katanya sambil menunjukkan pagar kawat yang ia pasang dipotong.

"Anda menghabiskan seluruh musim untuk merawat ladang anda, kemudian dalam satu malam buah-buah anda diambil dalam hitungan jam," tambahnya.

Seorang penjaga yang sedang memperbaiki pagar kawat setuju dengan pemilik ladang. "Mereka masih memotongnya dan mencuri apa yang mereka inginkan," katanya.

Ia khawatir pencurian dapat menyebabkan masyarakat menderita sebab banyak orang yang bergantung pada perdagangan alpukat. Banyak yang bekerja di lahan pertanian besar sementara sebagian besar keluarga memiliki beberapa pohon. "Bila kami tidur, ayah dan ibu kami tidak dapat uang," katanya.

Penjagaan mereka biasanya berakhir pada tengah hari. Alpukat di Kenya biasanya dipanen pada Februari hingga Oktober. Tapi pencuri tetap dapat mengambil buah yang belum matang. 

Demi menekan perdagangan gelap pihak berwenang sudah melarang ekspor alpukat dari bulan November hingga akhir Januari. Tapi kebijakan ini tidak banyak berpengaruh sebab faktanya petani seperti yang di Kabupaten Murang'a harus memanen buah mereka lebih awal untuk menyelamatkan lahan mereka dari kartel alpukat.

Membiarkan pohon mereka begitu saja, menjadi undangan bagi pencuri. Situasi di Kabupaten Meru yang terletak sekitar 100 kilometer dari Murang'a, lebih parah.

Para pembeli dari Eropa kini sudah berada di kabupaten. Sehingga setiap harinya ribuan hektar alpukat Hassi dipetik lalu dijual dengan harga 19 shiling Kenya atau 0,17 dolar AS per buah.

Bagi salah satu petani  Kinyua Mburugu keputusan untuk memetik alpukat lebih awal, harus dilakukan agar alpukat tidak dicuri. Namun di masa mendatang ia berniat melawan kelompok penjahat dengan menggunakan komputer yang dibeli dari koperasi alpukat masyarakat setempat.

Ia akan menghubungkannya dengan kamera-kamera CCTV yang dipasang di lahannya yang seluas 10 ekar atau 4,04 hektar. Bersama putranya yang merupakan lulusan sekolah perfilman ia ingin mengawasi lebih dari 200 pohon dari ruang keluarga rumahnya. "Putra saya berpikir menerbangkan drone sehingga kami dapat mengawasi ladang kami 24/7," kata Mburugu.

Menurutnya, melakukan pengamanan dengan drone merupakan sebuah penghematan besar. Mburungu mengaku, ia telah menerima laporan dari para penjaga mereka, bahwa telah banyak orang yang menyewa rumah di pusat Kota Meru, bagian kartel pencuri buah.

Kepala keamanan masyarakat setempat Julius Kinoti mengatakan mereka menemukan rumah itu penuh dengan karung-karung alpukat curian. Kinoti pun telah memperingatkan pihak berwenang untuk bertindak lebih banyak untuk mengatasi pencurian buah. Sebab masyarakat dapat main hakim sendiri.

"Di malam kami menemukan pencuri-pencuri itu, bila saya meniupkan peluit untuk memberitahu warga, warga desa akan datang dan membunuh mereka, keadilan massa, sebab masyarakat sudah marah," katanya.

Perdagangan alpukat di Kenya masih tahap awal tapi semakin banyak petani yang memutuskan berinvestasi pada buah itu. Data dari Kementerian Perdagangan Kenya menunjukan tahun lalu petani meraup keuntungan sebesar 132 juta dolar AS dari hasil panen. 


×