KH Anas Fauzie Nachrowi. | DOK IST

Hiwar

16 Jan 2022, 04:38 WIB

KH Anas Fauzie Nachrowi, Kiat Rumah Tangga Harmonis

Kiat agar rumah tangga selamat adalah dengan ilmu-ilmu agama.

Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Ikatan pernikahan merupakan jalan yang diridhai-Nya untuk menghalalkan hubungan antara kedua insan yang berlainan jenis.

Dalam ajaran Islam, pernikahan merupakan perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizhan). Itu setara dengan sumpah lima nabi pilihan (ulul azmi) dalam menyebarkan agama Islam.

Dengan demikian, seorang Muslim atau Muslimah yang hendak membina rumah tangga harus memiliki ilmu yang memadai. Hal itu disampaikan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Lowokwaru, KH Anas Fauzie Nachrowi.

Menurut penghulu yang bertugas di area Kota Malang, Jawa Timur, itu, salah satu jalan menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah ialah bahwa suami dan istri memahami hak dan kewajibannya masing-masing. Mengetahui keduanya memerlukan basic ilmu agama.

“Dengan bersama secara rohaniah, insya Allah pasangan akan banyak terbantu oleh kekuatan Ilahiah,” kata pengasuh Pondok Pesantren ar-Rozzaq, Jabung, Malang, itu.

Lantas, apa saja kiat dalam membangun keluarga yang islami? Berikut perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, bersama dengan mubaligh yang kini sedang menyelesaikan Program Doktoral Pendidikan Islam Multikultural di Universitas Islam Malang (Unisma) itu. Wawancara berlangsung baru-baru ini.

Bisa diceritakan sekilas tentang profesi Anda?

Saya diangkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil) sejak 1998. Saat itu, saya diangkat sebagai guru di Kantor Kemenag (Kementerian Agama) Kabupaten Blitar. Mengajar bahasa Arab dan Alquran-hadis di madrasah tsanawiyah negeri.

Setelah 10 tahun menjadi guru, saya dimutasi ke Kantor Kemenag Kabupaten Malang, tepatnya pada 2008. Lantas, saya ditempatkan di KUA. Di sana, saya belajar selama dua tahun.

Sejak 2011, saya diangkat sebagai kepala KUA. Lalu pada 2017, saya dimutasi ke Kemenag Kota Malang, dan bertugas di KUA Kecamatan Lowokwaru hingga kini.

Pada akhir 2021 lalu, sebuah video yang menampilkan Anda sebagai pemberi nasihat pernikahan viral di media sosial. Tanggapan Anda?

Yang saya sampaikan dalam nasihat itu adalah tema akhlakul karimah. Misalnya, berbakti, berterima kasih kepada orang tua, mertua, dan guru. Karena, sukses hidup kita itu karena tiga tokoh besar dalam hidup kita masing-masing, yaitu orang tua, mertua dan guru.

Nasihat itu penting dipahami setiap pengantin. Sebab, supaya mereka tidak menjadi orang yang lupa daratan, menganggap dirinya sukses karena pintar sendiri ataupun pekerjaannya saja. Padahal, kesuksesan itu adalah bagian yang berada dalam ridhanya orang tua, mertua, dan guru.

Untuk orang tua, utamanya ibu. Akhlakul karimah itu adalah mampu membuat senang hati ibu, terutama pada unsur ibadah. Mampu mengangkat tangan untuk berdoa, mendoakan kebaikan untuk ibu dan juga bapak.

Saya ingatkan ini karena seorang ibu—katakanlah—mampu mengasuh dan memberi makan lima anak. Namun, ketika lima anak ini sukses, untuk merawat seorang ibu kadang mereka tidak mampu. Maka, sering saya sampaikan, bahagiakanlah ibu dan ayahmu meski kamu telah menikah.

Sebagai seorang penghulu, tentunya Anda telah menghadapi banyak pasangan calon suami-istri. Menurut Anda, seberapa penting bimbingan pranikah?

Pernikahan itu bukan perkara main-main atau bisa dimainkan. Semuanya butuh ilmu. Ada ilmu (tentang perkara-perkara) halal, haram, makruh, dan lain-lain. Itu semua diberikan pada saat bimbingan pranikah. Seorang laki-laki, misalnya, berkata (kepada istrinya), “Engkau kucerai.” Perkataan itu kan tidak bisa dibuat main-main.

Maka, sebelum selesaikan menikahkan seseorang, biasanya saya sering berpesan agar si suami menyayangi istri, melindunginya, tidak menyakitinya, dan tidak lupa untuk beribadah kepada Allah. Pesan itu sebenarnya bagian dari materi (bimbingan) pranikah. Namun, saya ulangi lagi saat prosesi pernikahan.

Kepada si istri juga saya berpesan yang sama. Istri agar membantu suami dengan doa untuk bertanggung di hadapan Allah kelak. Berdoa agar rezeki suaminya lancar, dan terus memotivasi suaminya.

Selama ini, bagaimana pembinaan kepenghuluan yang Anda lakukan?

Alhamdulilah, secara rutinitas kami berhadap-hadapan dengan manten saat mendaftar walau hanya dua atau tiga pesan, itu tetap kita sampaikan. Lalu, kita pun memasang jadwal bimbingan pranikah. Karena sekarang masa pandemi, maksimal hanya 20 pasangan. Kalau tidak pandemi, biasanya sampai 25 pasangan atau 50 orang pengantin.

Kembali ke soal bimbingan pranikah. Komitmen seperti apa yang terlebih dahulu harus dibangun calon suami atau calon istri sebelum berumah tangga?

Membentuk kejujuran. Cinta dan kasih sayang yang kalian tunjukkan sekarang dan yang akan datang haruslah sama. Karena itu, harus diselimuti dengan yang namanya kejujuran. Itu komitmen pertama.

Kedua, harus mampu untuk melakukan ibadah bersama. Dengan bersama secara rohaniah, insya Allah pasangan akan banyak terbantu oleh kekuatan Ilahiah.

Akhirnya, muncul rasa senang untuk berterima kasih. Senang pula untuk meminta maaf. Insya Allah, dua hal ini akan mudah muncul. Di situlah letak rohani. Itu artinya ada pada terima kasih dan memohon maaf.

Tidak semua suami dan istri itu, ketika salah, mau meminta maaf. Ketika diberi, juga tidak berterima kasih. Jadi, buah dari ibadah secara bersama-sama itu adalah terima kasih dan ketulusan meminta maaf.

Dalam ajaran Islam, suami adalah pemimpin. Apa saja kiat menjadi suami yang ideal?

Suami yang ideal mempunyai pendidikan dan ilmu, baik formal maupun nonformal. Saya sangat berterima kasih kepada guru-guru madin (madrasah diniyah), termasuk yang ada di kampung-kampung. Sebab, madin telah melakukan pembentukan moral yang luar biasa. Karena itu, teman-teman kami, penyuluh se-Indonesia, semangat sekali untuk ikut membentuk moral anak bangsa melalui madin.

Kedua, suami harus capak psikososialnya. Dengan siapapun, ia tidak pilih kasih, serta tidak malu dengan pekerjaannya. Ia senang dengan pekerjaannya yang halal. Dalam pergaulan, ia menyapa semua pihak atau tidak minder. Kalau pemimpin sudah minder di depan, akan sulit untuk membentuk rumah tangga.

Suami yang ideal juga harus memiliki spiritual. Beragama yang bagus. Tidak menjadikan agama sebatas aksesoris saja. Insya Allah, ketika pemimpin di rumah tangga spiritualnya terbentuk, maka seisi rumah akan ikut juga.

Suami yang ideal pun mesti memiliki psikologis yang matang. Ia harus bisa memahami kekurangan diri dan memaklumi kekurangan pasangan. Terakhir, kemampuan biologis. Artinya, suami yang ideal selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang halal sehingga keturunannya pun juga bagus. Modal awal untuk mempunyai keturunan yang bagus adalah makanan dan minuman yang dikonsumsi bapak dan ibu.

Semua unsur-unsur itu biasanya saya sebut sebagai komponen RTB, Rumah Tangga Bahagia.

Kemudian, istri yang salehah seperti apa?

Untuk istri yang salehah itu, ada tiga hal. Pertama, bila dipandang suami, menyenangkan, baik dari sisi wajahnya maupun pakaiannya. Ketika suami memilih untuk menikah, itu pasti karena (pandangan) mata. Rasulullah SAW pun juga berdawuh, “Wahai para istri, hiburlah pandang suamimu dengan solekanmu.” Bersolek tidak untuk orang lain, tetapi hanya untuk suami.

Kedua, taatlah kepada suami untuk urusan kebaikan, perkara-perkara yang tidak mendatangkan dosa. Suami itu //kan// bekerja. Lalu, bagaimana nafkah bisa berkah? Sebab, istrinya juga mendukung keberkahan pekerjaaan suaminya melalui ketaatannya itu. Tutur katanya juga harus bagus dan lemah lembut. Serta, berterima kasih kepada suaminya saat diberi nafkah.

Kemudian, istri yang salehah apabila ditinggal pergi suami untuk bekerja, maka ia di rumah, menjaga dirinya dan harta benda suaminya.

Apa saja tahapan untuk mewujudkan suatu rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah?

Pertama-tama, berilmu. Atau setidaknya, dekat dengan ulama. Kalau diibaratkan, ulama laksana pelita. Siapa yang dekat dengan pelita, insya Allah terang jalannya. Jika ada salah atau keliru, belum sampai jauh langkah dalam melakukan kesalahan, itu sudah terbenahi. Sebab, dekatnya dengan ilmu dan ulama.

Jadi, kiat agar rumah tangga selamat adalah dengan ilmu-ilmu agama. Atau juga, dekat dengan ulama (menghadiri kajian). Ilmu pun tidak cukup dipelajari tanpa ulama. Misalnya, kita hanya membaca buku atau mendengar ceramah di televisi. Harus tetap silaturahim kepada para kiai dan guru.

Islam tidak melarang perceraian walaupun itu adalah "pintu-keluar terakhir". Menurut Anda, bagaimana pasangan bisa menghindari perceraian karena rumah tangga umumnya sesekali diwarnai konflik?

Salah satu sebab umum dari hancurnya rumah tangga ialah ilmu yang tidak berimbang. Namun, bagaimana kalau, misalnya, seseorang berilmu, tetapi tetap mengalami perceraian? Unsur-unsur lain yang menggoda untuk melangkah ke perceraian ialah ketidakjujuran. Di mana pun dan kapan pun, kalau kita saling menjaga itu, insya Allah semuanya akan baik.

Selain itu, mudah-mudahan dari kedua belah pihak tidak salah pilih dalam melakukan curhat. Sebab, perceraian kadang kala terjadi karena seorang suami atau istri curhatnya salah, hanya kepada teman akrab atau teman kerja. Andai saja curhat kepada orang yang bijak, yang masih keluarga, atau orang yang berilmu, insya Allah berujung pada saling memaafkan.

Sering kali, muncul hal yang lebih parah. Umpamanya, orang yang diajak untuk curhat justru membuat runyam masalah. Akhirnya, rumah tangga seseorang menjadi tidak bagus lagi.

Walaupun bercerai itu halal, Allah tidak menyukainya. Ini sama halnya dengan utang. Berutang juga halal, tetapi Allah tidak menyukainya. Mudah-mudahan kita semua mampu menghindar dari segala sesuatu yang tidak disukai Allah.

photo
Petugas menata sejumlah buku nikah yang akan dibagikan kepada pasangan suami istri peserta Nikah Massal, di Balai Pemuda Surabaya Jatim, beberapa waktu lalu. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ed/ama/11 - (ANTARA)

Suka Duka Menjadi Penghulu

Sekira akhir tahun 2021 lalu, sebuah tayangan menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang penghulu sedang menyampaikan nasihat kepada pasangan pengantin di suatu acara pernikahan.

“Calon mertuamu terhadap calon istrimu, tak pernah beliau marah-marah kepada putrinya. Ndak pernah meninggalkan sayang, memutuskan sayang kepada putrinya. Dalam hitungan beberapa menit, sayangnya ibunya, bapaknya, akan diminta kau sambung, kau teruskan. Sanggup? Hati-hati, Nak,” kata penghulu tersebut kepada mempelai lelaki.

Adalah KH Anas Fauzie Nachrowi yang merupakan pemberi nasihat dalam video viral itu. Ia berprofesi sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Menurutnya, petuah-petuah semisal itu sering disampaikannya kepada setiap pasangan yang hendak melakukan akad pernikahan.

Sejak 2009, dirinya sudah menekuni dunia KUA. Tugasnya berawal di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang. Pada 2017, ia dimutasi ke area Kota Malang, hingga mengepalai KUA di salah satu kecamatan setempat.

“Dalam melayani masyarakat yang ingin menikah, memang banyak suka-dukanya. Sukanya itu, alhamdulillah semuanya berjalan menyenangkan. Sebab, di acara manten itu kan suasananya menyenangkan,” ujar dia kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Bagaimanapun, Kiai Anas mengakui ada sesekali kisah duka. Pernah dirinya mendapati calon pengantin yang sempat gagal melangsungkan akad pernikahan. Pernah pula seorang calon mertua susah menyebutkan nominal maskawin, seperti “maskawin uang sebesar Rp 2.020.011.” Tentu, angka dalam besaran uang tersebut sengaja ditepatkan dengan tanggal perkawinan.

 
Pernah kejadian bentrok antara calon manten dan calon mertua gara-gara maskawin susah disebut atau diucapkan oleh wali nikah.
 
 

“Ya, pernah kejadian bentrok antara calon manten dan calon mertua gara-gara maskawin susah disebut atau diucapkan oleh wali nikah,” ucap pria kelahiran tahun 1970 itu.

Tidak hanya itu, lanjut dia, ada pula seorang calon pengantin yang gagal menikah lantaran terjadi kesalahan dalam berkomunikasi. Alhasil, calon mertua menjadi tersinggung. Menurut Kiai Anas, kegusaran hati itu karena si calon menantu mengomentari rumah calon istrinya sempit.

Padahal, yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Saat itu, calon menantu hanya berniat memindahkan acara akad nikah ke musala. Sebab, rumah sang mertua tidak cukup menampung tamu yang akan datang.

Belajar dari pengalamannya, Kiai Anas mewanti-wanti, penghulu harus berhati-hati dalam menjalankan pekerjaannya. Mengenai video yang viral, ia bersyukur apabila nasihatnya bisa menginspirasi banyak orang.

“Saya suatu waktu juga akan turun dan tergulung. Namun, ilmu yang telah didengarkan banyak orang, mudah-mudahan terus menjadi hidup, mengisi kehidupan,” ucap alumnus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) ini.


×