Syekh Abdul Karim al-Bantani. | DOK NU

Mujadid

16 Jan 2022, 04:22 WIB

Syekh Abdul Karim al-Bantani, Mursyid Pionir Jihad

Dalam tiap ceramah, ulama Banten ini mengobarkan semangat rakyat untuk berjuang.

OLEH MUHYIDDIN

 

Di sepanjang sejarah, Banten memunculkan banyak ulama yang berperan besar. Mereka tidak hanya berpengaruh di daerah itu, tetapi juga seluruh Nusantara atau bahkan hingga kawasan Asia Tenggara seluruhnya.

Salah seorang alim dari Banten yang masyhur ialah Syekh Abdul Karim al-Bantani. Mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah itu tidak hanya berkiprah di ranah dakwah dan pendidikan. Dia juga turut berjuang dalam melawan penjajahan.

Di antara perannya yang tercatat sejarah ialah Geger Cilegon pada tahun 1888. Kala itu, ia bersama dengan KH Wasid dan KH Tubagus Ismail menggerakkan perlawanan rakyat.

Syekh Abdul Karim al-Bantani lahir sekitar tahun 1840 Masehi di Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten. Sumber lain menyebutkan, tokoh tersebut lahir pada 13 Februari 1876. Lelaki itu merupakan saudara sepupu dari seorang ulama besar Banten yang juga imam besar Masjidil Haram, Syekh Nawawi al-Bantani.

Ayahanda Abdul Karim al-Bantani bernama Ki Mas Tanda bin Ki Mas Ruyani. Dari garis bapaknya itu, nasabnya bersambung hingga sang pendiri Kesultanan Banten yang juga putra Sunan Gunung Jati, yakni Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah.

 
Nasabnya bersambung hingga sang pendiri Kesultanan Banten yang juga putra Sunan Gunung Jati, yakni Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah.
 
 

Dengan latar keluarga yang alim itu, ia pun tumbuh menjadi pribadi yang berwibawa. Di samping itu, semangatnya dalam menuntut ilmu-ilmu agama Islam pun sangat tinggi. Cita-citanya menjadi seorang alim ulama kelak ketika mendewasa.

Sejak masih berusia belia, Abdul Karim belajar pada sejumlah ulama. Salah seorang gurunya adalah Syekh Ahmad Khatib Sambas, yang juga pemuka tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah pada masanya. Sama seperti Syekh Nawawi al-Bantani, ulama yang lahir pada 1217 itu pun mengajar di Masjidil Haram. Bahkan, dai dari Kalimantan Barat itu wafat di kota suci tersebut.

Di antara banyak murid Syekh Ahmad, Abdul Karim menjadi yang paling terkemuka. Kesan itu dicatat antara lain oleh orientalis Christiaan Snouck Hurgronje. Penasihat pemerintah kolonial Belanda itu menuturkan, Abdul Karim berhasil dalam keilmuan tasawuf dan amaliah tarekat.

Penilaian demikian berasal dari gurunya, Syekh Ahmad Khatib. Karena itu, putra daerah Banten itu dipercaya untuk menyebarkan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah begitu dirinya kembali ke kampung halaman.

 
Putra daerah Banten itu dipercaya untuk menyebarkan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah begitu dirinya kembali ke kampung halaman.
 
 

Pada akhirnya, pengaruhnya sebagai mursyid tidak hanya sebatas wilayah Banten. Tidak sedikit kaum Muslimin di Temasek (Singapura), Semenanjung Malaya, bahkan hingga Pattani (Thailand selatan) mengenangnya sebagai penyebar Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Selama bermukim di kota kelahiran Rasulullah SAW, Abdul Karim juga menjalin hubungan dengan sejumlah tokoh Nusantara. Di antaranya ialah Syekh Nawawi al-Bantani, Syaikhona Muhammad Kholil al-Bangkalani, serta Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi. Dari mereka, dirinya menyerap banyak ilmu, hikmah, dan keteladanan.

Ikut berjuang

Menjelang tahun 1860-an, Syekh Abdul Karim pulang ke Tanara, tanah kelahirannya. Kala itu, usianya sudah mencapai 20 tahun. Begitu tiba di tujuan, dirinya mulai merintis dakwah dan majelis ilmu.

Dalam waktu yang tidak lama, ia telah memiliki banyak santri dan pengikut. Mereka menyerap ilmu dan nasihat dari sang syekh. Tidak sedikit pula yang bergabung dalam tarekat yang diajarkannya.

Tidak hanya memiliki kedalaman ilmu-ilmu agama. Syekh Abdul Karim pun terbilang cukup kaya. Dengan modal hartanya, ia gemar melakukan safari dakwah ke berbagai daerah di Banten. Perlahan namun pasti, reputasinya kian besar di tengah masyarakat umum maupun para pembesar. Bahkan, bupati Serang saat itu menyatakan diri sebagai pendukungnya.

Tentunya, Syekh Abdul Karim tidak menutup mata terhadap kondisi rakyat. Pada waktu itu, penjajahan yang dilakukan Belanda terus mengganas. Maka, dalam setiap dakwahnya ia selalu membangkitkan semangat masyarakat untuk pantang menyerah. Selalu pererat rasa persaudaraan untuk melawan penindasan. Alhasil, gerak-geriknya selalu diawasi polisi kolonial.

 
Syekh Abdul Karim tidak menutup mata terhadap kondisi rakyat. Pada waktu itu, penjajahan yang dilakukan Belanda terus mengganas.
 
 

Sebelum kedatangan Syekh Abdul Karim dari Tanah Suci, para tokoh agama di Banten kala itu masih berdakwah secara sporadis. Dalam arti, belum ada koordinasi antara satu dan lainnya. Tiap pesantren berjalan sendiri-sendiri. Bahkan, kadang kala terjadi persaingan di antara mereka.

Begitu sang syekh hadir di tengah kaum agamawan itu, kerja sama mulai terbangun. Lagipula, ia pun datang tidak hanya untuk menyiarkan dakwah, tetapi juga menyebarkan tarekat sufi. Dalam membangun solidaritas dengan sesama ulama Banten, dirinya disokong para murid. Beberapa di antaranya ialah Tubagus Muhammad Falak Pandeglang, KH Asnawi Caringin, serta Haji Marjuki.

Dalam kunjungannya ke beberapa daerah, Syekh Abdul Karim juga tak henti-hentinya berseru kepada rakyat supaya memperbarui kehidupan agama mereka dengan jalan lebih taat beribadah. Ia mengungkapkan bahwa akidah dan ibadah umat harus terus dimurnikan.

Berkat kedudukannya yang luar biasa, khutbah-khutbah Syekh Abdul Karim memberikan pengaruh yang besar di tengah publik. Dia memfokuskan zikir sebagai sebuah upaya untuk membangkitkan kembali muruah kehidupan religi masyarakat.

Setelah Syekh Abdul Karim banyak melakukan kunjungan dari satu tempat ketempat lain, daerah Banten akhirnya diwarnai kehidupan keagamaan yang luar biasa aktifnya. Pengaruh dari meluasnya kegiatan keagamaan ini adalah bangkitnya semangat di kalangan umat dalam menentang kaum penjajah.

Kebetulan pada waktu itu sudah berkembang rasa ketidakpuasaan rakyat kepada pemerintah kolonial akibat tindakan politik dan ekonomi mereka yang merugikan rakyat. Dalam situasi demikian, para ulama secara bertahap membangunkan semangat rakyat untuk melawan pemerintah kolonial Belanda.

 
Syekh Abdul Karim adalah salah satu ulama yang sangat dihormati dan paling berpengaruh di Nusantara pada pengujung abad ke-19.
 
 

Geger Cilegon

Syekh Abdul Karim adalah salah satu ulama yang sangat dihormati dan paling berpengaruh di Nusantara pada pengujung abad ke-19. Sosok berjulukan Kiai Agung itu memiliki banyak pengikut pada masanya. Bahkan, sebagian orang menganggapnya sebagai wali Allah.

Selama belasan tahun, Banten dikuasai Belanda. Rakyat sempat melawan, tetapi dengan cepat dibungkam oleh rezim penjajah. Bagaimanapun, amarah umum tetap ada dan tersimpan. Puncaknya, pecahlah pemberontakan pada Juli 1888. Peristiwa itu belakangan dikenang sebagai Geger Cilegon.

Sebelum pemberontakan benar-benar pecah di Banten pada 1888, guru Syekh Abdul Karim, Syekh Ahmad Khatib Sambas, meninggal dunia. Mendengar kabar itu, sang Kiai Agung memutuskan untuk bertolak ke Makkah—kota tempat gurundanya menghembuskan nafas terakhir. Usai keberangkatannya pada 1876, ia tidak lantas kembali ke Tanah Air. Terlebih dahulu, dirinya menggantikan posisi gurunya itu sebagai mursyid tarekat di Tanah Suci.

Sebelum bertolak ke Makkah, Syekh Abdul Karim telah banyak berkeliling di wilayah Banten. Di tempat-tempat yang dikunjunginya, ia berseru kepada rakyat agar berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar.

 
Di tempat-tempat yang dikunjunginya, ia berseru kepada rakyat agar berpegang teguh pada ajaran agama, dan menjauhkan diri dari perbuatan mungkar.
 
 

Selain itu, ia juga pamit kepada para pamong praja terkemuka. Pesannya kepada mereka agar para pembesar pribumi selalu menyokong perjuangan alim ulama dalam membangun kembali kehidupan yang religius.

Menjelang keberangkatannya, Syekh Abdul Karim juga menasihati murid-murid terdekatnya bahwa dirinya tidak akan kembali lagi ke Banten selama daerah ini masih berada dalam genggaman penjajah. Kendati demikian, ia terus menjalin komunikasi dengan murid-murid dan pengikutnya untuk melakukan jihad atau perang suci.

Pada akhirnya, tidak sedikit di antara para santrinya yang berperan penting dalam peristiwa Geger Cilegon. Mereka di antaranya ialah Haji Sangadeli dari Kaloran; Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang; Haji Abu Bakar dari Pontang; Haji Tubagus Ismail dari Gulacir; serta Haji Marjuki dari Tanara.

Kepergian Abdul Karim ke Makkah memang tidak menyurutkan pengaruhnya di Banten. Popularitasnya bahkan meningkat. Sementara, para muridnya sendiri sudah tidak sabar menantikan seruannya untuk melakukan pemberontakan.

Hingga akhirnya, pemberontakan dimulai pada 9 Juli 1888 dari Cilegon. Pemberontakan petani Banten ini dilatarbelakangi kekejaman Belanda dalam memeras tenaga kerja pribumi. Selain itu, pemerintah kolonial juga merampas hak-hak umum atas tanah mereka.

 
Untuk memadamkan pemberontakan, pemerintah kolonial bahkan sampai harus mengirim tambahan pasukan dari Batavia dan ekspedisi militer ke berbagai jurusan.
 
 

Dari Cilegon pemberontakan melebar ke Anyer dan Serang. Untuk memadamkan pemberontakan, pemerintah kolonial bahkan sampai harus mengirim tambahan pasukan dari Batavia dan ekspedisi militer ke berbagai jurusan.

Begitu menguasai keadaan, rezim penjajah memburu orang-orang yang terlibat. Ada yang dihukum mati dengan cara digantung di Alun-alun Cilegon. Tak sedikit pula yang dipenjara atau diasingkan ke pulau yang jauh. Sementara itu, melalui agennya di Jeddah, Syekh Abdul Karim dan Haji Marjuki terus dimata-matai spionase Belanda.

 

Peran Dalam Dunia Tarekat

 

Syekh Abdul Karim al-Bantani merupakan seorang ulama-sufi. Tokoh yang berasal dari Banten itu juga menjadi mursyid tarekat. Pengaruhnya tidak hanya di Jawa atau Nusantara, tetapi juga luar negeri, termasuk Tanah Suci.

Sosok berjulukan Kiai Agung itu pernah menjadi pengajar di Masjidil Haram. Saat menghadiri pengajiannya di Makkah pada 1884, orientalis Snouck Hurgronje menyaksikan betapa besar penghormatan jamaah kepada sang ulama. “Setiap malam, beratus-ratus orang yang mencari pahala berduyun-duyun ke tempat tinggalnya, untuk belajar zikir dari dia, untuk mencium tangannya.”

photo
Jamaah Tarekat Naqsabandiyah melaksanakan Shalat Idul Fitri di Mushalla Baitul Makmur, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Rabu (12/5/2021). Tarekat Naqsabandiyah menetapkan jatuhnya satu syawal 1442 Hijriyah pada Rabu (12/5/2021), didasari dengan metode hisab Munjid, yakni penghitungan 30 hari sejak awal puasa, atau sehari lebih dulu dibandingkan yang sudah ditetapkan pemerintah. - (Iggoy el FitraANTARA FOTO)

Tidak hanya berdakwah dengan lisan, Syekh Abdul Karim juga menulis banyak kitab. Salah satu karyanya ialah Risalah Silsilah al-Thariqatain al-Qadiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah. Buku yang ditulisnya bersama dengan Syekh Ibrahim Brumbung Demak itu membicarakan perihal seluk-beluk tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Kitab ini merupakan kelanjutan dari Fathul Arifin, yakni notulensi dari ceramah-ceramahnya. //Fathul Arifin// ditulis di Makkah pada 1295 H oleh seorang murid Syekh Ahmad Khatib Sambas, yakni Syekh Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Syekh dari Sambas, Kalimantan Barat, itu merupakan guru Kiai Agung.

Hingga akhir hayatnya, Syekh Abdul Karim tinggal di Makkah dengan memimpin tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Namun, para sejarawan belum berhasil mengungkapkan tahun meninggalnya sang mursyid.

Sepeninggalan Syekh Abdul Karim, corak penyebaran tarekat itu di Indonesia tidak lagi tunggal. Dalam arti, Qadiriyah wa Naqsyabandiyah terus berkembang, tetapi dimotori oleh banyak kepemimpinan lokal. Bagaimanapun, pengikut tarekat itu mencapai jumlah yang cukup besar.


×