Masjid Agung Manonjaya disebut-sebut sebagai masjid tertua di seluruh Tasikmalaya, Jawa Barat. | DOK FACEBOOK MASJID AGUNG MANONJAYA

Kabar Utama

16 Jan 2022, 04:15 WIB

Masjid Agung Manonjaya, Tertua di Tasikmalaya

Perpaduan unsur arsitektur Sunda, Jawa, dan Eropa tampak pada tempat ibadah ini.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Tasikmalaya merupakan sebuah daerah di Priangan Timur. Sejarah mencatat, Islam sudah menyebar di wilayah tersebut kira-kira sejak abad ketujuh.

Hingga akhir abad ke-17, beberapa kesultanan Muslim, semisal Banten atau Mataram, saling berebut pengaruh di sana. Bagaimanapun, pada akhirnya VOC atau Kompeni-lah yang dapat menguasainya.

Dalam masa penjajahan Belanda, Tasikmalaya dimasukkan sebagai bagian dari Kabupaten Sukapura. Pusat pemerintahannya berada di Harja Winangun. Sejak 1832, nama sentra kabupaten itu diubah menjadi Manonjaya.

photo
Salah satu corak arsitektur khas Sunda di Masjid Agung Manonjaya, Tasikmalaya, ialah bale nyungcung yakni bentuk atap yang mengerucut. - (DOK FACEBOOK MASJID AGUNG MANONJAYA)

Kini, Manonjaya adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Walaupun tidak lagi berstatus ibu kota kabupaten, seperti halnya Singaparna, jejak-jejak pusat pemerintahan masih bisa dijumpai di sana. Salah satunya ialah Masjid Agung Manonjaya.

Tempat ibadah itu dibangun pada tahun 1837. Namun, beberapa sumber menyebutkan tahun pembangunannya ialah 1834. Artinya, kompleks tersebut kira-kira sudah berusia lebih dari 180 tahun. Sejak tahun 1999, masjid tertua di seluruh Tasikmalaya itu sudah berstatus bangunan cagar budaya nasional yang wajib dilestarikan.

photo
Sejak akhir 1990-an, Masjid Agung Manonjaya telah berstatus bangunan cagar budaya nasional. - (DOK ANTARA ADENG BUSTOMI)

Masjid kebanggaan warga Jawa Barat itu berlokasi di Dusun Kaum Tengah, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Penampilannya memancarkan pesona yang cukup unik. Dari segi arsitektur, Masjid Agung Manonjaya menampilkan keindahan khas Sunda, yang berpadu dengan budaya-budaya lain, semisal Jawa dan bahkan Eropa.

Dilihat sekilas, nuansa bangunan masjid tersebut memadukan unsur-unsur desain Eropa dengan corak Sunda dan Jawa. Pada beberapa bagian di sana, tampak sentuhan art deco, yang menjadi sebuah ciri arsitektur di Negeri Belanda. Begitu pula dengan kesan neoclassical architecture, yang ditunjukkan pilar-pilar pada beranda masjid ini.

Beberapa unsur bangunan yang cenderung menyiratkan percampuran unsur-unsur lokal dengan Eropa klasik adalah atap tumpang tiga, serambi, serta struktur sakaguru yang terdapat di tengah ruang shalat. Begitu pula dengan tiang-tiang yang ada di sana.

Adapun nuansa tradisional tampak dari beberapa elemen, seperti pendopo yang ada di sisi timur. Demikian pula dengan mustaka atau memolo, yang konon merupakan peninggalan Syekh Abdul Muhyi, seorang ulama besar yang wafat di Pamijahan, Tasikmalaya Selatan, pada tahun 1730.

photo
Masjid Agung Manonjaya memadukan corak arsitektur lokal, yakni Jawa dan Sunda, dengan unsur-unsur budaya Eropa. - (DOK REP FUJI EP)

Keberadaan memolo itu mengisyaratkan, betapa besarnya pengaruh kebudayaan Jawa di Tanah Sunda sekalipun. Konsep konstruksi itu bersumber dari adaptasi terhadap ciri khas bangunan saktal di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa Hindu atau pra-Islam. Nuansa khas Sunda terlihat dari adanya bale nyungcung, yakni bentuk atap yang mengerucut.

Puluhan tiang menyangga atap Masjid Agung Manonjaya. Masing-masing pilar memiliki diameter antara 50 cm dan 80 cm. Ukuran yang lebih besar berada di bagian beranda.

Di ruang utama, ada sebanyak 10 tiang penyangga. Semuanya itu terdiri atas empat sokoguru yang berbentuk segidelapan, empat tiang di antara sokoguru, serta dua tiang di dekat mihrab.

Tampilannya agak berbeda dengan masjid-masjid klasik bergaya tradisional Jawa. Sebagai contoh, Masjid Agung Demak memakai tiang sokoguru yang berbahan dasar kayu. Adapun Masjid Agung Manonjaya memakai sokoguru  dari material pasangan batu bata.

Masjid yang didominasi warna putih itu memiliki dua menara pada sisi kanan dan kirinya. Letaknya persis mengapit pintu gerbang utama atau menghadap Alun-alun Manonjaya. Dahulu, menara-menara tersebut berfungsi sebagai tempat muazin yang hendak mengumandangkan azan. Tiap menara di sisi kanan dan kiri masjid itu berbentuk segidelapan. Terdapat enam buah jendela di setiap struktur itu.

photo
Sisi interior Masjid Agung Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. - (DOK REP FUJI EP)

Seperti umumnya masjid-masjid yang dibangun di masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid.

Masjid yang berkapasitas lima ribu orang itu hingga kini masih berfungsi sebagai tempat ibadah kaum Muslimin. Tercatat, pemugaran dilakukan selang beberapa tahun pada Masjid Agung Manonjaya. Pertama kali renovasi di sana diterapkan pada tahun 1952. Perawatan khususnya diaplikasikan pada bagian atap masjid. Selain itu, pelebaran area juga diwujudkan, yakni dari yang semula memiliki luas 16 x 16 meter persegi menjadi 16 x 18 m persegi.

Selanjutnya, pada 1972 dan 1992 renovasi kembali diselenggarakan meskipun perbaikan termasuk skala ringan. Pada 2009, gempa bumi melanda wilayah Tasikmalaya. Akibatnya, sebagian Masjid Agung Manonjaya mengalami kerusakan. Sekira dua tahun kemudian, pemerintah melakukan perbaikan pada kompleks setempat.


×