Sejumlah peserta mengikuti pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Minggu (5/7/2020). Sebanyak 5.239 orang peserta mengikuti UTBK SBMPTN 2020 di U | FIKRI YUSUF/ANTARA FOTO

Nasional

14 Jan 2022, 10:40 WIB

Perguruan Tinggi Hanya Sumbang 10-12 Persen Angkatan Kerja

Wapres Maruf Amin mengingatkan tantangan perguruan tinggi.

JAKARTA – Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, lulusan perguruan tinggi hanya menyumbang 10-12 persen dari 138 juta angkatan kerja pada 2020. Angkatan kerja masih didominasi lulusan SMA/sederajat dengan proporsi sekitar 32 persen. 

Wapres mengatakan, persentase itu berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Tahun 2021. "Ini berarti kita semua masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat untuk meningkatkan jumlah angkatan kerja berpendidikan tinggi,” kata wapres pada Wisuda STAI Syaichona Moh Cholil Angkatan ke-10 melalui siaran pers, Kamis (13/1).

Selain komposisi lulusan pendidikan tinggi pada angkatan kerja yang rendah, Ma'ruf juga menyoroti masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Data UNESCO menunjukkan hanya satu dari 1.000 orang Indonesia yang gemar membaca.

"Ini harus kita perbaiki. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang kalau ibarat 'tong kosong nyaring bunyinya'. Itu dalam arti bacaan," kata dia.

Wapres menjelaskan, masyarakat Indonesia sangat aktif di media sosial. Wapres pun mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan membaca. 

"Ulama menafsirkan, sering membaca itu tidak hanya yang kita baca huruf-huruf Alquran, tapi ilmu-ilmu Allah yang termaktub di dalam kehidupan yang nyata, di bumi, di laut, dan di udara. Jadi, semua adalah objek daripada bacaan kita," katanya.

Selain itu, Wapres mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk terus mengembangkan SDM unggul. Salah satu cara mencapai SDM unggul melalui kolaborasi semua pihak, termasuk lembaga pendidikan. 

Ia pun mengingatkan mengenai lima tantangan lembaga pendidikan tinggi saat ini. Pertama, perguruan tinggi diharapkan berkontribusi konkret dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

"Penguasaan iptek juga harus diimbangi dengan penguatan keimanan, nasionalisme, dan akhlak mulia. Tujuannya agar pemanfaatan iptek benar-benar membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara," ujar dia.

Tantangan kedua, ia mengatakan, pengembangan pendidikan berbasis teknologi digital. Tantangan ketiga adalah memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan talenta serta mendorong kreativitas dan inovasi. 

Saat ini, pemerintah telah membuka kesempatan untuk “merdeka belajar” sehingga pendidikan tinggi dituntut untuk responsif dan bijak dalam penerapannya. "Implementasinya menuntut pendidikan tinggi untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seraya memanfaatkan kemajuan teknologi," katanya.

Tantangan keempat yakni mengimplementasikan iptek sesuai konteks dan kearifan lokal. Tantangan kelima adalah memperluas jejaring kerja sama, baik dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi profesi dan kemasyarakatan, dunia usaha dan industri, hingga media, baik di dalam maupun di luar negeri. 

Upaya kerja sama itu seperti yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam program magang. "Dunia usaha mengapresiasi program pemagangan dengan perguruan tinggi, mengingat Apindo memiliki concern yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja," kata Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani, Rabu (12/1). 

Sumber : Antara


×