Seorang pria melintasi papan penyedia layanan asuransi di Jakarta, beberapa waktu lalu. Secara umum, industri asuransi syariah mencatatkan pertumbuhan di tengah tekanan pandemi Covid-19. | ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.

Ekonomi

15 Jan 2022, 00:05 WIB

Momentum Pertumbuhan Asuransi Syariah

Industri asuransi syariah harus terus berupaya meningkatkan literasi masyarakat.

 

Industri asuransi syariah dinilai memiliki prospek yang menjanjikan seiring dengan peluang pertumbuhan yang masih sangat besar. Beberapa faktor, antara lain, pandemi Covid-19, berpotensi mendorong pertumbuhan industri ini.

Secara umum, industri asuransi syariah mencatatkan pertumbuhan di tengah tekanan pandemi Covid-19. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), aset asuransi syariah per 30 Juni 2021 tumbuh 4,83 persen year on year (yoy) menjadi Rp 42 triliun dibandingkan periode tahun lalu yang sebesar Rp 40,8 triliun.

photo
Aset Asuransi Syariah - (AASI)

Dari sisi kontribusi bruto, industri asuransi syariah tumbuh signifikan sebesar 51,89 persen yoy dari Rp 7,6 triliun menjadi Rp 11,5 triliun per 30 Juni 2021. Seiring dengan kenaikan kontribusi bruto ini, klaim bruto juga mengalami kenaikan sebesar 72,77 persen yoy menjadi Rp 9,7 triliun.

photo
Kontribusi Bruto - (AASI)

Peneliti ekonomi syariah dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fauziah Rizki Yuniarti mengatakan, Covid-19 juga meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya dalam hal menabung, berinvestasi, dan berasuransi. Masyarakat mulai sadar pentingnya mengantisipasi dampak dari risiko yang dipicu oleh krisis tersebut.

 

 

"Secara peluang, asuransi syariah ke depan masih akan terus tumbuh karena risiko atau ketidakpastian masih tetap ada." 

 

Fauziah
 

"Secara peluang, asuransi syariah ke depan masih akan terus tumbuh karena risiko atau ketidakpastian masih tetap ada," kata Fauziah kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, menurut Fauziah, industri asuransi syariah masih menghadapi sejumlah tantangan. Perlambatan ekonomi membuat masyarakat belum bisa membayar premi maksimal. Oleh sebab itu, lanjut Fauziah, industri asuransi syariah harus bisa mengembangkan produk untuk meraup peluang yang ada.

Upaya lainnya yang bisa dilakukan, yaitu dengan meningkatkan kapabilitas teknologi informasi. Pasalnya, industri asuransi syariah kini tidak hanya bersaing dengan asuransi konvensional, tetapi juga dengan platform asuransi digital atau insurtech. Menurut Fauziah, asuransi syariah harus bisa beradaptasi dengan kemajuan di era digital ini.

"Industri asuransi syariah harus beradaptasi dengan cepat, bangun sendiri kapabilitas teknologi informasi dari dalam, atau kolaborasi dengan yang sudah ada," ujar Fauziah.

 

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat mengakui, pandemi Covid-19 telah berdampak ke semua sektor, termasuk asuransi syariah. Meski mengalami pertumbuhan kontribusi, beberapa indikator menunjukkan perlambatan.

Menurut Emir, penurunan signifikan terjadi pada hasil investasi seiring dengan anjloknya kinerja pasar modal. Berdasarkan data AASI, hasil investasi pada kuartal II 2021 masih tercatat minus Rp 342 miliar. Meski demikian, dari sisi kinerja, hasil investasi tersebut tumbuh 85,45 persen dibandingkan kuartal II 2020 yang minus hingga Rp 2,3 triliun.

Di sisi lain, Emir melihat, industri asuransi syariah di Indonesia masih memiliki peluang dan potensi yang besar untuk bertumbuh. Hal tersebut didukung oleh meningkatnya proporsi jumlah penduduk Muslim kategori milenial yang mulai sadar berinvestasi syariah.

"Selain itu, pertumbuhan asuransi syariah juga ditopang oleh meningkatnya ghirah keislaman penduduk Muslim Indonesia dalam mengadopsi jasa keuangan syariah, termasuk asuransi syariah yang mulai dilirik sebagai alternatif asuransi konvensional," ujar Emir.

Dalam tiga tahun ke depan, Emir mengatakan, potensi bisnis asuransi syariah diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp 9,6 triliun hingga Rp 10 triliun. Dari total potensi tersebut, berdasarkan survei, sekitar 81 persen berasal dari kalangan Muslim dan 19 persen dari non-Muslim.

Industri asuransi syariah juga mendapatkan efek domino dari layanan syariah BP Tapera dan BP Jamsostek. Selain itu, faktor Qanun Syariah di Aceh, merger Bank Syariah Indonesia (BSI), dan konversi perbankan menjadi Bank Umum Syariah (BUS) juga berkontribusi positif terhadap industri asuransi syariah.

Di samping itu, lanjut Emir, meningkatnya digitalisasi industri keuangan syariah dapat menjadi momentum bagi industri asuransi syariah untuk memasarkan produk yang lebih efisien dan efektif kepada target pasar Muslim. Untuk menangkap peluang yang ada, Emir mengatakan, pemangku kepentingan di industri asuransi syariah harus terus berupaya meningkatkan literasi dan pemahaman tentang asuransi syariah.

photo
Proporsi Aset Industri Asuransi Syariah - (AASI)

"Perusahaan asuransi syariah juga harus melakukan transformasi digital seperti insurtech sehingga dapat mendorong penggunaan teknologi yang tangguh untuk menghadirkan akses layanan asuransi syariah yang masif, luas, murah, dan akurat," terang Emir.

PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life) adalah salah satu perusahaan yang melakukan transformasi digital dalam mengembangkan bisnis syariah. Direktur dan Chief of Partnership Distribution Officer Allianz Life, Bianto Surodjo mengatakan, pertumbuhan bisnis dapat terjadi dengan memanfaatkan ekosistem digital secara efektif.

"Bekerja sama dengan pihak lain yang telah memiliki ekosistem digital akan menjangkau masyarakat yang belum tersentuh produk asuransi sebelumnya," kata Bianto.

photo
Seorang Customer Care Representative IFG Life melayani nasabah, di Jakarta, Rabu (24/11/2021). - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Untuk mempercepat perkembangan asuransi syariah, menurut Bianto, diperlukan ekosistem syariah dan keterhubungan antara perusahaan asuransi dan bank, institusi keuangan lain, tekfin, maupun nasabah. Kemudian, perlu ada edukasi mengenai keuangan dan asuransi syariah yang dilakukan secara berkesinambungan.

Selain itu, kerja sama dan kolaborasi dalam menumbuhkan industri syariah dan digital di berbagai bidang perlu dilakukan. Hal itu antara lain berupa dialog dengan regulator dan pencegahan fraud. Selain itu, perlu ada peraturan yang seimbang dengan industri lain agar dapat memberikan perlindungan kepada nasabah dan perusahaan asuransi.

"Di sisi lain, dukungan pemerintah dan regulator untuk industri syariah tentu menjadi hal yang sangat krusial sebagai pelengkap keseluruhan upaya ini," tutur Bianto.


×