Prof Sukron Kamil: peran NU di dunia internasional akan lebih baik. | Dok Republika

Hiwar

01 Jan 2022, 04:20 WIB

Peran NU di Dunia Internasional Dinilai akan Lebih Baik

Kemenangan Gus Yahya bersama KH Miftah itu kembalinya kalangan tradisionalis yang punya visi kemodernan.

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Rais Aam dan Rais Tanfidziah PBNU masa bakti 2021-2026. Bagaimana masa depan NU dalam kepemimpinan duet kiai ini?

Untuk mengulasnya, wartawan Republika Andrian Saputra mewawancarai seorang akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga merupakan pengamat organisasi Islam, Prof Sukron Kamil. Berikut kutipannya.

Seperti apa NU ke depannya di bawah kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf?

Secara umum itu kemenangan kembali NU didominasi oleh kalangan Jawa Tengah dan Jawa Timur dan itu sebenarnya adalah dominasi tradisional di NU. NU memang pernah dipimpin juga oleh Idham Chalid, dalam sepuluh tahun terakhir dipimpin oleh KH Said Aqil Siroj bersama KH Ma'ruf Amin dan keduanya dari Jawa Barat.

Yang juga perlu dilihat kemenangan Gus Yahya bersama KH Miftachul Akhyar itu kembalinya kalangan tradisionalis yang punya visi kemodernan.

Sebenarnya yang disesali oleh aktivis NU yang dari latar belakang PMII, Yahya Cholil Staquf itu kan kayak Saifullah. Beliau itu berproses kan di antaranya di HMI. Dan itu kan hampir sama dengan Subhan ZE yang sebenarnya latar belakangnya dulunya adalah Muhammadiyah.

Kita harapkan ke depannya NU tidak hanya berpandangan konservatif, tapi juga pandangan-pandangan hampir sama atau melanjutkan apa yang dilakukan dengan kuat setelah Subhan ZE itu adalah di Gus Dur, jadi itu adalah kelanjutan dari Gus Dur.

Saya kira Gus Yahya lebih dekat sebagai anak ideologisnya Gus Dur dan itu berarti inilah yang dikhawatirkan oleh kalangan Islam konservatif atau bahkan fundamentalis, NU dianggap dikuasai oleh kaum liberal. 

photo
Ketua Umum PBNU terpilih Yahya Cholil Staquf (tengah) berjalan usai pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Universitas Lampung, Lampung, Jumat (24/12/2021). Yahya Cholil Staquf terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 pada Muktamar NU ke-34 mengalahkan Said Aqil Siroj. - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.)

Namun hemat saya biarkan saja, itu istilah yang sebenarnya agak tendensius, karena kan memang liberalisme juga bagian dari Islam yang dimulai dari Umar bin Khattab dalam pengertian Islam yang harus bisa dipahami secara akal selain oleh ayat seperti pada penekanan kepada keadilan

Dengan demikian, kelihatan kalau dari sisi kiprahnya Gus Yahya itu punya jaringan bukan hanya kalangan islam tradisional saja yang mungkin dikhawatirkan juga oleh kalangan tertentu karena dianggap bahwa kalau melihat seseorang lihat saja temannya.

Padahal sebenarnya kalau kita bicara organisasi semakin banyak jaringan semakin baik, maka orang macam dia itu kayak Mahfud MD yang punya komunikasi yang baik dengan kaum modernis Islam seperti yang belum lama ini juga orang macam Jusuf Kalla sampai mengucapkan selamat. 

Tentu saja saya kira peran-peran NU di dunia internasional kelihatannya akan lebih baik karena apa pun itu Gus Yahya dikontroversikan yang pernah hadir dalam pertemuan Yahudi. Yang bagi Gus Yahya itu adalah bagian dari kelanjutan apa yang diperjuangkan Gus Dur memperjuangkan Palestina, tidak selamanya lewat senjata justru lewat sebuah terobosan-terobosan jaringan. Itu saya kira yang paling positif.

Dalam beberapa kesempatan Gus Yahya mengatakan agar pengurus NU tidak terlibat politik praktis, bagaimana pendapat Anda?

Itu yang paling tampak. Semacam reorientasi NU di tangan Gus Yahya. Beliau menyebut bahwa seorang pengurus NU, kalau dia masih formalnya pengurus NU, tidak boleh terlibat di dalam politik praktis.

Dan itu artinya NU sebagai civil society akan lebih menguat sebagaimana Muhammadiyah. Selama ini NU terlalu dekat dengan kekuasaan bahkan saya sering bilang day to day politic yang karena itulah di Kemenag saja banyak intervensi di dalam masalah politik termasuk penentuan rektor sekalipun. Sempat kritis terhadap pemerintah tapi ternyata kan itu bagian dari negosiasi untuk memperoleh jabatan-jabatan tertentu. 

Makannya positifnya saya senang anak-anak muda NU itu sampai menjadi komisaris di beberapa tempat, tetapi hemat saya NU meskipun dekat dengan kekuasaan dan bagian dari kekuasaan itu sama sekali kurang punya peran misalkan di dalam pendalaman demokrasi, bahasa sederhananya kurang memberikan bisikan-bisikan baik kepada Jokowi.

 
Meminta semua pengurus NU tidak aktif terlibat dalam politik meskipun kalau aktif tidak boleh jadi pengurus NU saya kira itu adalah sesuatu yang memang positif.
 
 

Meskipun bisa dipahami presiden Jokowi itu kan memimpin atas nama kelompok kelompok tertentu. Karena itulah kekuatan PDIP dan beberapa jenderal senior di baliknya lebih tampak berpengaruh ketimbang NU itu sendiri. 

Hemat saya dengan meminta semua pengurus NU tidak aktif terlibat dalam politik meskipun kalau aktif tidak boleh jadi pengurus NU saya kira itu adalah sesuatu yang memang positif. Sebagaimana orang kalau mau aktif di politik tidak boleh terlibat di jabatan-jabatan yang lain yang itu bisa terjadi conflict of interest.

Saya kira itu adalah sisi positif yang karena itu kalau itu terjadi bukan hanya penguatan NU sebagai civil society tetapi fokusnya bagi pengembangan kelembagaan menjadi lebih riil karena kan masih banyak agenda agenda nu baik sebagai organisasi maupun sebagai kelompok sosial keagamaan

Seperti apa tantangan NU pasca muktamar ini?

Tantangan atau agenda yang harus dikembangkan masih sangat banyak. Saya kira selain reorientasi kelembagaan atau internal kelembagaan. Saya kira yang paling penting itu adalah pengembangan organisasi lewat program.

Yang pertama itu adalah penguatan lembaga-lembaga pendidikan di bawah NU. Kiai Said Aqil sisi positifnya telah mengembangkan STAINU yang belakangan berubah menjadi Universitas NU, tetapi saya kira di tangan Gus Yahya harus lebih baik lagi. 

Sebenarnya kan NU sangat mungkin untuk mengembangkan perguruan tinggi seperti Muhammadiyah. Dengan demikian NU bukan hanya bergantung pada sumber daya keuangan pada jabatan-jabatan politik dan penguasaan kementerian seperti Kementerian Agama.

Saya kira dengan mengembanhkan lembga-lembaga pendidikan, secara otomatis juga memberdayakan ekonomi elite elite NU dari mulai akar rumput karena dengan begitu mereka kan bisa mendapatkan honor dari lembaga pendidikan.

Bukan saja pengembangan universitas seperti STAINU, tapi yang paling ini adalah bagaimana mengembangkan masyarakat NU itu secata ilmu pengetahuan itu penguasaan atas ilmu pengetahuan modennya meningkat.

photo
Ketua Umum PBNU terpilih Yahya Cholil Staquf (tengah) melambaikan tangan usai pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Universitas Lampung, Lampung, Jumat (24/12/2021). - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.)

Selama ini sumber daya manusia NU kan hanya siap di Kemenag. Karena hanya menguasai ilmu keagamaan, saya kira ke depan juga harus menguasai ilmu ilmu kemodernan salah satunya lewat pendirian universitas di bawah NU. Kalau lembaga pendidikan di bawahnya, PR-nya kan masih banyak. 

Jadi internalnya SDM NU itu masih berkutat di wilayah keagamaan. Yang belum berubah dari dulu. Kedua tantangannya adalah bagaimana mempersatukan elemen elemen yang ada di NU. Misalnya sekarang ini teman teman NU yang latar belakang PMII kan belum bisa menerima Gus Yahya sendiri karena dianggap bukan anak ideologis murni.

Ketiga tantangan internalnya itu sedikitnya sumber daya yang dimiliki oleh NU. Sumber daya ekonomi saya kira masih sangat lemah. Yang itu menyulitkan Gus Yahya. Sehingga ketika kesuliyan sumber daya itu ya bertumpu pada sumber daya yang didapat dari kementerian yang menterinya dari NU. 

Kalau eksternalnya bagaimana NU bisa berperan dalam tingkat nasional dan internasional. Selama ini NU kesulitan juga, apalagi di dunia internasional bahkan di nasional saja terlalu sulit dipisahkan atau terlalu berdekatan dengan dengan wilayah politik. Sehingga upaya pendalam demokrasi itu rendah. 

Padahal tantangan ke depannya bahwa demokrasi di indonesia sekarang ini kan mengalami penurunan indeksnya. Salah satunya karena budaya politok kita termasuk money politics itu masih sangat tinggi.

Karena itulah tantangan internalnya misalnya bagaimana NU berperan di dalam integritas antikorupsi, karena kan sebagian kader NU itu, saya kira yang terkenal itu mantan menpora itu yang sekarang sudah ditetapkan hukumnya.


×