Sejumlah bendera parpol masih berkibar pada hari tenang Pemilu 2009 di daerah pedalaman distrik Wosak, Jayawijaya, Papua, Selasa (7/4/2009). | ANTARA/Prasetyo Utomo

Nasional

29 Dec 2021, 03:45 WIB

Elektabilitas Mayoritas Partai Turun

Berdasarkan survei SMRC, hanya PDIP yang elektabilitasnya naik.

JAKARTA -- Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis hasil survei terkait prospek partai politik dan calon presiden. Hasilnya, mayoritas partai yang berada di parlemen mengalami penurunan dibandingkan perolehan suara pada pemilihan umum (Pemilu) 2019.

Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas menjelaskan bahwa hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang elektabilitasnya meningkat dibandingkan perolehan suara di Pemilu 2019. Pada kontestasi sebelumnya, parrai berlambang kepala banteng itu mendapatkan perolehan suara sebanyak 19,3 persen dan meningkat menjadi 25,2 persen berdasarkan hasil survei terbaru.

Sedangkan Partai Golkar, pada Pemilu 2019 mendapatkan perolehan suara sebanyak 12,3 persen. Adapun, dalam survei terbaru SMRC pada medio Desember 2021, elektabilitasnya menjadi 10,8 persen.

"Partai Gerindra juga mengalami penurunan, di mana pada Pemilu 2019 mereka memperoleh sebanyak 12,6 persen. Kemudian menjadi 10,8 persen pada Desember," ujar Sirojudin dalam rilis surveinya secara daring, Selasa (28/12).

photo
Bajaj melintasi jembatan yang terpasang bendera partai politik di kawasan Senen, Jakarta, Jumat (22/7/2013). - (ANTARA)

Selanjutnya, elektabilitas Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Desember 2021 sebesar 8,4 persen. Turun ketimbang perolehan suaranya pada Pemilu 2019, yakni 9,7 persen. Elektabilitas Partai Demokrat sebesar 6,2 persen, turun dari 7,8 persen. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga mengalami penurunan dari 8,2 persen menjadi 5,1 persen.

Sementara itu, terdapat tiga partai yang memiliki elektabililitas kurang dari ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) sebesar 4 persen. Ketiganya, yakni Partai Nasdem (3,4 persen), Partai Persatuan Pembangunan (2,7 persen), dan Partai Amanat Nasional (1,8 persen)

"Nasdem, PAN, PPP belum aman untuk kembali lolos ke Senayan, masih kurang dari ambang batas 4 persen," ujar Sirojudin.

SMRC melakukan survei pada 8 sampai 16 Desember 2021. Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih.

Dari populasi itu dipilih secara acak sebanyak 2.420 responden. Adapun responden yang dapat diwawancarai secara valid adalah sebanyak 2.062 dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung menanggapi survei SMRC yang menunjukkan elektabilitas partainya yang turun ketimbang perolehan suara pada Pemilu 2019. Menurutnya, Partai Golkar dapat segera mengevaluasi sejak dini kekurangan dari pihaknya.

"Jadi kalau sekarang 11,6 (persen), ya mudah-mudahan nanti kalau dari sekarang kita sudah susun kerja-kerja calon legislatif itu dari sejak dini, suara yang signifikan dari 2019," ujar Doli.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo mengatakan, bahwa naik atau turunnya perolehan suara dalam hasil survei merupakan hal yang lumrah. Hasil survei selalu menjadi bahan evaluasi untuk internal partai.

"Tentunya apa yang disampaikan dari segi survei tersebut di mana ada partai yang sangat tipis perbedaannya, sekali lagi itu jadi penguatan dan bahan evaluasi partai kami," ujar Rahayu.

Adapun, Sekretaris Fraksi Partai Nasdem DPR Saan Mustopa menanggapi, penurunan suara sebelum kontestasi merupakan hal yang biasa. "Fluktuasi atau dinamika terkait posisi partai itu merupakan hal yang biasa, tapi sekali lagi ini menjadi bahan buat kami lakukan evaluasi," ujar Saan.

photo
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memberikan sambutan saat peringatan HUT ke-10 Partai NasDem di Gedung Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem, Jakarta, Kamis (11/11/2021). - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Survei capres

SMRC juga merilis hasil survei terkait prospek partai politik dan calon presiden (capres). Hasilnya, dua nama teratas masih ditempati oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sirojudin Abbas menjelaskan, bahwa pihaknya menanyakan kepada responden dalam format semi terbuka bila pemilihan presiden (Pilpres) dilakukan sekarang. Dari 43 nama, elektabilitas Prabowo (19,7 persen) dan Ganjar (19,2 persen).

"Ganjar Pranowo kenaikannya sampai 100 persen dari posisi bulan Maret (2021). Maret ini 6,9 persen, Oktober (2020) 7,7 persen, Maret (2021) 8,8 persen menguat Mei pada September menjadi 15,8 persen, pada Desember 19,2," ujar Sirojudin.

Adapun di peringkat ketiga, ada nama Gubernur DKI Jakarta yang memperoleh elektabilitas sebesar 13,4 persen pada Desember 2021. Ia menjelaskan, Anies mengalami kenaikan dalam setiap survei, tetapi tidak signifikan.

"Pak Anies juga mengalami peningkatan, tetapi kenaikannya tidak secepat dan tidak setinggi Ganjar," ujar Sirojudin.


×