Mobil dobel kabin dan jalan dari Merauke menuju Boven Digoel. | Priyantono Oemar/Republika

Safari

25 Dec 2021, 19:49 WIB

Berlibur ke Boven Digoel

Boven Digoel jadi saksi sejarah dari para tokoh nasional ditahan di masa pemerintahan kolonial Belanda.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Indonesia tak hanya kaya dengan alamnya, melainkan juga dengan budaya dan keragaman hayati di dalamnya. Setiap tempat bahkan memiliki karakternya yang dapat memberikan kenikmatan tersendiri saat bepergian ke sana, entah untuk berlibur atau pun bekerja.

Salah satu tempat yang bersejarah dalam perjalanan bangsa ini adalah Boven Digoel. Nama tempat ini mencuat saat dijadikan lokasi kamp pembuangan yang disediakan pemerintah kolonial Belanda untuk tahanan-tahanan yang dianggap menentang penguasa. Saat ini, tempat tersebut tinggallah sisa-sisa sejarah yang dapat ditelusuri lewat wisata sejarah di sana.

Boven Digoel bisa dicapai dari Jakarta ke Merauke dengan transit di Sentani, Jayapura. Perjalanan dari Merauke dilanjutkan ke Boven Digoel dengan pesawat perintis atau pun lewat jalur darat. Untuk mencapainya, tentu saja perlu biaya ekstra, karena harus menggunakan mobil kabin ganda dan biaya sewa yang cukup tinggi dengan jalanan yang rusak.

Di saat cuaca cerah, perjalanan yang ditempuh mencapai delapan jam. Namun di saat cuaca buruk, perjalanan bisa lebih lama lagi, bahkan bisa menginap di jalan.

“Kalau berangkat rombongan ada teman untuk saling bantu. Tapi jika berangkat sendiri, harus bawa tenaga bantuan,” ujar Bambang, sopir kendaraan kabin ganda, keturunan Jawa-Papua yang disewa untuk perjalanan Merauke ke Boven Digoel.

 
Di Boven Digoel, kita bisa menelusuri tempat para tahanan politik dulu ditahan.
 
 

 

Di Boven Digoel, kita bisa menelusuri tempat para tahanan politik dulu ditahan, seperti penjara Boven Digoel yang kini dijadikan sebagai situs cagar budaya. Situs penjara ini berada di dekat bandara, di samping Polres Boven Digoel.

Ada tiga lokasi kamp pembuangan yang disediakan pemerintah kolonial saat itu, yaitu Gudang Arang di daerah muara, Tanah Merah, dan Tanah Tinggi. Tempat terakhir ini bisa ditempuh dari Tanah Merah menggunakan perahu motor selama satu jam ke arah hulu. "Biaya sewa perahu motor Rp 2 juta per hari," kata pemilik perahu motor di sana, Geradus Fotaha.

photo
Bangunan cagar budaya bekas penjara Boven Digoel. - (Priyantono Oemar/Republika)

Di Tanah Tinggi sudah tak ada lagi bangunan kamp dan sudah menjadi hutan kembali. Kamp di sana dikhususkan bagi tahanan politik yang paling bandel. Wartawan Mas Marco Kartodikromo pernah ditempatkan dan dimakamkan di sana setelah meninggal akibat malaria.

M Hatta yang juga tak mau bekerja sama dengan Belanda selama di Boven Digoel, kata penjaga Situs Cagar Budaya Penjara Boven Digoel Petrus Kundop, juga pernah ditempatkan di Tanah Tinggi, lalu dipindah ke Tanah Merah, lalu dipindah lagi ke Banda Neira.

photo
Bangunan cagar budaya bekas penjara Boven Digoel. Tahanan Pria-A. - (Priyantono Oemar/Republika)

Tapi, M Bondan yang menyertai Hatta di Boven Digoel, tidak menyebut Hatta pernah ditempatkan di kamp Tanah Tinggi. Bondan tinggal serumah dengan Hatta selama di Tanah Merah.

Di sana, Hatta menghabiskan waktu untuk berkebun dan membaca. Ketika dipindahkan ke Banda Neira, ada 15 koper berisi buku Hatta yang harus dibawa serta.

photo
Patung M Hatta yang pernah dipenjara di Boven Digoel. Ketika dipindahkan ke Banda Neira dari Boven Digoel, ada 15 koper berisi buku Hatta yang harus dibawa serta. - (Priyantono Oemar/Republika)

 

Di depan penjara ada gedung pengadilan yang sekarang dijadikan kantor penjaga situs cagar budaya itu. “Dalam sebulan ada 15 sampai 20 pengunjung ke sini,” ujar Petrus, Kamis (25/11) sambil memperlihatkan buku pengunjung.

Pada 2018, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pernah ke sana dan menyatakan situs tersebut akan direvitalisasi. Namun, sampai saat ini, belum ada realisasi revitalisasinya.

photo
Dalam sebulan ada 15 sampai 20 pengunjung ke penjara Boven Digoel. - (Priyantono Oemar/Republika)

Situs tampak tidak terawat, kendati terlihat baru ada pengecatan ulang. Tapi, rumput-rumput liar tumbuh subur dan talang di depan gedung Blok A jatuh ke tanah.

Di dekat ruang bawah tanah dipasang plang bertuliskan “Logistik Bawah Tanah”. “Banyak orang menganggap ini penjara bawah tanah, padahal bukan. Ini ruang untuk menyimpan logistik keperluan dapur,” ujar Petrus.

Menurut dia, masih banyak lagi tempat dan cerita yang melibatkan lokasi di situs Boven Digoel ini yang siap untuk menjadi destinasi wisata sejarah bagi para pengunjung.

photo
Bangunan cagar budaya bekas penjara Boven Digoel. - (Priyantono Oemar/Republika)

Tantangan dari Kondisi Alam

Di Boven Digoel hidup masyarakat adat Auyu, Mandobo, dan Wanggom di Distrik Kouh. Daerah itulah yang menjadi tujuan dari para pengunjung. Ketiga masyarakat adat ini adalah para pengolah hasil hutan bukan kayu.

Perahu motor yang ditumpangi dari Pelabuhan Boven Digoel di Tanah Merah harus melaju melawan arus sungai yang berkelok-kelok ke arah hulu untuk mencapai distrik itu.

photo
Ketika perjalanan itu tidak bertemu kampung, pemandangan kanan dan kiri sungai masih berupa hutan. - (Priyantono Oemar/Republika)

Ketika perjalanan itu tidak bertemu kampung, pemandangan kanan dan kiri sungai masih berupa hutan. Entah berapa kilometer jaraknya. Mereka yang sudah biasa hilir mudik di Sungai Digoel pun tak tahu jaraknya.

“Bisa dilihat di google map,” kata Geradus Fotaha, salah satu pengemudi perahu motor. Tapi begitu google map dibuka, jarak tak terdeteksi di dalamnya.

 
Ketika perjalanan itu tidak bertemu kampung, pemandangan kanan dan kiri sungai masih berupa hutan.
 
 

 

Para pengemudi perahu motor selalu memakai patokan tanjung saat ditanya berapa lama lagi sampai ke tujuan. Yang dimaksud tanjung oleh mereka adalah belokan sungai.

Jangan bayangkan Sungai Digoel itu seperti sungai-sungai di Pulau Jawa. Lebar Sungai Digoel mencapai 200-an meter dan di setiap belokan selalu ada bagian hutan yang menjorok ke sungai, itulah yang mereka sebut tanjung dan itulah yang menjadi tantangan yang dihadapi para pengunjung dari kondisi alam di sana.

Dari Tanah Merah ke Kouh, perahu motor menghabiskan 100 liter minyak untuk perjalanan pergi pulang. Jadi jeriken minyak perlu tersedia di perahu. “Minyak di sini, saat ini Rp 15 ribu per liter,” ujar Geradus, yang menyebut harga minyak sering berubah-ubah, bergantung langka tidaknya persediaan.

Tanah Tinggi, yang disebut koran-koran Belanda berjarak sekitar 35 kilometer dari Tanah Merah, bisa ditempuh dalam waktu satu jam lewat sedikit. Jika ke Kouh memerlukan waktu tiga jam, berarti Tanah Merah ke Kouh berjarak sekitar 100 kilometer. Untuk pulang, karena mengikuti arus, dari Kouh ke Tanah Merah bisa ditempuh selama 2,5 jam.

Tantangan untuk penumpang selama menyusuri Sungai Digoel adalah buang air kecil. Sedangkan tantangan pengemudi perahu motor adalah ranting atau batang kayu yang terbawa arus sungai dari hulu ke hilir. Perahu motor yang ada di Boven Digoel tidak memiliki atap, sehingga jika hujan, penumpang perahu harus rela berbasah-basah.

photo
Di Boven Digoel juga terdapat rumah pohon yang ditinggali suku di Korowai, di daerah hulu Sungai Digoel. - (Priyantono Oemar/Republika)

Sementara itu, di Boven Digoel juga terdapat rumah pohon yang ditinggali suku di Korowai, di daerah hulu Sungai Digoel. Tanah keluarga Yopi Papei di pinggir jalan lama menuju Pelabuhan Lama Bovel Digoel, dimanfaatkan sebagai sanggar seni dan tempat rekreasi. Pohon di halaman rumah dijadikan sebagai rumah pohon.

“Ini jalan menuju pelabuhan lama, yang disebut oude haven,” ujar Yopi menunjuk jalan tanah di samping rumahnya.

photo
Di Boven Digoel juga terdapat rumah pohon yang ditinggali suku di Korowai, di daerah hulu Sungai Digoel. Rumah pohon menggunakan tali untuk pengikat. - (Priyantono Oemar/Republika)

Berarti, jalan ini dulu dilewati Hatta dan rombongannya ketika menjadi tahanan politik. Dari oude haven ke kampung tempat penampungan tahanan politik, jalan inilah dulu satu-satunya jalan yang ada.

Objek wisata rumah pohon ini, kata Yopi, pernah dijadikan lokasi shooting  film tentang pengabdian dokter muda kelahiran Papua, John Manangsang, di Boven Digoel era 1990-an. Judulnya Boven Digoel yang diproduksi pada 2017. Film ini adalah yang pertama kali diproduksi oleh rumah produksi dari Papua.

Di belakang rumah ditanami pepohonan, sehingga menjadi hutan kota dan bisa dimanfaatkan untuk berkemah. “Cuma nyamuknya banyak,” kata Yopi.


×