Foto udara RSDC Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta, Jumat (17/12/2021). Pemerintah memutuskan mengisolasi RSDC Wisma Atlet Kemayoran selama 7 hari sebagai bentuk antisipasi pencegahan penularan varian omikron. | ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/nz.

Kabar Utama

20 Dec 2021, 03:55 WIB

Kontak Pasien Omikron Ditelusuri

Sudah ditemukan empat pasien terjangkit varian omikron.

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan menyebut, penelusuran kontak erat terkait pasien Covid-19 varian omikron perdana sudah dilakukan. Hasilnya, ditemukan 10 orang positif Covid-19 yang kini sedang diperiksa ulang untuk memastikan varian virus yang menginfeksi. 

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan, penelusuran kontak erat langsung dilakukan usai diketahuinya kasus pertama omikron menjangkiti seorang tenaga kebersihan Wisma Atlet berinisial N pada 15 Desember lalu. 

Penelusuran dilakukan dengan memeriksa 60 orang. "(Hasilnya) ada 10 orang kontak erat yang positif Covid-19. (Kini mereka) sedang diperiksa lebih lanjut," kata Nadia kepada Republika, Ahad (19/12). 

Nadia menjelaskan, 10 orang itu diperiksa lebih lanjut dengan melakukan tes whole genome sequencing (WGS). Tes WGS dilakukan untuk memastikan apakah mereka juga terinfeksi varian omikron atau varian lain. Hasil tes WGS mereka diperkirakan baru akan keluar sekitar satu pekan lagi. 

photo
Bus yang membawa tenaga kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri saat menunggu antrean masuk untuk menjalani karantina di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/12/2021). - (Republika/Putra M. Akbar)

Nadia menegaskan, meski 10 pasien positif ini kontak erat dengan pasien omikron, bukan berarti mereka probable case (kemungkinan kasus) omikron. "Ini hanya positif kontak erat dan kita langsung lakukan genom sequencing, jadi belum ada yang probable omicron," katanya. 

Nadia menambahkan, 10 pasien tersebut kini sedang menjalani isolasi di Wisma Atlet Kemayoran. Mereka dirawat di tower yang sama, tapi lantai berbeda dengan pasien terjangkit omikron pertama. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan penemuan kasus Covid-19 pertama dengan varian omikron pada Kamis (16/12). Pasien Covid-19 pertama yang terjangkit varian omikron merupakan salah seorang petugas kebersihan di Wisma Atlet berinisial N. 

N diketahui tak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Dia positif Covid-19 pada 8 Desember dan diketahui terjangkit omikron pada 15 Desember.

Dari penelusuran Kemenkes, kemungkinan besar N tertular dari WNI dengan inisial TF, usia 21 tahun yang tiba dari Nigeria pada 27 November 2021. Tanggal kedatangan itu hanya sehari setelah Afrika Selatan yang disebut sebagai asal varian itu mengumumkan temuan mereka soal keberadaan omikron.

TF adalah salah satu dari 169 WNI dari luar negeri yang melakukan karantina di Wisma Atlet antara 24 November hingga 3 Desember 2021. Dengan pengumuman tersebut, kasus perdana omikron di Indonesia bergeser mundur ke WNI berinisial TF tersebut.

Kementerian Kesehatan sebelumnya mendeteksi dua pasien konfirmasi varian omikron pada Jumat (17/12). Artinya, sejauh ini telah terdeteksi empat pasien yang terjangkit varian omikron.

Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, dua pasien tersebut merupakan hasil pemeriksaan sampel dari lima kasus probable omikron yang baru kembali dari luar negeri. “Dua pasien terkonfirmasi terbaru adalah IKWJ, 42 tahun, laki-laki, perjalanan dari Amerika Selatan serta M, 50 tahun, laki-laki, perjalanan dari Inggris. Saat ini keduanya sedang menjalani karantina di Wisma Atlet,” ungkap dr Nadia, Sabtu (18/12).  

Kedua pasien terbaru terkonfirmasi omikron setelah menjalani karantina wajib 10 hari seusai kembali dari luar negeri. Sedangkan tiga kasus probable lainnya sejauh ini belum keluar hasil pemeriksaannya. Ketiganya adalah WNA asal Cina yang tiba di Manado lebih dari sepekan lalu. 

Terkait temuan ini, Nadia mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak melakukan perjalanan ke luar negeri terlebih dahulu. “Jika kita keluar negeri, maka kita akan keluar dari zona aman menuju zona berbahaya. Jika kembali, nanti akan berpotensi membawa omikron ke Indonesia dan pastinya akan merusak situasi yang sudah kondusif ini,” tutur Nadia.  

photo
Sejumlah penumpang pesawat berjalan di area Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (17/12/2021). - (ANTARA FOTO/Fauzan/nz)

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, ada sejumlah hal yang harus diwaspadai terkait bertambahnya varian omikron ini. Salah satunya adalah kemungkinan terjadinya penularan di dalam negeri. 

"Artinya, perlu sekarang dilakukan pelacakan amat masif tentang penularan ke dan dari N (pasien perdana) dan juga terhadap dua kasus baru ini serta kemungkinan kalau ada kasus baru lain di hari mendatang, dengan melakukan mitigasi berlapis," ujar Tjandra. 

Kedua, bila memang N tertular di RSDC Wisma Atlet, maka hal ini sedikit banyak menambah informasi bahwa omikron memang lebih mudah menular. Hal tersebut karena protokol kesehatan di RSDC tentunya cukup ketat. "Artinya kita semua memang harus benar-benar menerapkan 3M dan 5M secara ketat, apalagi menjelang libur Nataru ini," ia menegaskan. 

Kemudian, kasus N ditemukan karena dilakukan tes pada orang tanpa gejala. Artinya, peningkatan tes harus terus digalakkan dan kalau ada kasus harus dikarantina ketat. Sebagian besar kontaknya, tak dibatasi delapan orang, juga harus diidentifikasi dan ditangani saksama. “Mungkin sampai karantina juga," ujar Tjandra.

Ia mengingatkan, pada Jumat (17/12) para menteri kesehatan negara G-7 baru saja mengeluarkan pernyataan bersama bahwa varian omikron sekarang adalah ancaman terbesar untuk kesehatan masyarakat dunia. "Karena Indonesia adalah presidensi G-20, maka mungkin baik juga kalau para menteri kesehatan G-20 juga mengambil sikap terhadap perkembangan omikron ini, " kata dia. 

Daerah Antisipasi 

Sejumlah daerah mulai menyiapkan strategi guna mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 akibat merebaknya varian omikron. Stok tabung oksigen dan ketersediaan fasilitas menjadi prioritas utama dalam antisipasi tersebut. 

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan, pihaknya menyiapkan instrumen penanganan kesehatan yang sama seperti yang dilakukan saat menangani varian delta beberapa waktu lalu. "Dulu delta terdeteksi di Karawang, menyebar dengan cepat. Oleh karena itu, kami belajar dari delta. Per hari ini, Jabar sedang menyiapkan semua perlengkapan seperti menghadapi virus delta," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil akhir pekan ini.

Selain itu, menurut Emil, ia mendapatkan dukungan dari komunitas Indonesia Pasti Bisa untuk memperkuat stok tabung oksigen dan pemerintah juga menggenjot telusur, tes, dan tindak lanjut (3T). "Tapi apa pun ada kelebihannya dari persiapan kita, yaitu waktu delta vaksinnya sedikit jadi kekebalannya rendah dan yang meninggal mayoritas di Jabar adalah mereka yang tidak bervaksin," katanya.

Emil menjelaskan, capaian vaksinasi di Jabar di tahap satu sudah menyentuh angka 70 persen. Dengan begitu, dapat membentuk kekebalan komunal dalam menghadapi varian omikron. 

Emil juga meminta masyarakat untuk tetap produktif, tapi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. "Mau judulnya tadi macam-macam nama virusnya, jawabannya adalah prokes untuk masyarakat untuk negara adalah gencar dengan 3T. Jadi, saya kira itu saja persiapannya insya Allah jauh lebih siap," katanya. 

photo
Kemacetan panjang kendaraan menuju arah Malioboro di Jalan Mataram, Yogyakarta, Ahad (19/12/2021). Sejak pencabutan status PPKM setiap akhir pekan kawasan atau akses menuju Malioboro macet panjang. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Sementara itu, Dinas Kesehatan DI Yogyakarta menyebut, ketersediaan oksigen masih mencukupi, terutama untuk penanganan Covid-19. Oksigen juga dinilai masih mencukupi untuk antisipasi jika terjadi lonjakan kasus pascalibur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022 serta antisipasi varian baru omikron.

"Oksigen kita insya Allah cukup, mudah-mudahan tidak terjadi (penularan omikron) walaupun di Jakarta sudah, tapi kan sifat dari ini sendiri kan memang betul cepat menular," kata Kepala Dinkes DIY, Pembayun Setyaningastutie, Sabtu (18/12).

Pembayun menuturkan, penggunaan oksigen untuk penanganan Covid-19 tidak tinggi. Hal ini mengingat kasus terkonfirmasi Covid-19 yang saat ini masih dinilai landai di DIY.

DIY juga sudah dapat memenuhi kebutuhan oksigennya sendiri, dengan dibangunnya generator oksigen. Salah satunya, generator oksigen yang dibangun di Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTTG). "Oksigen kita cukup, di setiap rumah sakit sudah tersedia oksigen konsentrator, mudah-mudahan kebutuhan oksigen kita tidak tinggi," ujarnya.

Pihaknya juga sudah menyiagakan tempat isolasi terpadu (isoter) jika terjadi lonjakan kasus usai Nataru dan merebaknya omikron. Isoter ini sudah diaktifkan, tetapi saat ini keterisiannya rendah.

"Kita berharap memang isoter (difungsikan), di kabupaten/kota tetap disiagakan (isoter) walaupun perintah Pak Gubernur kita juga harus menyiagakan untuk menghadapi ini (Nataru dan omikron)," kata Pembayun.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan, protokol kesehatan masih menjadi hal utama untuk menghindari penyebaran Covid-19, termasuk varian omikron.

Pihaknya pun akan melakukan pengawasan dengan ketat terkait penerapan protokol kesehatan guna menghindari adanya penyebaran omikron di DIY. Terutama pada saat libur Natal juga Tahun Baru 2022, yang mana mobilitas masyarakat dipastikan akan meningkat.

DIY juga diprediksi akan dibanjiri oleh pendatang ataupun wisatawan yang datang dari luar daerah, sehingga pengawasan terhadap prokes akan lebih ditingkatkan. "Hati-hati pada kerumunan-kerumunan yang ada, baik itu di mal, mungkin juga pertemuan-pertemuan dan sebagainya. Pertemuan di tempat yang (berpotensi) menimbulkan kerumunan betul-betul prokes itu dilakukan," kata Sultan.

Pihaknya juga mulai menyiapkan rumah sakit, oksigen hingga obat-obatan. "Saya sudah sampaikan ke kadinkes, mencoba menghitung (ketersediaan) oksigen kira-kira dari mana saja. Walaupun kita punya (bisa memproduksi oksigen sendiri), (tetap perlu) ya antisipasi, kalau kebutuhan sudah besar diambil dari tempat lain, yang penting kita mempersiapkan dengan baik," ujarnya.


×