Ratusan santri, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) melakukan kirab membelah sawah di Desa Ciwulan, Telagasari, Karawang, Jawa Barat, Senin (25/10/2021). | ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Opini

16 Dec 2021, 03:45 WIB

NU dan Kaum Tani

Relasi antara kaum santri dan tani adalah relasi yang konkret dan berkesinambungan.

HARVICK HASNUL QOLBI, Wakil Menteri Pertanian 

Dalam waktu dekat, ormas Islam terbesar, yakni Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar muktamar.

Sebagaimana galibnya organisasi kemasyarakatan, seperti Muhammadiyah, Persis, dan Al Washliyah, muktamar sebuah perhelatan akbar berskala nasional yang agendanya memilih pemimpin karismatik (rais 'aam) dan pemimpin eksekutif (ketua umum tanfidziyah) untuk organisasi/jam'iyah ini.

Secara kuantitas, NU adalah ormas Islam terbesar di dunia dengan mayoritas anggota dan kader dari masyarakat akar rumput, yang disebut dengan istilah nahdliyyin.

Latar belakangnya tentu saja beragam, dari mulai pedagang, guru, pegawai negeri, politisi, nelayan, hingga kaum tani. Khusus untuk yang terakhir, yakni kaum tani, barangkali ini adalah potret dominan warga NU di masyarakat.

 

 
Hadratus Syekh menjelaskan, petani adalah benteng terakhir bagi pertahanan negeri.
 
 

Karena itu, antara NU dan petani punya relasi sangat kuat. Hadratus Syekh Kiai Haji Hasyim Asy'ary pernah menulis sebuah artikel pada majalah Soeara Moslimin Indonesia dengan judul "Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani".

Lalu, dijabarkan di bawahnya dengan tulisan "Andjoeran Memperbanyak Hasil Boemi dan Menjoeboerkan Tanah, Andjuran Mengoesahakan Tanah dan Menegakkan Keadilan".

Hadratus Syekh menjelaskan, petani adalah benteng terakhir bagi pertahanan negeri.

"Bapak Tani adalah Goedang Kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperluan. Pa' Tani itoelah penolong negeri. Pa' Tani itu djoega menjadi sendi tempat negeri disandarkan", tulis beliau almaghfurlah.

Hal tersebut di atas menjadi legitimasi sejarah dan ilmiah, bahwa antara NU dan pertanian adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Hadratus Syekh yang tersohor dengan adagium "Hubbul Wathon minal iman", cinta tanah air adalah sebagian dari iman, maka salah satu cara mewujudkan kecintaan pada negeri adalah dengan memberikan atensi besar pada petani juga sektor pertanian.

 
Hal tersebut di atas menjadi legitimasi sejarah dan ilmiah, bahwa antara NU dan pertanian adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.
 
 

Sebab, tidak akan bisa terwujud national resilience (ketahanan nasional), jika tidak ditopang dengan food resilience (ketahanan pangan). Dan ketahanan pangan adalah pintu menuju terwujudnya kedaulatan pangan (food sovereignty).

Menguatkan kaum tani

Muktamar kali ini, mengambil tema "Satu Abad NU, Kemandirian Dalam Berkhidmat Untuk Peradaban Dunia".

Sebuah tema yang secara bobot dan nilai akan lebih banyak mengarah pada bagaimana organisasi atau jam'iyah ini punya kesadaran lebih untuk memajukan ekonomi warganya. Dan hemat penulis, pertanian adalah salah satu pintu untuk menuju gerbang yang disebut kemandirian tersebut.

Sebab, warga NU pada dasarnya memang dari dulunya sudah gandrung dengan aneka usaha di bidang pertanian. Tinggal nanti kita perlu pertajam dan eksplorasi lebih tentang dari sisi mana kita perlu melakukan penguatan.

Jika diurai secara saksama, masyarakat kita perlu pencerahan dan inspirasi tambahan, bahwa dimensi pertanian itu bukan hanya soal budi daya atau on farm. Bukan hanya di hulu melainkan juga di hilir, yakni proses pascapanen atau off farm.

Nah, hilirisasi inilah yang sejatinya hari ini perlu digalakkan lagi, yakni bagaimana komoditas kita bisa dikemas dengan baik sampai menjadi "produk meja".

 
Sebab, warga NU pada dasarnya memang dari dulunya sudah gandrung dengan aneka usaha di bidang pertanian. Tinggal nanti kita perlu pertajam dan eksplorasi lebih tentang dari sisi mana kita perlu melakukan penguatan.
 
 

Presiden Jokowi pun sangat peduli pada sisi ini karena hanya dengan cara inilah produk dari komoditas kita bisa mendapatkan nilai tambah. Beliau terus menekankan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi, agar komoditas kita semakin kompetitif ketika berhadapan dengan pasar.

Artinya, kita perlu fokus dan gencarkan pada sisi pengolahan-pengolahan. Penelitian yang berorientasi pada kerja-kerja pascapanen pun perlu dikuatkan.

Agar antara produksi, distribusi, dan observasi berjalan seiring dan hal ini tentu saja akan berdampak langsung pada menggeliatnya pertanian kita. Sebab, relasi antara kaum santri dan tani adalah relasi yang konkret dan berkesinambungan.

Alhasil, menguatkan kaum tani sejatinya menguatkan civil society.

Organisasi kemasyarakatan yang melek akan pentingnya melakukan penguatan dari sisi kemandirian ekonomi anggotanya, akan mendapatkan berkah, yakni semakin kuat dan kokoh pula eksistensi organisasi tersebut.  ';

×