Gunung Semeru mengeluarkan guguran lava pijar terlihat dari Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi meminta warga di sekitar kawasan Gunung Semeru tetap waspada karena potensi erupsi Gunung | ANTARA FOTO/Umarul Faruq

Laporan Utama

12 Dec 2021, 03:02 WIB

Gunung Api dalam Alquran

Api yang berada di dalam laut itu pun menyala dan menjadi knalpot bagi bumi.

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Alam semesta beserta isinya merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang dinampakkan kepada manusia. Terjadinya gempa bumi hingga meletusnya gunung tak lepas dari kebesaran Allah yang patut dijadikan pengingat dan peningkat ketakwaan.

Dalam QS an-Naml ayat 88, Allah SWT berfirman, “Wa taral-jibaala tahsabuha jaamidatan wa hiya tamurru marrassahaabi, shun’allahilladzi atqana kulla syai’in. Innahu khabirun bimaa taf’alun.”

Yang artinya, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Pendiri Fath Institute Ustaz Amir Faishol Fath menjelaskan, pada hakikatnya alam semesta ini diciptakan oleh Allah dengan membangun sistemnya oleh gerak. Penggeraknya itu adalah api. Karena itu, dia menjelaskan, di dalam bumi terdapat api. “Jadi ya ‘knalpotnya’ itu adalah gunung-gunung api,” kata Ustaz Amir saat dihubungi Republika, Rabu (8/12).

Dia melanjutkan, sebagian gunung memang berada di bawah laut. Terkadang di bawah laut pun api juga dapat muncul sebagaimana yang termaktub di dalam Alquran.

Allah berfirman dalam QS  At-Tur ayat 6. “Wal-bahril-masjur.” Yang artinya, “Dan laut yang di dalam tanahnya ada api.” Ustaz Amir menjelaskan bahwa api-api yang berada di dalam laut itu pun menyala dan menjadi knalpot bagi bumi.

photo
Awan panas yang keluar dari kawah gunung Semeru terlihat dari desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (10/12/2021). Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat dalam laporan per enam jam, gunung Semeru masih berada di status Waspada (level 2) dengan aktivitas awan panas serta kegempaan sebanyak tiga kali dengan amplitudo 2-6 mm dan satu kali gempa vulkanik dalam. - (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Pengasuh Pondok Pesantren Fath Darut Tafsir ini menjelaskan, gunung-gunung yang ada di muka bumi merupakan pasak bumi sekaligus menjadi cerobong untuk mengeluarkan asap bumi. Menurut dia, bumi melakukan rotasi dengan berputar bergerak dalam porosnya untuk dapat hidup dan beraktivitas.

Jika tidak berputar, alam semesta akan hancur. “Jadi semua sistem alam semesta ini dibangun di atas gerak oleh Allah SWT,” kata dia.

Dalam QS an-Naba ayat 6-7, Allah berfirman, “Alam naj’alil-ardha mihaada. Wal-jibaaala awtaada,”. Yang artinya, “Bukankah Kami jadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”

photo
Gunung Semeru menyemburkan awan panas guguran di Kampung Renteng, Desa Sumberluwuh, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat (10/12). Gunung-gunung yang ada di muka bumi merupakan pasak bumi sekaligus menjadi cerobong untuk mengeluarkan asap bumi. - (Republika/Thoudy Badai)

Dalam Tafsir al-Mishbah, Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa lapisan padat kerak bumi dapat mencapai ketebalan sekitar 60 kilometer. Lapisan itu dapat meninggi sehingga membentuk gunung-gunung atau menurun menjadi dasar lautan dan samudera.

Keadaan itu dinilai dapat menimbulkan keseimbangan akibat tekanan yang dihasilkan oleh gunung-gunung yang terpasak di bumi. Keseimbangan tersebut  tidak mengalami kerusakan kecuali jika gunung-gunung musnah.

Menurut Prof Quraish, lapisan kerak bumi yang basah akan dikuatkan oleh gunung-gunung sebagaimana pasak yang menguatkan kemah.

photo
Gunung Semeru menyemburkan awan panas guguran di Desa Sumbermujur, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (10/12/2021). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat agar mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru dan tidak mendekat di area terdampak material awan panas karena suhunya masih tinggi . - (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Hikmah meletusnya gunung

Pakar ilmu Alquran KH Ahsin Sakho menjelaskan, adanya bencana di alam semesta merupakan pengingat. Bencana jika dilihat dari sisi kerusakan yang diakibatkannya, tentu saja tidak baik. Namun jika bencana gunung meletus itu menimpa orang Muslim dan dia mati karenanya, maka matinya tergolong syahid.

“Percaya bahwa ini adalah ujian, cobaan, dan juga pengingat dari Allah SWT. Bencana alam adalah peringatan agar kita dari waktu ke waktu harus selalu ingat dan siap sedia dalam menerima takdir Allah, dan harus sabar,” kata Kiai Ahsin.

Kiai Ahsin menjelaskan, bencana alam yang datang menimpa kepada manusia merupakan salah satu cara bagi Allah untuk memberikan peringatan dan pengujian kepada hamba-hamba-Nya.

Apakah dengan datangnya musibah seseorang masih akan tetap beriman, lepas beriman, atau justru semakin bertambah keimanannya.


×