Pilot memasuki pintu keberangkatan di Bandara Internasional Changi, Singapura, beberapa waktu lalu. | EPA-EFE/WALLACE WOON

Internasional

11 Dec 2021, 03:45 WIB

Singapura Deteksi Kasus Penularan Lokal

Singapura mendeteksi kasus pertama varian omikron yang tertular secara lokal.

SINGAPURA -- Singapura mendeteksi kasus pertama varian omikron yang tertular secara lokal. Perempuan berusia 24 tahun itu diidentifikasi sebagai seorang pegawai Bandara Changi, demikian diungkap pihak berwenang pada Kamis (9/12).

Orang tersebut, "Diperkirakan berinteraksi dengan penumpang yang transit dari negara yang terimbas omikron," kata pernyataan Kementerian Kesehatan Singapura. ia diketahui menderita varian omikron setelah menjalani tes rutin untuk karyawan. Ia juga sebenarnya sudah divaksin lengkap dan saat ini tanpa gejala.

Sedangkan kasus lainnya adalah seorang pelancong asal Jerman. Kedua orang tersebut telah mendapat vaksin penguat atau booster. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus Covid-19 varian omikron telah ditemukan di 57 negara. Peningkatan infeksi omikron terjadi di negara-negara Afrika bagian selatan, termasuk Zimbabwe.

Dalam laporan epidemiologi mingguannya pada Rabu (8/12), WHO mengungkapkan, mereka masih membutuhkan lebih banyak data untuk menilai tingkat keparahan penyakit yang disebabkan omikron. Data pun diperlukan guna menilai apakah varian tersebut dapat menurunkan kekebalan yang diciptakan vaksin.

“Bahkan jika tingkat keparahannya sama atau bahkan berpotensi lebih rendah daripada varian Delta, diharapkan rawat inap akan meningkat jika lebih banyak orang terinfeksi dan akan ada jeda waktu antara peningkatan kejadian kasus serta peningkatan kejadian kematian,” kata WHO.

Sementara, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, hingga saat ini varian baru virus Corona B.1.1.529 atau omikron belum terdeteksi di Indonesia. Namun, banyak pihak yang mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam mengidentifikasi varian baru Corona B.1.1.529.

Hal ini lantaran, whole genome sequencing (WGS) yang dianalisis Indonesia dibandingkan dengan negara lainnya dinilai lambat. Terlebih, semula hanya ada 12 laboratorium yang mampu melakukan WGS.

"Jadi omikron sampai saat ini sudah kita lakukan genome squencing masih belum teridentifikasi belum adanya omikron di Indonesia," kata Dante saat kunjungan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (10/12).

Walaupun belum terdeteksi, lanjut Dante, Kementerian Kesehatan tetap melakukan identifikasi terutama di daerah pintu masuk darat, laut, dan udara. "Dengan cara semua kasus yang PCR-nya positif dilakukan genome squencing. Memetakan gennya sehingga kita bisa tahu bahwa itu varian omikron atau bukan," ujar Dante.

Dalam kesempatan itu, Dante juga memastikan jumlah laboratorium yang mampu mendeteksi varian baru korona akan ditingkatkan menjadi 14 laboratorium. Tak hanya itu, pemerintah disebut akan menggencarkan metode baru mengidentifikasi varian omikron dengan melihat tes PCR S Gen Failure Test.

"PCR khusus yang namanya S Gen Failure Test itu akan mendeteksi, dengan menggunakan PCR kita bisa menentukan probable omikron dengan mengetahui posisi khusus di sequencing DNA RNA-nya dan tempat yang khusus bisa mengidentifikasi omikron," kata Dante.

Saat ini, metode itu juga sudah digunakan di setiap pintu perbatasan darat, laut maupun udara. "Sekarang, kita sudah punya 30 kit. Satu kit-nya sekitar 124 jadi sekarang kita sudah punya 3.000 lebih tes yang akan mengidentifikasi omikron dengan cara bukan WGS tapi RNA," kata dia.

Sebelumnya, beredar pemberitaan soal empat warga ber-KTP Jakarta yang dinyatakan terpapar virus korona varian omikron berdasarkan hasil tes Covid-19. Keempat orang tersebut disebut menjalani tes Covid-19 di Laboratorium Farmalab Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Namun, pernyataan tersebut diralat. Pihak Dinkes Kabupaten Bekasi menarik pernyataan yang dirilis tersebut.

Kasus enam provinsi

Juru Bicara Pemerintah Indonesia Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, kondisi kasus pada level nasional saat ini masih cukup terkendali. Namun, Satgas mencatat enam provinsi sempat mengalami kenaikan kasus harian yang cukup signifikan.

Salah satunya adalah Lampung yang mengalami penambahan kasus harian dari satu menjadi 18 kasus dalam empat hari. Kemudian Bangka Belitung mengalami kenaikan kasus harian dari 8 menjadi 15 kasus dalam dua hari.

Di DKI Jakarta terdapat penambahan kasus harian dari 41 menjadi 70 kasus dalam dua hari. Jawa barat mengalami kenaikan kasus dari 29 menjadi 83 kasus dalam 3 hari. Sedangkan di NTT terdapat penambahan kasus harian dari 3 menjadi 27 dalam tiga hari.

“Papua Barat mengalami penambahan kasus dari 4 menjadi 13 kasus dalam 5 hari,” kata Wiku saat konferensi pers, Kamis.

Selain itu, Satgas juga mencatat terjadi kenaikan angka reproduksi efektif atau Rt di sejumlah provinsi. Angka Rt ini menunjukan potensi penularan dalam suatu populasi.

Wiku mengatakan, naiknya angka Rt seharusnya menjadi alarm dini dalam penetapan langkah-langkah pengendalian kasus. Hingga saat ini, terdapat dua pulau yang telah mengalami kenaikan Rt yakni Pulau Jawa dari 0,95 pada 11 November 2021 naik menjadi 0,98 per 2 Desember.

Sedangkan di Pulau Sulawesi sebelumnya 0,95 pada 11 November menjadi 0,98 per 2 Desember. “Sayangnya naiknya angka Rt pada beberapa wilayah tidak dibarengi dengan kepatuhan akan protokol kesehatan,” ucapnya.


×