Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

09 Dec 2021, 03:30 WIB

Standar Kemuliaan

Sejatinya kekayaan maupun kemiskinan adalah ujian dari Allah bagi hamba-Nya.

OLEH ALVIAN IQBAL ZAHASFAN

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Sedangkan manusia, kalau diuji oleh Tuhannya lalu dimuliakan dan diberi kesenangan, maka ia akan mengatakan, Tuhanku telah memuliakanku. Tapi, kalau ia diuji lalu dibatasi rezekinya, maka ia akan mengatakan, Tuhanku telah menghinakanku.” (QS al-Fajr [89]: 15-16).

Dua ayat di atas menegaskan bahwa Allah menyalahkan orang yang beranggapan bahwa ukuran kemuliaan adalah kekayaan dan standar kehinaan adalah kemiskinan. Namun, sejatinya kekayaan maupun kemiskinan adalah ujian dari Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Kemuliaan seorang manusia di sisi Allah terletak pada ketakwaannya. Makin seseorang itu bertakwa, makin mulia ia di sisi-Nya. Makin seseorang itu berani maksiat kepada Allah, makin hina ia disisi-Nya. Takwa adalah mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi segenap larangan-Nya.

Kemuliaan dan ketakwaan dijelaskan oleh Allah dalam surah al-Fajr ayat 17-20, yaitu memuliakan anak yatim dengan cara tidak memakan hartanya dengan zalim dan tidak menghardiknya, justru menyantuninya, menyayanginya atau menjadi orang tua asuhnya.

Kemuliaan lainnya adalah memberi makan orang miskin (QS al-Fajr [89]:18). Kalau tidak mampu, cukup dengan mengajak orang lain agar mau memberi makan mereka. Jangan sampai menjadi penghalang orang lain memberi makan kepada orang-orang miskin.

Contoh kemuliaan yang lain, menurut Allah, adalah tidak memakan harta warisan dengan cara mencampuradukkan yang halal dan yang haram (QS al-Fajr 19). Seperti anak yang melaporkan ibunya karena diduga menggadaikan harta warisan. Atau, menuntutnya di pengadilan karena ingin buru-buru mendapatkan harta warisan. Atau, membunuh orang tua sebelum ajalnya tiba.

Di sisi lain, sumber kehinaan adalah mencintai dunia dengan cinta buta (QS al-Fajr 20), jika dibalik maka sumber kemuliaan adalah membenci dunia. Menurut kaum sufi dinilai bohong seseorang yang mengatakan “Aku cinta kepada Allah” sementara di hatinya tersimpan cinta kepada dunia. Karena mustahil ada dua cinta yang berlawanan dalam satu hati.

Nabi Isa AS bersabda, “Hubbuddunya ashlu kulli khatiah (Cinta dunia sumber petaka).” Nabi Muhammad menambahkan, “Dunia itu terlaknat, dan semua isinya terlaknat kecuali (empat): Zikrullah, segala sesuatu yang menghantarkan kepada ingat kepada Allah, orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang belajar.” (HR Ibnu Majah, No. 4112).

Sementara itu, kemulian dan kehinaan di mata manusia adalah kekayaan, pangkat dan jabatan. Makin tinggi seseorang memiliki tiga makhluk di atas, makin mulia di mata manusia materialisme. Makin ia tak punya apa-apa, makin hina ia di mata manusia materialisme.

Oleh karena itu, tak aneh jika sebagian orang ada yang memaksakan dirinya untuk punya barang bermerek nan mahal. Padahal, realitasnya ia tak mampu membelinya, ia belum membutuhkannya, atau lebih berguna uangnya untuk memenuhi kebutahan primernya.

Bukan kemuliaan sejati yang mereka peroleh justru tekanan dan himpitan karena hidup mengikuti apa kata orang, bukan apa kata Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam.


×