Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto (layar atas) bersama Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat (layar kanan Bawah) dan Head of Tokopedia Salam Garri Juanda | Prayogi/Republika

Ekonomi

08 Dec 2021, 10:28 WIB

Ruang Tumbuh Perbankan Syariah Masih Luas

Perbankan Syariah akan menyiapkan strategi untuk mengelola kelebihan likuiditas.

JAKARTA -- Ruang tumbuh bagi sektor perbankan syariah pada 2022 diperkirakan masih luas seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional.

Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indrastomo menyampaikan, industri perbankan syariah diperkirakan akan melanjutkan pertumbuhan positif pada 2022, baik dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) maupun penyaluran pembiayaan.

"Kinerja perbankan syariah utamanya didorong oleh pemulihan ekonomi, tren gaya hidup halal, serta kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan ekonomi syariah," kata Banjaran dalam BSI Market Outlook 2022, Selasa (7/12).

Menurut Banjaran, penanganan Covid-19 setelah gelombang kedua telah menunjukkan hasil positif. Hal itu tecermin dari kasus yang terus melandai, vaksinasi yang meningkat, dan keterisian kamar rumah sakit oleh pasien Covid-19 yang menurun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah melakukan pelonggaran Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sehingga ekonomi pada kuartal III 2021 kembali menggeliat.

"Insya Allah kalau kita melewati pekan ketiga dan keempat Desember ini tanpa adanya shock, pada Januari 2022 kita akan terbang sehingga kita bisa recovery seperti yang kita mau," ujarnya.

Banjaran mengatakan, pulihnya konsumsi, investasi, serta kinerja positif ekspor akan mendukung pemulihan ekonomi Indonesia pada 2022. Pertumbuhan PDB diperkirakan dapat kembali ke level sebelum pandemi, yakni di kisaran 5 persen.

Akan tetapi, meningkatnya risiko global, seperti mutasi varian Covid-19, inflasi, dan normalisasi kebijakan moneter global tetap perlu diwaspadai terhadap pemulihan ekonomi. Di sisi lain, untuk ikut serta menopang pergerakan ekonomi ke arah yang lebih positif, BSI berperan aktif dalam penyaluran pembiayaan ke sektor riil.

 

Hingga kuartal III 2021, BSI telah menyalurkan pembiayaan di sektor perdagangan besar dan eceran senilai Rp 14,72 triliun, sektor konstruksi Rp 13,74 triliun, sektor industri pengolahan Rp 9,75 triliun, sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar Rp 8,62 triliun, sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi sebesar Rp 4,64 triliun, dan sektor riil lainnya Rp 26,23 triliun. "Kami memang mendapatkan mandat menyalurkan dana bersubsidi untuk membantu recovery ekonomi," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro memproyeksikan ekonomi akan kembali bangkit secara bertahap ke level sebelum pandemi pada pertengahan 2022. Dengan catatan, tidak terjadi lagi gelombang Covid-19 dan pemerintah terus melanjutkan program pemulihan.

Ia memprediksi sektor yang akan pulih terlebih dahulu adalah kebutuhan dasar, seperti makanan dan minuman, durable goods, dan bahan bakar. Menurut dia, sektor di luar industri makanan dan minuman yang mulai bangkit akan menjadi indikator utama pemulihan. Hal tersebut mengindikasikan masyarakat Indonesia mulai percaya terhadap kondisi ekonomi yang semakin membaik.

Sementara itu, BSI akan menyiapkan strategi untuk mengelola kelebihan likuiditas. Tren pertumbuhan dana murah berupa tabungan masyarakat di BSI tumbuh positif sekitar 11,57 persen di tengah pandemi Covid-19. Itu menempatkan BSI berada di peringkat kelima perbankan nasional dari sisi tabungan.

"Ada tantangan kita untuk mengelola kelebihan likuiditas hampir Rp 70 triliun sekarang yang kebetulan didominasi oleh tabungan," kata Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho.

 
Ada tantangan kita untuk mengelola kelebihan likuiditas hampir Rp 70 triliun sekarang yang kebetulan didominasi oleh tabungan.
 
 

Hal itu menyebabkan cost of fund BSI bisa sangat kompetitif dan menawarkan pembiayaan-pembiayaan yang murah. Penghimpunan dana Tabungan Wadiah BSI mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni sekitar 16,22 persen (yoy) atau mencapai Rp 30,35 triliun.

Dengan pencapaian itu, Cahyo berkomitmen, BSI dapat berkinerja lebih baik dan melayani nasabah lebih baik. Dari survei yang dilakukan BSI, sebanyak 43 persen masyarakat Indonesia bersedia menggunakan jasa layanan perbankan bank syariah. Namun, baru sekitar 7 persen saja yang tergarap saat ini. Menurut dia, hal tersebut karena pelayanan dan produk bank syariah yang masih belum bisa memenuhi kebutuhan atau permintaan dari masyarakat.

"Bukan salah demand atau pasarnya, tapi sisi kami atau supply-nya yang belum bisa memenuhi kebutuhan mereka," kata Cahyo.


×