Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kiri) dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kanan) saat meninjau Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

08 Dec 2021, 03:55 WIB

Jokowi Janji Relokasi Warga Terdampak Erupsi Semeru

Warga berharap infrastruktur yang rusak segera diperbaiki.

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menyatakan pemerintah segera memutuskan tempat relokasi bagi warga yang terdampak letusan Gunung Semeru. Ada lebih dari 2.000 unit rumah yang harus direlokasi pasca-erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (4/12).

Presiden menyampaikan itu saat meninjau langsung daerah terdampak erupsi Gunung Semeru, di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12). "Segera kita putuskan di mana relokasinya dan saat itu juga akan segera kita bangun. Saya kira semua sudah siap," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, perbaikan infrastruktur di lokasi terdampak, termasuk relokasi rumah warga akan dilakukan setelah proses evakuasi selesai dan aktivitas Gunung Semeru telah mereda. Pemerintah akan memutuskan tempat relokasi yang aman untuk ditinggali warga kembali.

Saat ini, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan terkait masih berfokus pada proses evakuasi dan pencarian korban. Presiden memastikan, seluruh kekuatan yang ada dikerahkan dalam proses evakuasi.

"Saya datang ke lokasi untuk memastikan seluruh kekuatan yang kita miliki sudah berada di lapangan untuk pencarian korban, kemudian juga evakuasi," ujar Jokowi.

Presiden juga meninjau posko pengungsian di Lapangan Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang. Dalam kesempatan itu, Jokowi berdialog dengan sejumlah warga terdampak erupsi. Kepada Jokowi, para warga bercerita ketika erupsi terjadi dan bagaimana kondisi mereka saat ini.

"Enggak sampai satu menit itu Pak, langsung gelap. Sebelumnya ada pemberitahuan memang, 25 getarannya katanya dari pusat pemantauan," ujar seorang warga seperti dikutip dalam siaran pers Biro Pers Sekretariat Presiden, Selasa (7/12).

Seorang warga lainnya dari Dusun Kamar Kajang bercerita, sebelum kejadian mereka telah mendapatkan peringatan dari pos pemantauan melalui telepon genggam mereka. Namun, ia tidak menyangka jika erupsi yang terjadi ternyata lebih besar dari yang mereka perkirakan.

Seusai kejadian, warga terdampak sempat mengecek rumah mereka melalui jalur yang bisa dilewati. Seorang warga bercerita, erupsi Gunung Semeru telah menewaskan banyak ternak peliharaan. Para warga terdampak juga meminta agar infrastruktur yang rusak bisa segera diperbaiki.

photo
Kondisi bangunan yang rusak akibat longsoran material erupsi Gunung Semeru di area Jembatan Gladak Perak Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). Jembatan yang menghubungkan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang terputus akibat erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) lalu. - (Republika/Thoudy Badai)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta para pengungsi bersabar dan mengikuti arahan petugas untuk tetap bertahan sementara di pengungsian. Khofifah mengingatkan para pengungsi agar jangan dulu kembali ke rumah jika kondisi belum aman benar.

"Pemerintah sangat memahami bahwa tinggal di pengungsian tidak seperti di rumah sendiri. Tapi saya mohon untuk sementara waktu bersabar. Insya Allah, pemerintah sangat mempedulikan nasib warga terdampak bencana," ujarnya, Selasa (7/12).

Terkait wacana relokasi rumah warga, Khofifah mengatakan Pemprov Jawa Timur bersama Pemkab Lumajang telah mengomunikasikan wacana tersebut kepada Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, mengingat relokasi membutuhkan lahan yang cukup luas. Setelah lahan ada, lanjut Khofifah, nantinya Kementerian PUPR bersama Pemprov Jatim, Pemkab Lumajang, dan BNPB akan membangun rumah warga.

"Kami sampaikan, untuk bisa diusulkan lahan pada Perhutani. Pokoknya sebisa mungkin tidak jauh dari lokasi awal," ujar Khofifah.

photo
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjawab pertanyaan wartawan saat meninjau jembatan Gladak Perak yang terputus akibat longsoran material erupsi Gunung Semeru di Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12). - (Republika/Thoudy Badai)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, jumlah pengungsi meningkat menjadi 3.697 jiwa berdasarkan data per Selasa (7/12) pukul 12.00 WIB. Sehari sebelumnya, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 1.707 orang. Sedangkan korban jiwa 34 jiwa, bertambah dari hari sebelumnya yang 20 orang.

Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, jumlah pengungsi paling banyak terdapat di Kecamatan Candipuro yang berjumlah 1.136 jiwa. "Terkait dengan jumlah warga yang dinyatakan hilang dan luka, posko masih melakukan pemutakhiran data dan validasi," kata Abdul, kemarin.

Abdul menjelaskan, Gunung Semeru pada Selasa terpantau mengalami dua kali gempa letusan dan durasi gempa 55–125 detik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menginformasikan terjadi tujuh kali gempa guguran dengan durasi 50–120 detik.

Dia menyampaikan, ada beberapa rekomendasi PVMBG yang perlu diperhatikan masyarkaat terhadap aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Pertama, masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara-selatan.

Kemudian, mewaspadai awan panas guguran, guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Ia mengatakan, radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi untuk mengantisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Abdul mengatakan, saat ini ada 985 personel gabungan yang terlibat dalam operasi penanganan darurat di bawah kendali posko bencana. Para personel melakukan berbagai upaya penanganan darurat yang saat ini memfokuskan pada pencarian dan evakuasi serta pelayanan dasar warga terdampak.

Perbaikan Konektivitas 

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menyatakan siap menindaklanjuti instruksi Presiden Joko Widodo untuk mempercepat perbaikan infrastruktur dan merelokasi warga terdampak erupsi Gunung Semeru. Saat ini, PUPR berfokus memulihkan konektivitas yang terputus akibat bencana erupsi. 

Direktur Jenderal (Dirjen Bina Marga) Kementerian PUPR, Hedy Rahadian mengatakan, tugas pertama Kementerian PUPR adalah memastikan akses ke lokasi terdampak bencana bisa dilalui untuk kendaraan logistik, termasuk juga kebutuhan pengungsi. "Tugas kami adalah mendukung upaya tanggap darurat, pembersihan, termasuk sarana dan prasarana juga sudah didistribusikan," kata Hedy dalam keterangan tertulis, Selasa (7/12). 

Terkait relokasi warga, menurut Hendy, Kementerian PUPR dan para pemangku kepentingan terkait masih menunggu penentuan lokasi dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Sedangkan terkait pemulihan konektivitas, Hedy menyebut telah dilakukan langkah-langkah penanganan dengan mencari jalur-jalur alternatif untuk menghubungkan Lumajang-Turen-Malang yang putus akibat robohnya Jembatan Besuk Koboan.

Menurut dia, Kementerian PUPR akan membangun jembatan gantung dalam dua bulan ke depan untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua sebagai penghubung Kabupaten Lumajang dengan Malang Selatan. Jembatan ini juga didesain dapat dilalui ambulans untuk keadaan darurat.

photo
Relawan memasang penghalang pada jembatan Besuk Koboan atau biasa disebut Gladak Perak yang putus di Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (5/12/2021). Jembatan penghubung jalur Lumajang-Malang tersebut putus akibat diterjang lahar dingin usai gunung Semeru meletus. - (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

"Kami juga menyiapkan jalur alternatif ke arah selatan sepanjang dua kilometer yang dibangun oleh pemkab dan Kementerian PUPR membantu tujuh kilometer. Tetapi ini memang tidak bisa digunakan untuk kendaraan berat, hanya logistik ringan," katanya. 

Dia menambahkan, perbaikan permanen Jembatan Besuk Koboan yang berada di Ruas Jalan Nasional Turen-Lumajang akan membutuhkan waktu sekitar satu tahun.  "Pembangunan jembatan permanen dengan bentang 130 meter butuh waktu. Makanya kita buatkan dulu jembatan gantung yang bersifat sementara untuk pemulihan konektivitas," ujarnya.

Untuk mendukung kebutuhan pengungsi, Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur juga telah memobilisasi 10 unit hidran umum (HU) berkapasitas 2.000 liter, empat unit mobil tangki air (MTA) kapasitas 4.000 liter, serta bantuan lainnya. Alat berat juga sudah dikerahkan untuk mempercepat evakuasi korban dan pembersihan kawasan terdampak. 

Bantuan alat berat juga dikerahkan berbagai pihak, salah satunya oleh TNI. Sejumlah alat berat TNI Angkatan Darat (AD) telah tiba di Kabupaten Lumajang pada Senin (6/12). "Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa akan menambah gelar alat-alat berat TNI AD (selain gelar pasukan, tim kesehatan, tim dapur lapangan) untuk memperkuat BNPB melakukan tugas pokok dan fungsinya," kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Prantara Santosa, dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Senin.

Prantara menyebut, beberapa bantuan yang dikirim TNI untuk membantu korban erupsi Gunung Semeru, yaitu personel dan alat berat dari Yonzipur 10 yang ditempatkan di SDN Sumber Wuluh dan Polsek Candipuro. Kemudian, personel dan alat berat dari Yonzipur 5 yang diterjunkan di Desa Supit Urang. Adapun alat-alat berat yang dikirimkan terdiri atas empat unit backhoe loader, dua unit self loader,  satu unit dozer, dua unit bulldozer, dan delapan unit excavator.

Sumber : antara


×