Warga mengantre sebelum menaiki penerbangan Air France ke Prancis dari Bandara Internasional Tambo di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat (26/11/2021). Sejumlah negara di dunia menutup pintu kedatangan dari Afrika Selatan akibat merebaknya varian omikron. | (AP Photo/Jerome Delay)

Internasional

04 Dec 2021, 03:45 WIB

WHO: Asia-Pasifik Harus Siap Hadapi Omikron

Setiap negara dan setiap komunitas harus bersiap menghadapi lonjakan kasus baru omikron.

MANILA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, negara-negara Asia-Pasifik harus bersiap untuk menghadapi potensi lonjakan kasus Covid-19 varian omikron. Selain mempercepat dan memperluas cakupan vaksinasi, kapasitas perawatan kesehatan pun harus ditingkatkan.

"Pengendalian perbatasan dapat mengulur waktu, tapi setiap negara dan setiap komunitas harus bersiap menghadapi lonjakan kasus baru," kata Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, Takeshi Kasai, dalam konferensi pers virtual pada Jumat (3/12).

Dia menekankan, masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan tindakan perbatasan. "Yang terpenting adalah mempersiapkan varian ini dengan potensi penularan tinggi. Sejauh ini informasi yang tersedia menunjukkan bahwa kita perlu mengubah pendekatan kita," ujarnya. 

Terkait omikron, Takeshi mengatakan, negara-negara harus memanfaatkan pelajaran dan pengalaman saat menghadapi varian delta. Selain penerapan protokol pencegahan penularan, seperti mengenakan masker dan aturan jarak sosial, vaksinasi, terutama di kalangan rentan, harus ditingkatkan.

Sejumlah negara Asia sudah melaporkan kasus omikron pekan ini, antara lain Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan (Korsel), India, termasuk Australia. Mereka merespons penemuan itu dengan memperketat aturan perjalanan.

Omikron, yang pertama kali terdeteksi di Afrika bagian selatan, sudah dikategorikan sebagai variant of concern oleh WHO. Artinya, omikron lebih berbahaya dibandingkan Covid-19 versi awal. Saat ini para ahli sedang menghimpun data untuk menentukan seberapa menular dan separah apa gejala yang dapat ditimbulkan varian tersebut. 

Menteri Kesehatan Afrika Selatan Joe Phaahla mengungkapkan, negaranya memasuki gelombang keempat Covid-19 karena kemunculan omikron. Varian tersebut sudah ditemukan di tujuh dari sembilan provinsi negara tersebut. 

Menurut Phaahla, pada fase ini, fasilitas kesehatan di Afrika Selatan belum berada di bawah ancaman. Dia pun optimistis negaranya dapat mengendalikan penyebaran omikron, tanpa perlu menerapkan penguncian ketat. 

"Kami akan bisa mengelola gelombang keempat ini, kita bisa mengelola omikron. Alat dasar yang kita semua tahu. Kita masih bisa memiliki musim perayaan yang cukup sukses," ujar Phaahla. 

Sementara itu, Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyesalkan keputusan puluhan negara yang menerapkan larangan perjalanan terhadap negara-negara Afrika bagian selatan, menyusul penemuan varian omikron. Selain tidak adil dan tak ilmiah, dia menilai langkah itu merupakan bentuk “apartheid kesehatan”.

“Sebagai Afrika Selatan, kami berdiri teguh melawan segala bentuk apartheid kesehatan dalam perang melawan pandemi,” kata Ramaphosa saat berkunjung ke Pantai Gading pada Kamis (2/12).

Dia kembali mengingatkan, para ilmuwan di negaranya adalah yang pertama kali mendeteksi atau mengidentifikasi omikron. Oleh sebab itu, penerapan larangan perjalanan terhadap Afsel merupakan tamparan bagi keunggulan dan keahlian Afrika. 

“Larangan (perjalanan) ini akan menyebabkan kerusakan tak terhitung, khususnya pada industri perjalanan dan pariwisata, yang menopang bisnis serta mata pencaharian di Afsel dan kawasan Afrika (bagian) selatan,” ujar Ramaphosa.

WHO telah meminta negara-negara dunia mengkaji ulang penerapan larangan perjalanan dari negara-negara Afrika bagian selatan. WHO mengimbau agar keputusan terkait dengan penanganan pandemi didasarkan pada sains dan peraturan kesehatan internasional. 

Sumber : Reuters


×