BUMN Pangan menjadi kemudahan distribusi dan penyediaan pangan oleh negara. | ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

Nasional

03 Dec 2021, 08:04 WIB

Petani Melek Teknologi Kunci Ketahanan Pangan

Dengan melek teknologi, negara akan semakin mudah memberdayakan petani menuju ketahanan pangan

CIREBON — Para petani di Kabupaten Cirebon diajak untuk mempercepat proses tanam padi menggunakan alat mesin pertanian modern. Generasi muda pun diharapkan bisa berminat menjadi petani.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi, saat mengunjungi area persawahan di Desa Guwa Lor, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Kamis (2/12).

"Pertanian modern dengan melibatkan generasi muda menjadi tolok ukur kemajuan suatu negara," kata Harvick.

Harvick mengatakan, generasi muda harus bisa memahami bahwa sektor pertanian sesungguhnya sangat menjanjikan keuntungan. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi pertanian, pengawasan menjadi lebih mudah dilakukan.

Tidak hanya itu, proses pemasaran komoditas pertanian saat ini juga lebih mudah untuk dilakukan. Bahkan, bisa secara langsung menjangkau pembeli.

"Tidak usah khawatir soal pemasaran. Pemerintah bisa membantu, karena banyak cara untuk memasarkan. Jangan pernah anggap pemerintah tidak perhatian kepada petani," kata Harvick.

Sementara itu, Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, mengatakan, mayoritas warga di Desa Guwa Lor merupakan petani. Dia berharap, proses regenerasi di desa tersebut bisa berjalan dengan lancar. "Mudah-mudahan petani Kabupaten Cirebon bisa maju dan banyak," tutur Imron.

Dalam kesempatan sebelumnya, Imron mengakui, minat generasi muda di Kabupaten Cirebon untuk menjadi petani masih sangat rendah. "Masih ada anggapan kalau menjadi petani itu tidak menjanjikan. Akhirnya, mereka mencari pekerjaan lain," terang Imron.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Harvick Hasnul Qolbi (harvick.hqolbi)

Padahal, kata Imron, sektor pertanian ini bisa terus berkembang dan tetap eksis di tengah perkembangan zaman. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan alat pertanian modern. Dia pun  berharap, inovasi pengembangan pertanian dari pemerintah pusat bisa terus digulirkan.

Imron menambahkan, jika sektor pertanian ditinggalkan oleh generasi muda, dikhawatirkan bisa menimbulkan ancaman krisis pangan.

‘’Kalau pertanian ditinggalkan, kita semua akan makan apa. Saya keluarga tani dan sekarang mulai susah mencari buruh untuk macul (bertani),’’ cetus Imron.

Seperti diketahui, Kabupaten Cirebon selama ini menjadi lumbung beras nasional. Produksi padi rata-rata di Kabupaten Cirebon mencapai 545.269 ton gabah kering giling (GKG) per tahun. Produksi beras itu surplus rata-rata 90 ribu ton per tahun.

Holding BUMN Pangan

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) berharap induk atau holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan bisa terbentuk dalam satu bulan mendatang. Saat ini, proses yang sedang dilakukan adalah langkah pemerseroan untuk perusahaan-perusahaan pelat merah yang berbentuk perusahaan umum (Perum).

“Prosesnya sampai dengan hari ini (kemarin—Red) kita sudah melakukan pemerseroan untuk perusahaan-perusahaan BUMN pangan yang berbentuk Perum. Lalu, untuk proses merger antar- BUMN pangan rancangan peraturan pemerintah atau RPP-nya sudah ditandatangani Presiden (Joko Widodo) dan dalam satu bulan ke depan insya Allah akan terbentuk holding BUMN Pangan,” kata Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi di sela-sela kegiatan National Sugar Summit (NSS) di Jakarta, Rabu (1/12).

Arief mengatakan, terdapat delapan BUMN sektor pangan yang akan menjadi anak perusahaan dari RNI. Dengan demikian, total ada sembilan BUMN yang akan tergabung dalam holding BUMN pangan. Tujuan holding ini akan membuat ekosistem yang baru mulai dari hulu hingga ke hilir, diatur tata niaganya mulai dari tingkat petani dan nelayan, kemudian processing, logistik, pergudangan, sampai dengan distribusi ke konsumen.

“Tentunya, tujuan pembentukan holding BUMN pangan ini juga adalah inklusivitas petani dan nelayan. Jadi, kita sebagai BUMN diminta untuk menjadi lokomotif ekonomi nasional dan berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk swasta,” ujar Arief.

Menuju terbentuknya holding BUMN Pangan, National Sugar Summit (NSS) 2021 diselenggarakan di Jakarta. Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi mengatakan, NSS 2021 digelar untuk merespons berbagai kondisi dan dinamika yang dihadapi industri gula nasional saat ini. Mulai dari masalah kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan gula, tingginya impor, hingga penurunan ketersediaan lahan tebu.  

“Untuk merespons kondisi pergulaan nasional tersebut, Asosiasi Gula Indonesia (AGI) dan Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) kembali mengadakan acara NSS 2021 bekerja sama dengan RNI sebagai tuan rumah,” kata Arief. 

Melalui forum ini, Arief berharap akan lahir gagasan-gagasan baru yang dapat digunakan sebagai bahan bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam menyusun kebijakan pergulaan nasional. Hal itu sejalan untuk mendukung ketahanan pangan nasional melalui swasembada gula dan kemajuan industri gula Indonesia. 

Arief mengatakan, upaya peningkatan produksi gula terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik sisi teknis melalui peningkatan produktivitas, ekstensifikasi lahan, pengembangan pola kemitraan petani tebu, maupun perluasan keterlibatan kegiatan riset.

Arief menyebutkan, salah satu kolaborasi pembenahan industri gula yang baru-baru ini dilakukan adalah kerja sama yang dibangun antara RNI, PTPN III, dan Perhutani dalam menyiapkan tata kelola budidaya tebu melalui sinergi dengan Pupuk Indonesia, BRI, Jasindo, dan Askrindo dalam program Makmur.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, ia bertanggung jawab sebagai penyeimbang pasar dalam memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Termasuk peran dan kontribusi BUMN dalam ketahanan pangan dan swasembada gula. “Keseimbangan, itulah yang saya tekankan ketika mengonsolidasikan pangan yang ada di BUMN dan cukup berat tantangannya,” ujar Erick.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Akun resmi Kementerian BUMN RI (kementerianbumn)

Erick mengatakan, demi mewujudkan keseimbangan tersebut, BUMN yang bergerak dalam industri pangan harus terus di-upgrade dan mengedepankan kolaborasi. Ia kemudian menyinggung dua perusahaan pelat merah yang menjadi motor penggerak di industri gula nasional, yaitu RNI dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN). 

Erick menekankan, dalam mewujudkan keseimbangan pada sektor pangan, BUMN tidak boleh menjadi menara gading dan harus berani terbuka membangun kolaborasi. “Jangan semua mau diambil. Kita harus kolaborasi, dengan swasta, dengan petani, dengan semua pihak. Untuk keseimbangan,” kata Erick menambahkan. 

Erick berharap NSS 2021 dapat menghasilkan keputusan-keputusan konkret yang dapat membawa perubahan transformatif bagi industri gula. Ia memastikan transformasi BUMN sektor pangan akan terus terjadi. 

Berdasarkan data Kementerian BUMN, dari 2,3 juta ton produksi gula nasional pada 2021, Pabrik Gula (PG) BUMN yang dikelola oleh RNI dan PTPN Holding Perkebunan berkontribusi sekitar 1 juta ton atau 46 persen dari total produksi nasional. PTPN dan RNI memiliki total 40 PG operasional dengan kapasitas 146 ribu ton cane per day (TCD) dan total lahan 197 ribu hektare.

Sumber : Antara


×