Sejumlah santri menyelesaikan pembuatan lampu listrik mandiri rakyat (Limar) di Pondok Pesantren Darul Hidayah, Batununggal, Kota Bandung, Selasa (16/11/2021). Dalam satu bulan, santri di pesantren tersebut memproduksi sebanyak 500 lampu untuk disebar ke | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

02 Dec 2021, 03:45 WIB

Pesantren, PT, dan Transformasi

Universitas yang berada di bawah naungan pondok memiliki modal sosial yang kuat.

AHMAD SAHIDAH; Kepala Staf Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Jawa Timur

Pondok pesantren adalah lembaga tertua dalam sejarah pembelajaran, pengajaran, pendidikan di Tanah Air. Dalam sejarah perkembangannya, institusi ini menghadapi tantangan internal dan eksternal dalam menyesuaikan dengan tuntutan zaman.

Sebagai badan yang mengusung misi utama menyuburkan ilmu keagamaan, lembaga ini menerima gagasan dan menyongsong tantangan baru untuk mewujudkan kemaslahatan lebih luas bagi keumatan dan kemanusiaan.

Keberhasilan pondok mengelola sistem pengajaran didasarkan pada pada pemahaman autentik, ketundukan pada Tuhan merembes pada perilaku sehari-hari.

Dalam sejarah awalnya, lembaga pendidikan ini berkehendak menjadi pusat kajian ilmu keislaman, yang dulu terbatas pada ilmu-ilmu klasik seperti ilmu tauhid, tafsir, balaghah, tafsir, ushul fikih, fikih, dan hadis.

Namun, Kiai Hasyim Asy’ari memperbarui kurikilum dengan menambahkan bahan ajar umum seperti bahasa dan matematika. Akhirnya, institusi ini tak membatasi pada jurusan agama, malah menambah jurusan umum untuk menyesuaikan dengan zaman.

 
Keberhasilan pondok mengelola sistem pengajaran didasarkan pada pada pemahaman autentik, ketundukan pada Tuhan merembes pada perilaku sehari-hari.
 
 

Menyahut tantangan itu, Pondok Pesantren Nurul Jadid membuka universitas dengan berbagai program umum seperti ekonomi, keperawatan, dan teknik informatika. Itu membuktikan pondok tak alergi terhadap perubahan.

Dari ikhtiar ini, adakah perguruan tinggi (PT) di pondok bisa bersaing dengan Universitas Harvard, Cambridge, Oxford, dan Duke? Bagaimanapun, Harvard melahirkan enam presiden AS  dan selalu di papan atas pemeringkatan merupakan jaminan mutu alumninya.

PT ternama ini, yang dulu terkait pendidikan asrama Kristen, sejatinya tak berbeda jauh dengan PT yang kini dikelola pesantren. Namun, pesona pada kejayaan universitas ternama itu tidak kemudian melihat masalah secara cermat.

Seperti diulas pengamat, ijazah Harvard bukan satu-satunya penentu keberhasilan menggerakkan perubahan tetapi kepemimpinan dan pengalaman kuat mesti dimiliki agar kecerdasan itu berfungsi. Lalu, apakah Harvard itu sekolah bisnis yang baik? Ya.

Nassim Taleb menegaskan, citra Harvard itu seperti ilusi tubuh perenang (swimmer’s body illusion). Kita sering merancukan antara faktor pemilihan dan hasil. Perenang profesional tak memiliki tubuh sempurna karena mereka berlatih sungguh-sungguh.

Bagaimanapun tubuh mereka dibentuk adalah faktor pemilihan dan bukan hasil aktivitas mereka. Lalu, apa sejatinya roh pendidikan tinggi di pondok? Secara falsafah, kita mewarisi ide tokoh-tokoh pemikir yang meletakkan dasar dan arah pendidikan bangsa ini.

 
Pendek kata, tanpa terpukau pemeringkatan universitas, para civitas academica memiliki fondasi untuk membangun negeri dengan menimbang dan mengutamakan kemanfaatan kerja akademik bagi umat.
 
 

Tridharma PT yang menekankan kerja akademik, seperti pengajaran-pembelaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat telah memenuhi ontologi, epistemologi, dan aksiologi pendidikan.

Pendek kata, tanpa terpukau pemeringkatan universitas, para civitas academica memiliki fondasi untuk membangun negeri dengan menimbang dan mengutamakan kemanfaatan kerja akademik bagi umat.

Di pesantren, selain mengacu dasar pendidikan nasional juga nilai kepesantrenan yang luhur dan semangat pengabdian. Institusi pendidikan di pondok tak bisa dilepaskan dari misi suci, yakni mencerdaskan kehidupan berbangsa dan mewujudkan kemandirian.

Mencermati usaha merealisasikan misi tersebut, secara periodik, Universitas Nurul Jadid (Unuja) menyelenggarakan kegiatan untuk menyuburkan dunia intelektual, spiritual, dan pengabdian.

Pendek kata, warga universitas menggodok program-program terkait pengajaran dan pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk kerja lapangan sebagai puncak pergulatan pemikiran di kampus.

Meski diskusi dalam ruangan tetap dilakukan, warga kampus membaktikan pengetahuan untuk pemberdayaan, seperti proyek pompa hidrolik, pembuatan pakan ternak, dan pendampingan pengelolaan ikan nelayan sekitar pondok.

Pelibatan pemda, dunia industri, aktivis, dan pelaku usaha tentu menghadirkan perspektif lain tentang kaitan pengetahuan dan pekerjaan atau dikenal dengan pentahelix.

 
Dengan penguatan metodologi pengajaran dan pembelajaran, penelitian berbasis kepentingan khalayak dan akhirnya pengejawantahan keduanya dalam pengabdian di tengah masyarakat luas, sejatinya PT telah berada di landasan ideal.
 
 

Bagaimanapun, keterkaitan dunia usaha tak dipandang sebagai pragmatisme pendidikan dan cengkeraman neoliberalisme terhadap PT, seperti dikhawatirkan Henry Giroux. Justru, lulusan PT mesti mengantongi roh ilmu.

Sehingga kehadirannya di dunia kerja bukan sekadar ikhtiar mengumpulkan modal yang buta tetapi memberikan manfaat pada khalayak. Di sini, universitas yang berada di bawah naungan pondok memiliki modal sosial yang kuat.

Sebab, hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat tak hanya bersifat transaksional, tetapi juga spiritual.

Dengan penguatan metodologi pengajaran dan pembelajaran, penelitian berbasis kepentingan khalayak dan akhirnya pengejawantahan keduanya dalam pengabdian di tengah masyarakat luas, sejatinya PT telah berada di landasan ideal.

Jadi, transformasi itu telah dilakukan seraya selalu melakukan evaluasi agar kebermanfaatan pondok dan universitas dirasakan warga secara utuh. 


×